Skip to content

Perjuangan Kaum Imigran dalam “Shinjuku Incident”

September 25, 2009

Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang menjadi negeri tujuan bagi banyak warga negara dunia. Negara-negara Asia Tenggara, Cina, Korea, bahkan negara seperti Amerika Serikat turut mengagumi negeri ini. Khusus Cina dan Korea, agak unik memang karena pada satu sisi mereka sangat membenci Jepang karena melakukan invasi dalam Perang Dunia II. Namun, mereka malah menyukai Jepang karena budaya populer yang berkembang.

Daya tariknya tentu tidak sebatas budaya populer. Banyak orang yang berniat ke Jepang untuk mendapatkan kesuksesan hidup: berusaha mendapat pekerjaan dan penghasilan yang baik. Sebagian melalui jalur resmi, sementara banyak pula yang masuk lewat jalur ilegal. Data dari pihak imigrasi menyebutkan, lebih dari 4.000 orang Cina masuk ke Jepang secara ilegal dalam lima tahun dan satu setengah tahun terakhir (Migration News, 1994). Kebanyakan mereka diselundupkan.

Tingkat kedatangan imigran gelap ini juga bertambah. Migration News (1994), misalnya, menyebut pada tahun 1990, 18 orang Cina datang dalam dua kelompok; pada 1992, sebanyak 396 tiba di Jepang dalam 14 kelompok; tahun 1993, 335 orang tiba dalam 7 kelompok. Lalu antara Januari dan Mei 1994, 250 imigran gelap Cina tiba di Jepang. Pada tahun 2006, diperkirakan ada lebih dari 200.000 imigran gelap di Jepang, dan kebanyakan dari Cina, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Amerika Latin (Yale Center for the Study of Globalization, 2006).

Namun, daripada mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik, justru sebaliknyalah yang terjadi. Kebanyakan mereka tidak dapat bekerja secara legal karena status mereka yang ilegal. Mereka terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak akan dilakukan oleh kebanyakan orang. Jenis pekerjaannya disebut 3-D: pekerjaan yang dirty, dangerous, dan difficult.

”Shinjuku Incident”
Film ”Shinjuku Incident” merupakan cermin kehidupan para imigran gelap, khususnya yang berasal dari Cina daratan, di Jepang. Meskipun tampaknya tidak dibuka dengan urusan imigrasi ini, toh keseluruhan film ini mungkin bisa disebut representasi kehidupan perantauan Cina daratan di Jepang. Mereka yang datang lewat jalur ilegal itu digambarkan menghadapi kerasnya kehidupan: melakukan pekerjaan kasar dengan pendapatan yang tidak seberapa.

Dikisahkan Kepala Besi (ya, entah kenapa nama yang dipilih justru Kepala Besi; tampaknya ini terjemahan harfiah dari nama dalam bahasa Putonghoa), berangkat ke Jepang sebagai seorang imigran gelap. Tujuannya cuma satu: menemukan kekasihnya.

Sebagai imigran gelap, ia tentu kesulitan menghadapi kehidupan yang berat di Tokyo. Namun, komunitas perantauan ternyata menampung dan menolongnya mendapatkan pekerjaan. Tentu saja dalam status mereka sebagai imigran gelap, tidak ada pekerjaan legal yang bisa mereka peroleh. Namun, nasib yang sama ini mempersatukan mereka. Terbukti dalam beberapa peristiwa, mereka saling membantu.

Tujuan Kepala Besi untuk menemukan kekasihnya pada akhirnya memang tercapai. Sayangnya, sang kekasih kini telah menjadi istri seorang Jepang yang juga seorang mafia dari organisasi besar Sanwa Kai. Ini menjadi titik balik dari hidupnya.

Kepala Besi pada dasarnya adalah orang yang baik. Terbukti ia merasa tidak nyaman melakukan perbuatan yang tidak benar. Terdorong kerinduan untuk menolong sesama orang Cina, ia banting setir dan berubah menjadi penjahat kecil bersama teman-temannya. Hal inilah yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupnya dan membuatnya harus berhadapan dengan para mafia, baik mafia Taiwan maupun Yakuza.

Kompleksitas Masalah
Film ini menggambarkan keruwetan kehidupan para imigran ilegal. Pada satu sisi, mereka berusaha menggapai kehidupan yang lebih baik. Pada sisi lain, mereka selalu dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak dapat memiliki pekerjaan yang layak. Mereka harus rela memilah-milah sampah, tertimbun sampah, bekerja di gorong-gorong yang bau, dan masih harus kucing-kucingan dengan aparat.

Fakta yang sesungguhnya, para pendatang memang sering dianggap sebagai warga kelas dua. Bahkan yang datang secara legal pun belum tentu mendapat kesempatan bekerja. Setidaknya, hal itu pernah dialami seorang kenalan saya, yang belakangan terpaksa kembali ke Indonesia karena tak kunjung mendapat pekerjaan.

Dalam film ini, Kepala Besi memang berhasil mendapatkan pengaruh. Setelah menolong Eguchi, dan memenuhi permintaannya, Kepala Besi berhasil mendapatkan posisi dalam dunia gelap itu. Namun sebagai pendatang, ia masih harus berhadapan dengan pandangan sinis anggota mafia Jepang lain. Nakajima, bawahan Eguchi terang-terangan menyatakan kebenciannya pada Kepala Besi dan teman-temannya.

Keberhasilan itu ternyata menjadi berkat sekaligus mendatangkan masalah. Untuk sementara, Kepala Besi berhasil menjaga stabilitas di daerah yang didominasi oleh para pendatang dari Cina. Ia menganggap semua pengusaha di wilayahnya sebagai saudara.

Sayangnya, sikap Kepala Besi ini tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain. Setelah sekian lama, kekayaan yang didapat secara tidak halal itu mendatangkan bencana. Godaan untuk mendapatkan lebih banyak lagi mendorong teman-teman Kepala Besi untuk menjalankan bisnis ilegal daripada menjalankan hal yang legal sebagaimana diharapkan Kepala Besi. Dan hal ini ternyata menjadi salah satu strategi Eguchi untuk melemahkan posisi kelompok Kepala Besi.

Trik dan intrik mafia
Meskipun terbilang banyak aksi penuh kekerasan, toh kita bisa menikmati sisi sentimentil Jackie Chan. Saat saudaranya, A Jie menderita karena tangannya dipotong oleh bos geng Taiwan, ia menangis. Dan adegan ini bukan karena akting, melainkan karena ia benar-benar merasakan kepedihan yang sesungguhnya sehingga air mata yang ia teteskan benar-benar air mata sungguhan.

Namun, bagian itu hanya menjadi segelintir adegan menyentuh dalam film ini. Sebab kita malah lebih banyak menemukan berbagai trik-intrik dunia mafia di Jepang. Perebutan daerah kekuasaan, intimidasi dengan kekerasan, perebutan posisi dan pengaruh, semua itu digambarkan di sini. Saling memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan menjadi hal lumrah, dan itu digambarkan di sini. Eguchi memanfaatkan Kepala Besi untuk mengamankan posisinya, sementara Kepala Besi memenuhi permintaan Eguchi untuk mendapatkan status legal dan mendapatkan wilayah demi membantu sesama orang Cina. Penasihat Sanwa Kai memanfaatkan kebencian Nakajima terhadap kelompok Kepala Besi untuk menyingkirkan atasannya sendiri, Eguchi.

Penampilan baru
Jackie Chan hadir dalam nuansa yang sangat baru di sini. Untuk pertama kalinya kita mendapati dirinya sebagai seorang penjahat. Untuk pertama kalinya kita melihatnya membunuh. Untuk pertama kalinya juga kita melihatnya tidak sebagai seorang jago bela diri yang berdiri tegak sampai pada akhir cerita.

Yang terakhir ini terlihat jelas dalam berbagai adegan. Kita tidak akan melihat aksi berkelitnya yang khas. Atau kebiasaannya untuk memanfaatkan gerakan-gerakan musuh dan benda-benda di sekitarnya untuk membela diri.

Meskipun demikian, bukan berarti adegan-adegan yang harus dilakoni Jackie tidak menyita stamina. Ia harus berlari, harus berusaha berkelit dari sabetan berbagai senjata. Meskipun memang porsinya sepertinya sudah berkurang jauh ketimbang berbagai filmnya terdahulu. Maklum, usia juga turut menggerogoti dirinya. Hal ini tergambar jelas pada wajahnya. Sehingga agak aneh bagi saya melihat ia bersanding dengan aktris yang masih muda; perbedaan usia itu tampak jelas.

Nilai-nilai
Nilai persahabatan sangat kental dalam film ini. Perasaan senasib memang membuat orang lebih mudah untuk bersatu dan saling bantu. Kehidupan yang sama-sama susah, membuat para imigran gelap itu tidak segan menolong yang lain. A Jie yang cenderung penakut, sama sekali tidak bisa mengikuti teman-temannya yang melakukan tindak kriminal kecil-kecilan. Namun, teman-temannya rela menyisihkan uang dan membelikan gerobak untuk usaha yang ia idam-idamkan.

Salah satu ucapan bijak kita peroleh dari Xiang Xiang yang kini telah menjadi Eguchi Yuko. ”Manusia harus belajar untuk merasa cukup.” Bukankah manusia sering merasa tidak pernah cukup? Setelah mencapai sesuatu, manusia selalu menginginkan hal yang lain. Dan secara sederhana film ini mengajarkan kita juga untuk merasa cukup guna mencegah kita melakukan hal-hal yang buruk.

Kita juga melihat itikad baik Kepala Besi untuk menolong sesama imigran. Sayangnya, jalan yang ia tempuh justru merupakan jalan yang ilegal. Setelah keadaan membaik, teman-temannya malah terjerumus dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Sampai akhirnya, ia harus berhadapan dengan teman-temannya sendiri. Seruannya kepada teman-temannya untuk berbalik dari praktik penjualan obat bius tidak dipedulikan.

Pada satu sisi, tindakan Kepala Besi itu memang tampak baik. Semula ia diajak untuk meninggalkan dunia gelap itu dan memulai hidup baru di Amerika Latin bersama kekasihnya. Namun, ia lebih memilih memperhatikan teman-temannya. Ini dapat kita anggap sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sayangnya, niatnya ini tidak disambut baik. Malah, pada akhirnya ia harus kehilangan nyawanya sendiri.

Secara keseluruhan, film ini tidak terlalu istimewa. Tidak ada hal yang baru dari segi plot yang digunakan. Kita memang melihat peran baru Jackie Chan. Namun, dari segi jalan cerita, tidak terlalu istimewa, terutama bila dibandingkan dengan film-film bertema mafia lainnya. Nilai-nilai yang ditawarkan memang cukup bagus, tapi kita tetap mesti bijaksana dalam memilahnya.

Satu hal yang rasanya akan sulit ditangkap penonton ialah adegan duel terakhir. Ketika itu kelompok Nakajima berniat menyerbu geng yang dipimpin Kepala Besi, sekaligus membunuh Eguchi. Pertarungan pada bagian ini terkesan gelap. Mungkin pengambilan gambar sengaja dilakukan demikian, mengingat gedung tempat peristiwa berlangsung memang remang-remang. Namun, rasanya jelas tidak nyaman. Namun, sejumlah adegan laga lainnya akan sangat menghibur para penggemar film laga.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: