Skip to content

Departures: The Gift of the Last Memories

September 10, 2009

Departures

Mencintai pekerjaan adalah hal yang sangat penting. Jika tidak mencintainya, sebagus apa pun gaji yang ditawarkan, tentu tidak akan membuat kita bahagia. Namun, apa jadinya kalau kita malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat kita cintai?

Mungkin begitu kira-kira perasaan Kobayashi Daigo ketika orkestra tempatnya bergabung terpaksa dibubarkan. Sebagai pemain cello, ia sangat senang berada bersama orkestra tersebut. Ia sendiri baru saja membeli sebuah cello seharga 18 juta yen. Sayangnya, dari sekian pertunjukan yang mereka bawakan, tidak banyak yang mau menyaksikan pertunjukan mereka. Pemilik orkestra pun terpaksa membubarkan kelompok orkestranya. Dan bagi Daigo, hal ini berarti bencana.

Tidak seperti dugaan saya sebelumnya, film ini sama sekali tidak berhubungan dengan dunia orkestra. Sebaliknya, dunia musik itu hanya sebagai pelengkap dari film ini. Musik menjadi bagian dari masa lalu dan masa kini Kobayashi Daigo, sesuatu yang bergeser dari profesi ke hobi.

Berbeda daripada film biasa
Film ini merupakan film drama yang unik, yang mengangkat tema yang berbeda daripada film biasanya. Dikemas dengan sejumlah pemandangan alam di Yamagata yang sangat indah, plus sisipan musik-musik yang sangat indah. Bagi saya, tidak ada film seperti ini sebelumnya. Tidak mengherankan kalau film ini kemudian mendapat penghargaan juga untuk kategori Best Screenplay dan Yojiro Takita pun diganjar Best Director lewat arahannya yang amat baik.

Bagian pertama dari film ini menunjukkan sebuah langkah berani: membuang masa lalu dan memulai awal yang baru. Setelah memutuskan berhenti menjadi pemain cello dan kembali ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya, Daigo harus mulai mencari pekerjaan. Terdorong oleh sebuah iklan di surat kabar lokal, ia melamar ke perusahaan, NK Agent, dan langsung diterima pada hari ketika ia melamar. Tidak hanya itu, ia langsung mendapat gaji di muka.

Namun, ia tidak benar-benar paham apa yang dikerjakan perusahaan yang hanya digarap oleh tiga orang termasuk dirinya. Sampai suatu ketika ia memahami bahwa perusahaannya melayani persiapan pemberangkatan jenazah. Dan ketika untuk pertama kali berurusan dengan jenazah yang sudah beberapa hari meninggal, ia benar-benar tidak tahan menghadapinya.

Seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa, semakin ditekuni, semakin Daigo bisa mengikuti pekerjaan barunya. Tidak hanya itu, ia malah mengagumi cara Sasaki, bosnya, menangani jenazah, mengubah jasad yang pucat menjadi tampak segar kembali. Ditambah lagi dengan jam kerja yang relatif santai, membuat ia menjadi sangat menyukai pekerjaannya itu. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa banyak orang yang memandang negatif pada profesi yang ia kerjakan. Terlebih ketika akhirnya sang istri mengetahui pekerjaannya.

”The gift of last memories”
Film ini menghadirkan serangkaian peristiwa yang menyentuh. Ketika Daigo dan atasannya, Sasaki, mempersiapkan jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti, kita akan diajak melihat berbagai sikap ditunjukkan oleh mereka yang akan memberangkatkan jenazah itu. Dari situ kita juga diajak untuk merasakan kepedihan keluarga yang menyaksikan persiapan tersebut.

Persiapan jenazah yang dilakukan meliputi melepaskan pakaian yang digunakan oleh jenazah saat meninggal, lalu membasuh tubuh jenazah, mengenakan pakaian bersih, sebelum akhirnya merias wajah jenazah.

Tindakan pembasuhan tubuh jenazah ini ternyata mengandung nilai filosofis tersendiri. Tindakan ini dianggap penting meskipun merupakan langkah kedua dari persiapan jenazah. Pembasuhan ini secara simbolis berarti membasuh tubuh dari seluruh keletihan, kepedihan, dan beban dunia yang ditanggung oleh seorang yang sudah meninggal. Pembasuhan ini sekaligus sebagai pemandian pertama bagi jiwa yang memasuki kehidupan baru.

Pandangan ini dilanjutkan dengan pandangan mengenai kematian. Kematian dianggap bukan sebagai akhir dari segalanya. Kematian merupakan semacam pintu gerbang. Seorang yang meninggal, akan melalui pintu gerbang tersebut melangkah menuju kehidupan selanjutnya. Untuk mengantarkan jenazah itulah dua pekerjaan dilakukan. Pekerjaan pertama ialah pekerjaan yang dilakukan oleh Daigo dan Sasaki. Sementara pekerjaan selanjutnya dilakukan oleh petugas kremasi atau pemakaman.

Karena merupakan suatu pekerjaan yang mengantarkan jenazah, mereka yang ditinggalkan berusaha untuk memberikan kenangan terakhir. Melalui pengurus pemakaman, jenazah pun dipersiapkan dan didandani sedemikian rupa. Jenazah yang semula sudah dingin, kembali dibuat segar untuk selamanya. Dan pekerjaan ini harus dilakukan dengan ketenangan, ketelitan, dan yang lebih penting dengan penuh perasaan. Sampai pada akhirnya jenazah tersebut diberangkatkan. Semua ini dilakukan dengan tenang dan penuh keanggunan.

Risiko pekerjaan
Setiap pekerjaan selalu menghadirkan risiko, apa pun pekerjaan itu dan di mana pun pekerjaan itu dilaksanakan. Demikian juga dengan menjadi profesional yang mempersiapkan jenazah sebelum dimakamkan atau dikremasi. Ketika pertama kali melamar, Daigo langsung diterima tanpa harus melewati serangkaian tes. Namun, profesi yang ia kerjakan itu justru merupakan profesi yang tak dipilih oleh kebanyakan orang.

Bagi sebagian besar orang, menyentuh mayat adalah sesuatu yang kotor. Pandangan ini tampaknya dianut juga di Jepang. Tidak heran ketika sang istri mengetahui pekerjaan Daigo, ada penolakan keras dalam dirinya. Dan ini jelas membuat Daigo bimbang: mengikuti kemauan istrinya, ia akan kehilangan pekerjaan sekaligus kehilangan atasan yang baik.

Bagaimanapun juga, nilai sebuah pekerjaan tidak bisa dilihat hanya sebatas itu. Ketika kita bisa menjalankan pekerjaan kita dengan penuh dedikasi apalagi loyalitas tinggi, pekerjaan itu jelas akan memberi nilai yang lebih. Bukan tidak mungkin orang lain akan sangat bersyukur karena apa yang telah kita kerjakan. Tentu saja selama pekerjaan itu tidak merugikan orang lain. Rasanya inilah salah satu nilai yang bisa diambil dari film ini.

Dedikasi dan loyalitas memang dua hal yang sangat mahal dan mungkin jarang ditemukan pada masa kini, terutama loyalitas. Namun, hal ini menjadi penting ketika hendak meyakinkan orang akan pekerjaan yang kita lakukan. Karena dua hal inilah Mika, sang istri, bisa memahami bahwa pekerjaan Daigo adalah pekerjaan yang berharga, apa pun pandangan orang lain.

Daigo dan konflik batin
Konflik batin pertama dialami Daigo ketika memutuskan berhenti menjadi pemain cello profesional. Fakta ini jelas sangat memukulnya. Karena dalam film ini, kita juga melihat bagaimana ia sudah belajar musik sejak masih anak-anak. Namun, kelompok orkestra mereka ternyata tidak digemari orang. Kondisi ini semakin berat lagi karena ia baru membeli cello seharga 18 juta yen, tanpa sepengetahuan istrinya. Karena tidak mungkin membayar sisanya, ia memutuskan berhenti menjadi pemain cello. Kita bisa melihat masalah ini diselesaikan Daigo dengan mengambil langkah berani: berhenti sebagai pemain cello profesional.

Konflik selanjutnya melibatkan Mika. Semenjak bekerja sebagai profesional yang mempersiapkan jenazah, Daigo tidak pernah memberi tahu seperti apa pekerjaannya itu kepada istrinya. Ada beberapa hal yang mungkin membuatnya tidak menceritakan profesinya itu pada sang istri. Pertama, ia belum benar-benar memahami seperti apa pekerjaan yang akan ia lakukan, meskipun sejak pertama ia sudah mendapat penjelasan dari atasannya. Ia masih tetap bingung apalagi ketika disuruh menjadi model untuk video tata cara mempersiapkan jenazah. Hal kedua, ketika sudah menikmati pekerjaannya, ia jadi benar-benar lupa untuk bercerita lebih jauh soal pekerjaannya itu pada sang istri. Mungkin juga karena Mika tidak pernah lagi mempertanyakan profesinya, kecuali saat pertama kali Daigo diterima bekerja. Maka ketika Mika mengetahui profesi Daigo, ia merasa kecewa karena tidak mendapat penjelasan dan seketika meminta Daigo untuk berhenti. Ini jelas memberi beban bagi Daigo, yang berujung pada keputusan Mika untuk pulang ke rumah orang tuanya, sampai Daigo benar-benar berhenti.

Konflik ketiga terkait dengan relasi Daigo dengan ayahnya. Selama ini ia memandang ayahnya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Ayahnya meninggalkan ia dan ibunya saat ia masih kecil, sampai-sampai ia tidak lagi mengingat bagaimana wajah ayahnya. Sang ayah disebut-sebut meninggalkan mereka dan hidup dengan wanita lain. Keputusan sang ayah itu membuat Daigo tidak bisa menerimanya sebagai seorang ayah.

Kemudian pada bagian akhir film ini, ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal. Semula ia berkeras tidak ingin melihat sang ayah, sampai bujukan rekan kerja dan Mika mendorongnya untuk melihat sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itulah ia baru menyadari bahwa ayahnya menjalani hidup yang menyendiri sejak meninggalkan Daigo dan ibunya. Saat itu pulalah ia menyadari bahwa meski meninggalkan keluarganya, sang ayah masih tetap menyayangi Daigo.

Percikan pluralitas
Seperti yang kita ketahui, Jepang merupakan negara dengan penganut Budha aliran Shinto yang terbesar. Persentase agama lain sangatlah kecil. Meskipun demikian, film ini menghadirkan sepercik nilai pluralitas. Ketika Daigo diminta untuk memainkan cellonya oleh atasan dan rekannya pada malam Natal, Sasaki menegaskan bagi mereka tidak masalah hendak memainkan lagu yang berhubungan dengan agama apa pun. Perusahaan mereka tidak mempersoalkan masalah agama, mereka akan melayani semua permintaan.

Pada satu sisi, mungkin itulah sisi bisnis. Tidak memikirkan masalah agama dan keyakinan. Selama memberikan keuntungan, tidak masalah siapa yang menjadi pelanggan. Meskipun demikian, tidak salah juga menganggap bahwa keputusan demikian akan berdampak pada sikap pluralitas, tidak berat sebelah pada penganut kepercayaan apa pun, yang penting memberi pelayanan terbaik.

Para tokoh
Kobayashi Daigo, diperankan oleh Masahiro Motoki. Dalam film ini, ia menunjukkan kemampuan beraktingnya dengan luar biasa. Mulai dari memainkan cello, sampai bagaimana ia menjalankan tugasnya mempersiapkan jenazah. Air muka, pembawaan, dan sikap yang ia tunjukkan dalam memperlakukan jenazah menunjukkan keseriusannya. Mungkin hal-hal inilah yang membuat ia meraih penghargaan sebagai aktor terbaik pada beberapa festival film.

Sementara itu, karakter pendukung lainnya juga hadir dalam posisi yang baik guna mendukung cerita film ini. Misalnya, Ryoko Hirosue, yang memerankan Mika. Ia tampil sebagai seorang istri yang pada awal cerita mendukung suaminya, namun kemudian berbalik menentang profesi sang suami karena menganggap profesi itu tidak normal. Meski demikian, ia menunjukkan cintanya kepada sang suami dan kembali kepada Daigo. (Walaupun kita bisa menganggap keputusannya untuk kembali ini karena ia telah mengandung seorang bayi.)

Adapun Sasaki, mungkin menjadi seorang atasan yang ideal. Ia tidak bersikap sebagai seorang atasan yang otoriter. Sebaliknya, ia menjadi seorang pembimbing yang baik bagi Daigo sampai Daigo mampu menjalankan prosesinya. Kebaikan hati Sasakilah yang mungkin membuat Daigo membatalkan niatnya untuk berhenti.

Salah satu karakter penting lain ialah sang kakek yang dijumpai Daigo di pemandian umum masa kecilnya. Kakek yang ternyata bekerja sebagai petugas di rumah kremasi itu menjadi pelengkap dari rangkaian pelepasan jenazah.

Plot
Film ini tidak menggunakan plot yang membingungkan. Jalan ceritanya juga sangat mudah dipahami. Secara umum, hanya ada sekali kita diajak untuk melihat masa lalu Daigo dalam durasi yang lebih panjang, yaitu ketika orkestra dibubarkan sampai ia mendapat pekerjaan baru sebagai profesional pengurus persiapan pemberangkatan jenazah.

Meski dari sisi jenis plot terbilang sederhana, toh nilai-nilai yang dihadirkan memang membuat film ini layak ditonton. Simbol-simbol, nilai-nilai filosofis, etos kerja, dan nilai moral lain merupakan hal berharga yang bisa ditarik dari film ini. Kita juga sekaligus diajak untuk melihat bahwa ada alasan mengapa kita perlu memperlakukan

Pada bagian akhir cerita kita melihat bagaimana simbolisasi perasaan sayang sang ayah pada anak. Perasaan ini disimbolkan dengan batu yang telah menjadi begitu halus, batu yang digenggam erat sang ayah dalam meninggalnya. Secara simbolis juga kita melihat bagaimana Mika berharap perasaan sang ayah itu bisa diteruskan kepada anak mereka.

Penghargaan
Film ini secara resmi dirilis di Jepang pada bulan September 2008. Tidak tanggung-tanggung, dalam ajang Japanese Academy Awards ke-32, film ini menyabet sepuluh penghargaan, meliputi Best Film, Best Director (Yojiro Takita), Best Actor (Masahiro Motoki), Best Supporting Actress (Kimiko Yo), Best Supporting Actor (Tsutomu Yamazaki), Best Screenplay (Kundo Koyama), Best Cinematography, Best Lighting, Best Sound, dan Best Editing.

Tidak hanya penghargaan lokal, penghargaan internasional pun diraih. Oscar untuk Best Foreign Language Film pun diraih. Selain itu, film ini juga memenangkan Grand Prix des Ameriques pada 32nd Montreal World Film Festival, Mercedes Benz Audience Awards untuk Best Feature pada Palm Springs International Film Festival, Kinema Junpo Awards untuk Best Film, Best Director, Best Screenplay, dan Best Actor, serta Audience Award pada 28th Hawaii International Film Festival.

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. September 15, 2009 3:00 am

    Wah, saya terlambat!
    Saya sebenarnya juga berniat mengulas film ini.

    Ini film yang sangat bagus, walaupun dengan plot yang sederhana. Namun, dengan topik yang tidak biasa, film ini berhasil menyodorkan sepotong kisah yang menyentuh. Saya sampai dibuat tahan duduk di depan televisi (aslinya sih, saya nonton sambil tiduran :-).

    Saya tertarik dengan akting pemeran Daigo dan Sasaki. Memang, banyak sorotan diberikan pada akting pemeran Daigo. Maklum, dia kan aktor utamanya. Dan dia memang bermain bagus dan pantas memenangkan berbagai penghargaan. Namun, akting pemeran Sasaki pun cukup menonjol. Guratan wajahnya sangat kuat sehingga menimbulkan kesan bahwa dia adalah seseorang yang bukan saja menekuni pekerjaannya, tetapi mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan tersebut. Belakangan, kita tahu bahwa ia memiliki semacam keterikatan emosional dengan profesi ini setelah ia “menghias” jenasah istrinya.

    Memang ada konflik batin dalam diri Daigo. Namun, ia seolah akhirnya mulai dapat menangkap kekuatan dari profesi barunya ini, terutama setelah melihat reaksi para anggota keluarga orang yang meninggal. Reaksi mereka mengajarkan satu hal: kematian adalah suatu misteri yang sering menakutkan tetapi bisa terasa indah. Bagaimana seorang suami yang menangis tersedu setelah melihat istrinya didandani begitu cantik, atau bagaimana sekelompok keluarga yang melambaikan tangan perpisahan di samping jenasah kakek/ayah/suami mereka (sambil berkata “daaaah…”). Daigo belajar banyak…

    Dengan begitu, bisnis ini bukan lagi “bisnis kematian”, tetapi “bisnis mengenai orang-orang yang masih hidup dalam menghadapi kematian”…

    Barangkali, ini bisnis bagi semua orang….

    Salam.

    • September 15, 2009 3:38 am

      Saya kira, ”Departures” ini merupakan film yang menunjukkan kekuatan sebuah ”kesederhanaan”. Lalu tentang profesi unik yang ditekuni Sasaki dan Daigo, yah, itu memang luar biasa. Jujur saja, saya juga sangat tersentuh ketika melihat anggota keluarga yang melihat orang yang mereka cintai dirias begitu rupa, seolah-olah hanya sedang tidur, menanti kebangunannya di dunia yang baru. Siapa yang tidak segera tersentuh ketika melihat mereka yang sudah meninggal, namun tampak hanya tidur? Ada kekuatan di balik setiap sentuhan riasan yang dilakukan.

      Dengan begitu, bisnis ini bukan lagi “bisnis kematian”, tetapi “bisnis mengenai orang-orang yang masih hidup dalam menghadapi kematian”…

      Saya setuju. Sebab pada prinsipnya, segala upacara kematian itu tidak ditujukan kepada yang sudah tiada, tetapi justru kepada mereka yang masih hidup.

      Wah, saya terlambat!
      Saya sebenarnya juga berniat mengulas film ini.

      Kalau untuk yang satu ini, saya kira tidak ada kata terlambat. Ayo, saya tunggu ulasan versi Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: