Skip to content

Blood: Jeon Ji-hyeon in Action Mode

August 25, 2009

Berawal dari abad ke-16, Perang Onin yang membawa perang di seluruh Jepang memorak-porandakan Negeri Sakura itu. Lalu para iblis, mengambil rupa seperti manusia, hidup di tengah-tengah manusia hanya dengan tujuan memangsa mereka. Seorang samurai pemberani bernama Kiyomasa bangkit dan menjadi pemburu iblis. Sampai iblis tertua dan terkeji, Onigen, membantainya dengan brutal.

Beradab-abad berlalu sejak masa itu. Kegelapan pun kembali menguasai Jepang. Dan seperti pada masa lampau, muncul samurai misterius yang juga memburu para iblis itu. Ia bekerja sama dengan kelompok rahasia yang disebut The Council. Tujuannya hanya satu, memburu Onigen.

Jalan cerita
Begitulah kira-kira pengantar pada bagian pembuka film ini. Film yang mengisahkan tentang para vampir ini berseting di sebuah pangkalan militer AS di Jepang, pada tahun 1970. Ternyata tanpa diketahui orang banyak, Jepang telah diinvasi oleh para vampir. Adalah Saya, gadis setengah manusia, setengah vampir yang berperan sebagai pembasmi vampir. Dengan samurainya, ia bekerja sama dengan kelompok rahasia, The Council untuk mencapai tujuannya, mengalahkan Onigen yang telah membunuh ayahnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Saya disamarkan sebagai seorang siswi di sekolah khusus bagi orang AS yang berada di Jepang. Dengan seragam kelasi yang khas, tentu saja ia menjadi bahan pembicaraan. Di sanalah ia mengenal Alice, putri jenderal di pangkalan militer AS, yang kemudian ia selamatkan, dan kemudian juga balik menolongnya.

Perburuan Saya terus berlanjut. Setelah konflik dengan the Council, ia memutuskan untuk pergi mencari Onigen, ditemani Alice yang kemudian kehilangan ayahnya. Dan ketika akhirnya bertemu dengan Onigen, sebuah fakta lain terkuak bagi kita.

Membandingkan Ji-hyeon
Untuk pertama kalinya, Jeon Ji-hyeon bermain dalam film berbahasa Inggris. Di sini pula untuk pertama kalinya ia menggunakan nama Gianna Jun. Konon, ia butuh waktu selama dua tahun untuk memfasihkan bahasa Inggrisnya. Selain itu, oleh karena film ini memiliki banyak adegan laga, sudah tentu butuh persiapan fisik yang prima pula. Film ini sekaligus menjadi film laganya yang pertama.

Kalau Anda pernah menyaksikan sejumlah film yang dibintangi Jeon Ji-hyeon sebelumnya, ”My Sassy Girl”, ”Windstruck”, atau malah film-film terdahulu semisal ”White Valentine” atau ”Il Mare”, Anda mungkin akan kecewa dengan penampilannya di sini. Dialog yang ia bawakan terkadang terkesan datar. Entah karena memang diarahkan demikian untuk menunjukkan karakter tokoh, atau memang karena ini merupakan film berbahasa Inggrisnya yang pertama. Selain itu karakternya tampak kurang kuat ketimbang dalam film ”A Man Once a Superman”, misalnya.

Cukup mengecewakan
Dari segi plot, tidak ada yang istimewa dari plot film ini. Relatif sederhana dan umum, merupakan perpaduan antara plot maju dan kilas balik. Demikian juga dengan setingnya. Diawali dengan peristiwa pada masa kini, plot terus bergerak maju, sedikit demi sedikit identitas Saya tersingkap. Lalu penonton diajak untuk kembali ke masa lalu, untuk melihat masa lalu Saya saat diasuh oleh Kato. Setelah kembali ke masa kini, Pertama, cerita yang diangkat tidak terlalu menarik. Cerita tentang pemburu vampir sudah terlalu banyak diangkat. Kita tentu ingat film ”Van Helsing” tahun 2004 lalu, yang secara umum jalan ceritanya lebih menarik. Yang menarik, versi animasi ”Blood: The Last Vampire” yang dirilis tahun 2000 justru menyabet sejumlah penghargaan  (pada tahun 2000 Pemenang Utama untuk kategori animasi pada Japanese Agency for Cultural Affair’s Media Arts Festival, Public’s Prize Best Asia Feature Film pada Montreal Fantasia Film Festival, Ofuji Award pada Mainichi Film Competition).

Kedua, teknik pengambilan gambar pada setiap adegan laga cenderung memusingkan. Sebagai film yang mengedepankan samurai sebagai senjata utama, adegan-adegan laganya relatif tidak jelas. Alih-alih menunjukkan kecepatan sabetan pedangnya, penonton malah dibuat pusing dengan adegan yang kadang cepat, kadang lambat. Berbeda dengan film samurai sungguhan, misalnya ”Seven Samurai”, di mana setiap duel secara konsisten dilakukan dengan cepat, menggambarkan kecepatan sabetan pedang.

Akhirnya, efek visual yang digunakan juga tidak halus. Gerakan-gerakan tangan yang terpotong, darah yang tercecer, tampak tidak menyatu. Atau ketika Saya mengejar vampir yang membawa lari Alice. (Vampir itu sendiri akhirnya tidak jelas juntrungannya karena kemudian melarikan diri dari Saya.) Benar-benar mengecewakan mengingat teknologi animasi belakangan ini sebenarnya sangat memungkinkan untuk menciptakan gambar yang jauh lebih halus.

Selain itu, ada satu hal yang patut dipertanyakan. Dengan cara seperti apa Onigen ”memproduksi” para vampir lainnya? Salah satu adegan menunjukkan bagaimana Alice harus melarikan diri dari sebuah bar yang ternyata diisi oleh para vampir, sampai Saya datang menyelamatkannya. Dari mana semua vampir itu? Apakah caranya sama seperti para vampir di daratan Eropa: menghisap darah korban yang kemudian menjadikannya vampir juga? Kalau ya, agak aneh rasanya karena petugas pembersih sekolah justru digambarkan dibunuh, bukan sekadar dihisap darahnya dan diubah menjadi vampir.

Bagi saya sendiri, satu hal yang membuat saya akhirnya menonton film ini hanya faktor Jeon Ji-hyeon saja. Rasa penasaran karena sepertinya persiapan film ini cukup panjang. Selain itu rasa penasaran juga muncul karena ini merupakan film laga pertama yang ia bintangi.

Perang Onin
Ada satu hal yang cukup mengusik saya berkenaan dengan Perang Onin yang disebut pada bagian awal film. Ada kesan bahwa Peran Onin berlangsung – setidaknya berakhir – pada abad ke-16. Padahal setelah menyelidiki dari sejumlah sumber, Perang Onin sebenarnya terjadi pada abad ke-15, diperkirakan pada bulan Juli 1467.

Perang Onin merupakan perang sipil yang berlangsung lama, dari 1467 sampai 1477. Perang ini dipicu oleh perselisihan antara Hosokawa Katsumoto dan Yamana Sozen. Perselisihan di antara mereka kemudian malah melibatkan keluarga Shogun Ashikaga dan sejumlah daimyo di berbagai wilayah di Jepang. Dan perang masih terus berlangsung meskipun keduanya meninggal pada 1473.

Perang Onin ini kemudian memunculkan tiga sosok yang dikenal sebagai para daimyo besar periode Sengoku, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya inilah yang kemudian berperan mempersatukan Jepang di bawah satu kepemimpinan.

Nilai-nilai moral di balik sebuah kekecewaan
Film ini memang mengecewakan saya. Meskipun begitu, adakah nilai yang bisa kita ambil dari film ini? Ada saja! Pertama, saat Saya pertama kali diperkenalkan, seragam kelasinya (seragam sekolah di Jepang pada umumnya) menimbulkan celotehan yang menyindir. Sudah jelas, sikap yang seperti ini tidak baik karena cenderung membuat tidak nyaman, terutama bagi siswa-siswi baru. Sebaiknyalah siswa-siswi baru disambut dengan ramah, agar membuat ”penghuni” kelas yang baru merasa nyaman.

Nilai berikutnya bisa kita ambil ketika Alice memutuskan menolong Saya. Ketika Saya dalam keadaan kritis, Alice memberikan darahnya kepada Saya. Tindakan ini mungkin bisa dianggap satu-satunya jalan agar bisa selamat dari para vampir, mengingat hanya Saya yang mampu melawan para vampir itu. Namun, ini juga perlu dilihat sebagai tindakan sosial yang bebas diskriminasi – ingat Saya bukan manusia biasa, melainkan manusia-vampir berusia 400 tahun!

Pada akhirnya, meski film ini mengecewakan, toh sebagai hiburan bisa terbilang lumayan. Khususnya ketika Anda merasa jenuh dengan film-film yang lebih mengajak berpikir.

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. August 27, 2009 2:03 am

    apik

  2. Minoree permalink
    September 26, 2009 5:14 am

    Dear Indonesiasaram,
    Hmmm, i wonder what should i write as a comment for this movie.
    Considering that you already summed up all the main points.

    Mungkin saya akan mulai dari alasan mengapa saya mau menonton film ini :

    1. Ada teman yang berbaik hati mau meminjamkannya, meski harus disuap dengan sedikit buah ( xixixixiiiiii :-P)
    2. Rasa ingin tahu saya tentang “model vampir asia” yang akan ditampilkan di film ini, apakah masih dengan gaya yang sama, loncat-loncat dengan tangan terulur kedepan.
    3. Ketertarikan saya tentang film Korea, karena sedang berusaha mempelajari bahasanya secara otodidak (walaupun ternyata film ini berbahasa Inggris).

    Setelah menyaksikan “Blood”, kesan saya adalah film ini “melelahkan”, terutama adegan setelah Alice melarikan diri dari bar yang penuh dengan vampir.
    Saat Saya mencoba menyelamatkan Alice dari vampir-vampir yang sepertinya “gak abis-abis” padahal sudah begitu banyak yang ditebas Saya.
    Lalu adegan kejar-kejaran di genteng. Capeeee deeehhhh!

    Adegan laga yang non-stop membuat mata saya lelah karena terlalu tegang menantikan adegan selanjutnya
    ( kok kaya nonton film apa gitu yaa??!!! hhhehe)

    Beberapa adegan mengingatkan saya pada film “Men in Black”, when all the guys with black suits cleaned up “the mess” that Saya’s made.

    Adegan di genteng mengingatkan saya dengan ” Spiderman”, beberapa adegan slo-mo mengingatkan saya pada “The Matrix”.

    Secara garis besar, saya tidak terlalu menikmati film ini karena banyak adegan yang terlalu “graphic”. Terutama adegan potong memotong.
    Saya bukan orang yang jijik’an, but that’s too much.

    Yang saya cari dalam sebuah film, selain Moral of the Story yang bisa saya ambil adalah harus bisa menghibur dan aktornya harus ganteng. Hehehee.

    My Favorite vampire movie is “Queen of the Damned” (2002).
    Vampirnya ganteng gila…. :-p

    Sedikit saran, sebaiknya teriakan Saya pada saat Onigen mati dibuat panjang dan cukup satu kali saja, dilanjutkan dengan efek faded. Pasti lebih ok.

    Tapi salut untuk Gianna Jun yang sudah berusaha keras melafalkan dialog dalam bahasa Inggris, not bad laahh.

    My favorite line is:

    ” I don’t investigate, i kill! “.

    Nice….. that’s girl power.

    i think that’s all!

    Keep up the good work with all your movie reviews

    and God Bless You!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: