Skip to content

Serpih Perang Dunia II dalam Valkyrie

December 7, 2009

You did not bear the shame you restricted sacrificing your life for freedom, justice, and honor. 
From the German Resistance Memorial, Berlin

Dari sekian banyak jenis film, saya kira film perang merupakan salah satu film yang bisa dikategorikan sebagai film semi-dokumenter. Memang ada persyaratan lain untuk kategori tersebut. Selain mengedepankan aspek peristiwa sejarahnya, film perang itu juga harus minim dramatisasi.

Salah satu film perang yang paling banyak dibuat mungkin adalah film mengenai Perang Dunia. Meskipun hampir tidak pernah menyaksikan film berlatar Perang Dunia I (kalaupun ada, saya sudah lupa judulnya), ternyata banyak sekali film berlatar demikian (silakan kunjungi Wikipedia untuk melihat daftarnya). Sementara itu, ada banyak pula yang mengangkat Perang Dunia II. Sebut saja ”The Flag of Our Country”, ”Letters from Iwo Jima”, ”Tora, Tora, Tora”, ”Pearl Harbour”, atau serial ”The Band of Brothers”. Dan kedalam bilangan ini, kita bisa tambahkan lebih banyak film lagi, termasuk ”Valkyrie”.

Read more…

Advertisements

Perjuangan Kaum Imigran dalam “Shinjuku Incident”

September 25, 2009

Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang menjadi negeri tujuan bagi banyak warga negara dunia. Negara-negara Asia Tenggara, Cina, Korea, bahkan negara seperti Amerika Serikat turut mengagumi negeri ini. Khusus Cina dan Korea, agak unik memang karena pada satu sisi mereka sangat membenci Jepang karena melakukan invasi dalam Perang Dunia II. Namun, mereka malah menyukai Jepang karena budaya populer yang berkembang.

Daya tariknya tentu tidak sebatas budaya populer. Banyak orang yang berniat ke Jepang untuk mendapatkan kesuksesan hidup: berusaha mendapat pekerjaan dan penghasilan yang baik. Sebagian melalui jalur resmi, sementara banyak pula yang masuk lewat jalur ilegal. Data dari pihak imigrasi menyebutkan, lebih dari 4.000 orang Cina masuk ke Jepang secara ilegal dalam lima tahun dan satu setengah tahun terakhir (Migration News, 1994). Kebanyakan mereka diselundupkan.

Read more…

Dunia Fantasi Inkheart

September 14, 2009

The written words. It’s a powerful thing.You have to be careful with it.

Mungkin banyak orang yang akan mengingat kisah Alice’s Adventure in Wonderland begitu mendengar frasa ”dunia fantasi”. Cerita klasik yang berlanjut dengan Through the Looking-Glass itu ditulis oleh Charles Lutwidge Dodgson (1832-1898) yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll. Karya Carroll tersebut mengisahkan petualangan Alice di negeri ajaib yang diawali dengan upayanya mengejar seekor kelinci putih. Dan kisah Alice hanya salah satu dari sekian banyak cerita fantasi yang pernah ada.

Kepopuleran dongeng-dongeng dan cerita-cerita fantasi lain mendorong industri perfilman mengangkatnya ke layar lebar, entah dalam bentuk animasi, pun dalam bentuk live action. Selain Alice’s Adventure in Wonderland karya Lewiss Carroll, karya-karya H.C. Andersen pun turut difilmkan. Belum lagi The Chronicle of Narnia karya C.S. Lewis.

Read more…

Departures: The Gift of the Last Memories

September 10, 2009

Departures

Mencintai pekerjaan adalah hal yang sangat penting. Jika tidak mencintainya, sebagus apa pun gaji yang ditawarkan, tentu tidak akan membuat kita bahagia. Namun, apa jadinya kalau kita malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat kita cintai?

Mungkin begitu kira-kira perasaan Kobayashi Daigo ketika orkestra tempatnya bergabung terpaksa dibubarkan. Sebagai pemain cello, ia sangat senang berada bersama orkestra tersebut. Ia sendiri baru saja membeli sebuah cello seharga 18 juta yen. Sayangnya, dari sekian pertunjukan yang mereka bawakan, tidak banyak yang mau menyaksikan pertunjukan mereka. Pemilik orkestra pun terpaksa membubarkan kelompok orkestranya. Dan bagi Daigo, hal ini berarti bencana.

Tidak seperti dugaan saya sebelumnya, film ini sama sekali tidak berhubungan dengan dunia orkestra. Sebaliknya, dunia musik itu hanya sebagai pelengkap dari film ini. Musik menjadi bagian dari masa lalu dan masa kini Kobayashi Daigo, sesuatu yang bergeser dari profesi ke hobi.

Read more…

Blood: Jeon Ji-hyeon in Action Mode

August 25, 2009

Berawal dari abad ke-16, Perang Onin yang membawa perang di seluruh Jepang memorak-porandakan Negeri Sakura itu. Lalu para iblis, mengambil rupa seperti manusia, hidup di tengah-tengah manusia hanya dengan tujuan memangsa mereka. Seorang samurai pemberani bernama Kiyomasa bangkit dan menjadi pemburu iblis. Sampai iblis tertua dan terkeji, Onigen, membantainya dengan brutal.

Beradab-abad berlalu sejak masa itu. Kegelapan pun kembali menguasai Jepang. Dan seperti pada masa lampau, muncul samurai misterius yang juga memburu para iblis itu. Ia bekerja sama dengan kelompok rahasia yang disebut The Council. Tujuannya hanya satu, memburu Onigen.

Jalan cerita
Begitulah kira-kira pengantar pada bagian pembuka film ini. Film yang mengisahkan tentang para vampir ini berseting di sebuah pangkalan militer AS di Jepang, pada tahun 1970. Ternyata tanpa diketahui orang banyak, Jepang telah diinvasi oleh para vampir. Adalah Saya, gadis setengah manusia, setengah vampir yang berperan sebagai pembasmi vampir. Dengan samurainya, ia bekerja sama dengan kelompok rahasia, The Council untuk mencapai tujuannya, mengalahkan Onigen yang telah membunuh ayahnya.

Read more…

Beautiful Sunday: Sebuah Pergulatan Psikologis

July 21, 2009

Rasanya ada banyak film yang berkisah tentang polisi korup. Sebut saja misalnya, ”Public Enemy”. Dalam film tersebut dikisahkan Detektif Kang Chul-joong (Seol Kyung-gu) sebagai tokoh yang antihero, mencuri obat bius dari para pengedar, menyuap sana-sini, bahkan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ayah. Film ini pun salah satu yang bisa kita kategorikan ke dalamnya. Lalu apa istimewanya film ini?

Bagi penggemar film laga, saya kira film ini cukup memuaskan mereka. Berbagai adegan laga sangat menghias film ini, sebagaimana umumnya film-film yang bertema mafia, dan film-film laga lain. Otomatis sumpah serapah menjadi satu paket dengannya. Dengan demikian, film ini jelas tidak cocok ditonton oleh mereka yang belum dewasa.

Jalan cerita
Bagian awal film ini mungkin terkesan terlalu mendadak ditampilkan di awal. Meskipun demikian, justru adegan tersebut menjadi pembuka yang tepat untuk jalan cerita yang hendak dipilih oleh sang sutradara.

Sepertinya, sang sutradara ingin berkata, ”Nah, begini ini klimaksnya. Mau tahu bagaimana ceritanya sampai hal ini terjadi? Ikuti ceritanya.” Read more…

Miryang: Ketika Iman Bertemu Realita

June 26, 2009

Kalau Anda penggemar film Korea, sesekali Anda mungkin akan menemukan penggunaan simbol-simbol maupun dialog-dialog Kristen pada sejumlah film. Dalam ”Beautiful Sunday”, misalnya, Detektif Kang digambarkan berdoa sambil mabuk di tengah hujan di hadapan figur Bunda Maria. Dalam film ”Jail Breakers”, karakter yang diperankan oleh Cha Seung-won menuturkan bagaimana ia menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya.

Namun, kita agak sulit menyebutkan film-film itu sebagai film yang bertema religius Kristen. Sebab daripada mengisahkan perihal kekristenan, film-film tersebut lebih banyak berbicara soal kondisi psikologis (”Beautiful Sunday”) dan upaya mendapatkan kebebasan (”Jail Breakers”). Tentu terlepas dari simbol-simbol yang digunakan dalam film-film tersebut.

Read more…