Skip to content

Miryang: Ketika Iman Bertemu Realita

June 26, 2009

Kalau Anda penggemar film Korea, sesekali Anda mungkin akan menemukan penggunaan simbol-simbol maupun dialog-dialog Kristen pada sejumlah film. Dalam ”Beautiful Sunday”, misalnya, Detektif Kang digambarkan berdoa sambil mabuk di tengah hujan di hadapan figur Bunda Maria. Dalam film ”Jail Breakers”, karakter yang diperankan oleh Cha Seung-won menuturkan bagaimana ia menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya.

Namun, kita agak sulit menyebutkan film-film itu sebagai film yang bertema religius Kristen. Sebab daripada mengisahkan perihal kekristenan, film-film tersebut lebih banyak berbicara soal kondisi psikologis (”Beautiful Sunday”) dan upaya mendapatkan kebebasan (”Jail Breakers”). Tentu terlepas dari simbol-simbol yang digunakan dalam film-film tersebut.

Maka muncul pertanyaan, adakah film Korea yang menggambarkan pergumulan iman Kristen masyarakatnya? Pertanyaan ini rasanya sah-sah saja muncul. Pertama, sebagai salah satu negara dengan jumlah orang Kristen terbesar di Asia (bahkan dunia; konon di Seoul saja ada sekitar 7.000 gereja!), wajar kalau kita berharap menyaksikan film Kristen yang digarap oleh sineas Korea. Kedua, menurut saya, film yang mengisahkan kekristenan Korea, tidak hanya akan membantu kita memahami bagaimana keadaan kekristenan di Korea, tetapi juga memperkaya khazanah-film bertema religius lain, misalnya ”Spring, Summer, Fall, Winter, … and Spring” garapan Kim Ki-duk.

”Miryang” mungkin menjadi salah satu film yang mengangkat tema kekristenan secara eksplisit. Film ini menggambarkan bagaimana seseorang yang bertobat, terlibat dalam pelayanan, kemudian berbalik menyangkali pertobatannya karena tragedi hidup yang ia hadapi. Pola seperti ini rasanya tidak terlalu asing bagi kita. Terutama ketika kekristenan dianggap sekadar pemenuhan kebutuhan dengan Tuhan sekadar penyedia keinginan manusia inginkan.

Dikisahkan seorang wanita, Lee Shin-ae bersama putranya, pindah ke kota kecil bernama Miryang, sebuah kota kecil di di wilayah Gyeongsangbuk-do, sebelah barat daya kota Busan. Kota ini merupakan kota kelahiran suaminya. Di sini pula ia berkenalan dengan Kim Jong-chan, seorang ”bujang lapuk” yang membuka usaha bengkel mobil. Belakangan, Jong-chan menyukai Shin-ae dan melakukan banyak hal untuk membantu Shin-ae, meskipun keberadaannya sering kali dianggap mengganggu oleh Shin-ae.

Kepindahan Shin-ae dan putra semata wayangnya ini tampaknya merupakan semacam pelarian. Dalam percakapan malam hari dengan adiknya yang datang dari Seoul, perihal pelarian diri ini tampak dengan jelas ketika ia mengatakan betapa ia membenci Seoul dan lebih senang dengan kota kecil yang menjadi tempat tinggalnya saat ini karena dengan demikian, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Di sini tidak disebutkan secara jelas apa yang menyebabkan pelariannya kecuali kemungkinan perselingkuhan sang suami yang menyebabkan banyak orang menggunjingkannya sampai membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Namun, ia berkeras pada sang adik bahwa dirinya sama sekali tidak percaya gosip itu. Jika menerima anggapan Shin-ae terhadap suaminya, tampaknya sang suami memang meninggal daripada pergi meninggalkan Lee dan anaknya dengan wanita lain. Kemungkinan lain, sebelum meninggal, suaminya digosipkan selingkuh dengan wanita lain.

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini. Pertama, pertobatan Shin-ae muncul tidak lama setelah anaknya dibunuh oleh supir yang sehari-harinya menjemput dan mengantar putra Shin-ae ke sekolah. Semula modus kejahatan berupa penculikan dengan penebusan sejumlah uang. Namun, malah berbuntut pada pembunuhan. Kemungkinan karena jumlah yang diminta (kita tidak pernah tahu berapa jumlah yang diminta, namun dari salah satu adegan kita melihat Shin-ae mengurangi jumlah uang tebusannya). Terguncang dengan kematian putra satu-satunya, kakinya membawa Shin-ae ke sebuah kebaktian. Shin-ae pun mendapat penghiburan dari pasangan penginjil yang sebelumnya memberikan Alkitab pada awal kepindahan Shin-ae ke Miryang. Ia mengalami pertobatan lalu mulai mengikuti berbagai persekutuan doa, rajin ikut kebaktian.

Kedua, pertobatan bisa berubah menjadi pengkhianatan. Di sini, kita diperhadapkan pada realita pengampunan. Shin-ae mengalami sulitnya mengampuni pembunuh putranya itu. Lalu ketika ia merasa sudah mengampuni, ia ingin menyatakan pengampunannya ini pada pembunuh putranya. Tidak disangka, pelayanan di penjara sudah mempertobatkan si pembunuh itu juga. Karena merasa Tuhan sudah mengambil alih hal yang harusnya ia kerjakan, Shin-ae berbalik dari iman Kristennya. Ia bahkan memusuhi Tuhan, melakukan sabotase pada acara KKR, bahkan menantang Tuhan dengan upaya membunuh dirinya sendiri. Ia juga berusaha menggoda suami dari tetangga yang sebelumnya memberikan Alkitab padanya.

Hal ketiga, keberadaan orang lain di sekitar kita sering dipakai Tuhan untuk menopang kita dalam keadaan terburuk sekalipun. Peran ini menurut saya dilakukan oleh Jong-chan. Meski dianggap menyebalkan karena terkesan selalu ikut campur, Jong-chan hampir selalu ada di samping Shin-ae. Karena menyukai Shin-ae, ia juga mulai ke gereja, tidak merokok, bahkan mengikuti kegiatan gereja. Namun, ia jugalah yang tetap mendampingi Shin-ae sampai akhir cerita.

Hal keempat, motivasi pertobatan yang tidak baik, takkan menyembunyikan sikap dasar seseorang. Sekali lagi, figur Jong-chan di sini mencerminkan hal tersebut. Ia menjadi seorang Kristen hanya di depan Shin-ae. Di belakang, ia sering mengumpat, juga diam-diam merokok. Dengan kata lain, untuk memenangkan hati Shin-ae ia pun ikut ke gereja.

”Miryang” digarap oleh salah seorang sutradara kenamaan Korea, Lee Chang-dong. Film ini merupakan film keempatnya. Tiga filmnya yang lain ialah”Green Fish” (1997), ”Peppermint Candy” (1999), dan ”Oasis” (2002). ”Miryang” juga menjadi film pertamanya setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Kebudayaan. Bagi Lee Chang-dong, menggambarkan sesuatu yang tidak mudah dilihat merupakan salah satu hal penting yang ingin ia kerjakan, dan iman merupakan salah satunya. Tidak heran, untuk tujuan penting ini, bintang film kenamaan pun turut dipanggil. Yang memerankan janda Shin-ae ialah Jeon Do-yeon, terkenal melalui film ”Happy End” (1999) dan ”You Are My Sunshine” (2005). Sementara sosok Kim Jong-chan diperankan oleh Song Kang-ho, yang juga bermain dalam ”The Host” (2006) dan ”The Show Must Go On” (2007).

Kalau kita cermati, film ini sendiri memang menyimpan makna yang dalam. Bisa saja kita mempertanyakan, pertobatan macam apa yang dialami Shin-ae? Atau, pembinaan macam apa yang diberikan gereja kepada Shin-ae sampai ia akhirnya membenci Tuhan? Lee Chang-dong sendiri mengakui bahwa ia menggambarkan kehidupan Kristen apa adanya sehingga pada beberapa bagian, film ini menggunakan pendekatan dokumenter.

Bagi Lee Chang-dong sendiri, film ini menekankan bahwa makna kehidupan itu tidak jauh dari tempat di mana kita berada, bukan di atas, melainkan di dalam kehidupan nyata kita. Hal ini digambarkan begitu kontras dalam film ini pada awal dan akhir cerita. Perhatikan bagian awal yang menyoroti langit yang luas, dengan bagian akhir yang menyorot ke tanah.

Film ini meraih sejumlah penghargaan. Dalam tahun 2007 saja, film ini meraih penghargaan Best Picture dan Best Director pada Korean Film Awards, dan Special Award pada Grand Bell Awards. Lalu pada tahun 2008, film ini meraih penghargaan Best Film dan Best Director pada Asian Film Awards. Penghargaan ini mungkin bisa menjadi pertanda bahwa film yang bertema kekristenan pun pantas mendapat penghargaan.
Satu hal yang mungkin patut disayangkan, film ini belum dihadirkan secara resmi di Indonesia.

Advertisements
6 Comments leave one →
  1. June 26, 2009 6:49 am

    Wah, jadi pengen nonton.

    • June 26, 2009 9:03 am

      Wah, boleh. Tinggal diatur waktunya saja. Omong-omong, terima kasih sudah mampir dan menjadi orang pertama yang memberi respons.

  2. cecil.. permalink
    June 29, 2009 4:57 am

    keren euy..
    pengen nontn niiiiiiiiiihhh..
    film2 korea biasa na menguras air mata n emosi..hahaha..

    • June 29, 2009 6:11 am

      Nah, kalau yang ini sepertinya tidak menguras air mata deh. Ini tipe film yang mengajak kita berpikir.

  3. Yenti permalink
    June 30, 2009 7:39 am

    Jadi penasaran juga filmnya:).Selama ini mendengar komment dari teman-teman yang maniak film Korea, tidak ada yang mengatakan film satuan Korea ada yang bagus, tapi dengan membaca resensi di atas terlihat menarik. Dari 4 hal yang menarik dari film itu terlihat emang nyata dalam realita hidup manusia.
    IMAN tak dapat dipisahakn dengan PERBUATAN dalam menjalani hidup di dunia

    MASALAH merupakan suatu sarana yang membuat manusia semakin dekat dengan Tuhan.

    PERTOBATAN hanya merupakan AWAL DARI PENGENALAN PADA TUHAN, dan PROSES menjadi PRIBADI YANG LEBIH BAIK:P

    Film yang menarik:)

    • August 26, 2009 12:19 am

      Bagi saya sendiri, film ini menjadi menarik karena tema yang diangkat relatif jarang disorot oleh sineas Korea. Dan saya beruntung bisa menyaksikan film “langka” ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: