Skip to content

Hero: Sebuah Paradoks?

June 26, 2009

Pada mulanya, saya kurang suka film Mandarin. Saya lebih suka menyaksikan film Jepang atau film Korea. Alasannya memang terlalu dangkal. Pada film Jepang maupun Korea, saya cenderung lebih bisa mengikuti pelafalannya. Berbeda dengan film-film Mandarin, meski saya tergolong penggemar Jackie Chan. Tidak heran kalau akhirnya saya terbilang jarang menyaksikan film Mandarin. Namun, oleh dorongan beberapa teman, baik langsung maupun tidak langsung, saya mulai melirik film Mandarin sebagai salah satu tontonan sekaligus bahan pelajaran.

Salah satu film yang direkomendasikan kepada saya adalah film “Hero”. Film yang dibintangi sejumlah bintang kenamaan ini terbilang film saga yang ternyata sangat menarik untuk dibahas. Tidak saja dari segi penuturannya (plot), tapi juga dari aksi laga, karakter, maupun filosofinya.

Sebagai film yang berlatar belakang sejarah Negeri Cina, film ini tentu sangat erat dengan nilai-nilai budaya Cina, khususnya pada zaman pradinasti di Cina. Hal itu sedikit banyak tentu tergambar dari kostum-kostum yang digunakan, atau senjata, atau kesenian yang diangkat dalam film ini (musik, kaligrafi). Namun, bukan kapasitas saya untuk membahas hal-hal tersebut secara mendalam. Cukuplah di sini disebutkan bahwa desain kostum, senjata, maupun kesenian lain yang muncul tentu dihadirkan dengan mengupayakan kedekatan dengan apa yang lazim pada zaman itu.

Jalan Cerita

Secara sederhana, film ini merupakan salah satu film yang bermotif balas dendam. Meski demikian, tidak seperti film-film laga bermotif serupa, “Hero” menghadirkan lebih daripada sekadar upaya memenuhi tujuan utama dari tokoh protagonis. Dan di sinilah salah satu keunggulan film ini.

Alkisah, dua ribu tahun lampau, Cina terbagi menjadi tujuh kerajaan. Pada masa itu, masing-masing kerajaan saling berperang. Bertahun-tahun lamanya ketujuh kerajaan itu berperang untuk menunjukkan kedigdayaan masing-masing. Dan seperti kebanyakan perang, rakyatlah yang paling menderita. Lalu muncullah Kaisar Qin, raja yang paling gigih berjuang untuk menaklukkan seluruh Cina di bawah kekuasaannya. Dan ia dianggap sebagai musuh bersama oleh enam kerajaan lain. Dikisahkan, sejumlah pembunuh dikirim untuk membunuh Kaisar Qin.

Tersebutlah tiga pendekar kungfu yang paling ditakuti oleh Kaisar Qin. Flying Snow (diperankan oleh Maggie Cheung), Broken Sword (Tony Leung), dan Sky (Donnie Yen). Dan seorang prajurit biasa, Nameless (Jet Li) berhasil menaklukkan mereka bertiga.

Cerita di Dalam Cerita

Film Hero ini bisa kita anggap sebagai salah satu film yang menyusupkan sejumlah cerita di dalam cerita. Hal ini pertama-tama ditunjukkan oleh Nameless yang menceritakan kisah bohong bagaimana ia bertarung dan mengalahkan tiga pendekar kungfu yang ditakuti oleh Sang Kaisar. Menariknya, dari adegan-adegan yang ditampilkan, penonton diajak untuk meyakini kisah yang dituturkan oleh Nameless. Mulai dari bagaimana ia mengalahkan Sky, mengadu domba Flying Snow dan Broken Sword, lalu menaklukkan Flying Snow dalam duel.

Namun, Sang Kaisar ternyata bukan orang yang bisa ditipu begitu saja. Di sini ia menunjukkan kecerdasannya dan dalam waktu yang terbilang singkat, ia bisa menganalisa cerita karangan Nameless. Maka di sini penonton diajak untuk mendengarkan Sang Kaisar yang menuturkan versi cerita yang mendekati kejadian sebenarnya.

Memang bagi saya cukup mencurigakan juga kalau tokoh-tokoh yang diperankan oleh Maggie Cheung dan Tony Leung, apalagi Donnie Yen, harus kalah begitu saja. Seakan-akan nama mereka kalah tenar ketimbang Jet Li. Dan memang kemudian, Flying Snow dan Broken Sword memainkan peranan yang sangat penting dalam film ini. Bahkan kemudian, penonton akan mendapati bahwa bersama Nameless, keduanya merupakan tokoh protagonis. Sejak Nameless mengungkapkan cerita versinya sampai akhir cerita, ketiga tokoh ini menunjukkan peran yang dominan.

Pada sisi yang lain, saya kira penceritaan seperti itu mengalihkan penonton dari sudut pandang orang ketiga, ke sudut pandang Nameless, lalu beralih lagi ke sudut pandang Sang Kaisar, dan akhirnya kembali ke sudut pandang orang ketiga. Dengan demikian, kita mendapatkan keunikan berikut dari film ini.

Nilai Filosofis

Seperti dikemukakan seorang teman, film ini kaya akan muatan filosofis. Dengan kacamata awam saya, saya sepakat dengan pendapat teman saya ini. Salah satunya kita bisa lihat dalam tuturan strategi Nameless mengalahkan Broken Sword dan Flying Snow. Untuk misinya ini, ia menyamar sebagai seorang murid kaligrafi. Disebutkan bahwa ilmu pedang dan ilmu kaligrafi memiliki nilai intrinsik yang sama, memiliki prinsip yang sama. Dan esensi dari kaligrafi bersumber dari jiwa, sebagaimana halnya ilmu pedang, keduanya memiliki hasrat akan kebenaran dan kesederhanaan. Tidak heran kalau Nameless mengaku berusaha menemukan kelemahan Broken Sword dengan mempelajari ilmu kaligrafi jago pedang tersebut.

Hal ini sepertinya sekaligus menggambarkan bahwa dalam ilmu bela diri, bukan hanya masalah fisik yang perlu ditempa. Masalah mental menjadi hal yang vital, yang perlu ditempa. Maka ketika dalam berbagai cerita silat lain, seorang jago kungfu semakin tinggi ilmunya setelah bertapa, hal ini tampaknya bukan sekadar bumbu cerita, melainkan semacam fakta. Dengan menempa mental, ilmu akan bertambah pula. Dalam konteks film ini, dengan meningkatkan kemampuan kaligrafi, ilmu pedang bisa semakin disempurnakan dan semakin tajam.

Hal berikutnya, berkenaan dengan karakter “pedang” yang dilukiskan oleh Broken Sword. Karakter tersebut bukan sekadar teknik pedang, melainkan nilai ideal seni pedang. Pertama-tama, yang harus dicapai ialah kesatuan manusia dengan pedang. Kalau ini terwujud, bahkan rumput pun bisa menjadi senjata. Pencapaian kedua, ketika pedang hadir di dalam hati manusia. Bila terwujud, musuh sejauh seratus langkah pun bisa dijatuhkan. Namun, pencapaian yang paling utama dari seni pedang ialah ketiadaan pedang itu sendiri, baik di tangan, maupun di dalam hati. Dan ini berarti kedamaian di bumi. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk membawa damai di bumi.

Dalam adegan-adegan yang menyusul, kita bisa melihat sisi kebudayaan yang ditampilkan film ini, kaligrafi Cina. Saya kira, sebagai seni, kaligrafi merupakan salah satu seni yang sangat tinggi nilainya. Setahu saya, ada urut-urutan dalam menggoreskan setiap karakter. Bahkan konon tingkat ketebalan goresan memberikan makna yang berbeda. Dan film ini cukup menggambarkan hal tersebut lewat sejumlah adegan. Salah satunya, ketika Broken Sword menggambarkan karakter pedang dengan kuas dan cat merah, selagi Nameless dan Flying Snow menghalau ribuan anak panah yang mengarah ke sekolah kaligrafi. Adegan lain yang saya kira berusaha menggambarkan hal ini ialah ketika Broken Sword menuliskan kata yang berarti “di bawah surga”. Sayangnya, tidak digambarkan seperti apa karakter tersebut.

Mendefinisikan “Hero”

Melalui film ini, penonton dihadapkan pada pemahaman bahwa seorang yang disebut pahlawan merupakan seorang yang berani berkorban demi suatu nilai. Pertama, Broken Sword memberikan nyawanya ke tangan kekasihnya sendiri, hanya agar kekasihnya memahami makna pengorbanan yang ia lakukan. Menyadari kekeliruannya selama ini, Flying Snow menyusul kematian Broken Sword. Terakhir, Nameless sendiri, meski berkesempatan untuk membunuh Sang Kaisar, memilih tidak membunuh Sang Kaisar, setelah menyadari visi yang dimiliki Sang Kaisar, berkenaan dengan pemahaman karakter “pedang” dalam aksara Cina.

Broken Sword ternyata memahami bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar membunuh Sang Kaisar. Membunuh Kaisar Qin, tidak akan menyelesaikan masalah. Peperangan akan terus berlanjut. Artinya, orang banyak akan mengalami penderitaan lebih lama lagi. Demi mencapai nilai inilah, ia rela mengorbankan nyawanya. Demikian pula dengan Nameless yang menyadari hal ini kemudian.

Pada sisi yang lain, film ini menggambarkan nilai kepahlawanan secara berbeda. Sekilas film ini terkesan membela tirani yang diperankan oleh Kaisar Qin. Namun, yang dibela oleh Broken Sword dan Nameless sesungguhnya rakyat dari ketujuh kerajaan tersebut. Ada keyakinan bahwa dengan kekuatannya, Kaisar Qin mampu menyatukan Cina, sesuatu yang kemudian ia wujudkan pada tahun 221 SM dan memulai era dinasti kerajaan di Cina.

Pertanyaannya mungkin, mengapa Nameless akhirnya tetap dieksekusi, namun diberi pemakaman layaknya pahlawan? Tampaknya, eksekusi terpaksa dilakukan karena ia memiliki niat membunuh Sang Kaisar. Bila kaisar membebaskan Nameless begitu saja, Sang Kaisar akan dianggap sebagai raja yang tidak adil. Namun karena telah menyadarkan Sang Kaisar akan nilai mulia yang pantas diperjuangkan, Nameless dianggap layak diberi penghormatan.

Meskipun demikian, sebagaimana disampaikan seorang teman, memang patut juga dipertanyakan ialah “untuk siapakah dia mati”. Apakah seorang hero boleh mati atas nilai-nilai yang keliru? Apakah hero harus selalu mati untuk kebenaran? Apakah Nameless mati demi kebenaran?

Rasanya tidak juga. Sampai saat terakhir, dia sepertinya masih menyimpan keinginan untuk membunuh Kaisar. Kalau boleh dibilang, ia benar-benar tak jadi membunuh Kaisar hanya karena Kaisar mengungkap nilai ideal karakter “pedang”. Kita sulit mengetahui hal ini. Bukankah bisa saja Kaisar itu sekadar mengungkapkan nilai ideal yang terkandung dalam karakter “pedang” itu tanpa maksud mewujudkannya? Tapi kalau sudah sampai di sini, kita mesti melihat sejarah juga. Apakah sebagai Kaisar pertama Cina, ia memerintah dengan adil dan bijaksana atau dengan tangan besi? Oleh karena itu, berkaitan dengan definisi Hero, rasanya menarik juga melihat komentar sutradara dan beberapa pemeran soal hero atau pahlawan itu.

  • Hero is someone who behaves in an extraordinary way in unusual circumstances. (Zhang Yimou)
  • Hero is a noun. How one define a hero will change over the course of growing up. (Jet Li)
  • Since I was young, my ideal of a hero has been someone like Superman or Spiderman, because they are willing to sacrifice their lives for others. (Tony Leung)
  • A hero is an ordinary person performing an extraordinary task. (Zhang Zi Yi)
Advertisements
2 Comments leave one →
  1. August 27, 2009 5:47 am

    Jika saya diminta menulis tentang “Hero”, saya juga akan fokus pada cara bercerita film ini. Cara bercerita film ini sebenarnya sudah merupakan suatu filsafat tertentu. Itulah obsesi saya terhadap “Rashomon” karya Akira Kurosawa. Mengapa ceritanya dibuat semacam itu? Apakah ada suatu nilai filosofis yang terkandung di dalamnya? Memang, masalah definisi “hero” dapat menjadi diskusi menarik, namun nilai filosofis dalam penceritaan juga cukup menarik. Saya menduga, “Rashomon” menyimpan suatu filsafat tersembunyi dalam teknik berceritanya—saya merahasiakannya di sini-sementara “Hero” juga memiliki filsafat tersebut, tetapi dengan derajat yang tidak begitu tinggi, yaitu demi mengedepankan nilai “hero” sebagaimana diusung oleh salah satu tokohnya (anehnya, saya justru baru melihatnya setelah membaca tulisan kamu).

    Unsur-unsur simbolik dalam film ini juga patut diamati, entah sebagai unsur komplementer pada filosofi “sosok hero” yang kamu perdebatkan di bagian paling bawah entah sebagai unsur komplementer pada filosofi “cara bercerita” tadi (sebagaimana diuraikan saya di atas). Namun, unsur-unsur itu pun dapat diulas lepas dari unsur filosofis ini—katakanlah sebagai salah satu wacana budaya atau yang lain. Ini terutama terkait dengan warna-warna yang berbeda dalam setiap versi cerita.

    Saya pikir, itu saja dulu. Sori, saya tidak dapat berkomentar banyak, karena berjanji akan menonton lagi film ini setelah menyaksikan “Rashomon”. Saya takut membeberkan filsafat tersembunyi yang masih misterius dalam film Kurosawa tersebut.

    • August 27, 2009 6:18 am

      Sebenarnya, saya agak ragu ketika menulis ulasan film ini, meskipun secara amatiran. Saya tidak kenal filosofi Cina seputar seni kaligrafi. Namun, setelah mencermati pembuatan film tersebut, saya menarik kesimpulan, agak sulit mengatakan bahwa film ini dibuat tidak dengan pertimbangan aspek filosofisnya. Sebagai contoh, filosofis “pedang” itu sendiri saya temukan dari dialog Sang Kaisar setelah mengetahui maksud Nameless yang sesungguhnya. Bagaimanapun juga, toh tujuan blog ini sekadar menjadi semacam pengingat cerita dan nilai yang saya peroleh setelah menyaksikan sebuah film.

      Mengenai film “Rashomon”, saya jadi benar-benar tertarik untuk memiliki dan menyaksikannya. Kalau ada yang punya film tersebut dan berniat menggadaikannya, mohon beri tahu saya. Dan saat saya sudah menyaksikan film tersebut, saya akan sangat menikmati membaca tulisan Mata Dunia soal “Rashomon”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: