Skip to content

Serpih Perang Dunia II dalam Valkyrie

December 7, 2009

You did not bear the shame you restricted sacrificing your life for freedom, justice, and honor. 
From the German Resistance Memorial, Berlin

Dari sekian banyak jenis film, saya kira film perang merupakan salah satu film yang bisa dikategorikan sebagai film semi-dokumenter. Memang ada persyaratan lain untuk kategori tersebut. Selain mengedepankan aspek peristiwa sejarahnya, film perang itu juga harus minim dramatisasi.

Salah satu film perang yang paling banyak dibuat mungkin adalah film mengenai Perang Dunia. Meskipun hampir tidak pernah menyaksikan film berlatar Perang Dunia I (kalaupun ada, saya sudah lupa judulnya), ternyata banyak sekali film berlatar demikian (silakan kunjungi Wikipedia untuk melihat daftarnya). Sementara itu, ada banyak pula yang mengangkat Perang Dunia II. Sebut saja ”The Flag of Our Country”, ”Letters from Iwo Jima”, ”Tora, Tora, Tora”, ”Pearl Harbour”, atau serial ”The Band of Brothers”. Dan kedalam bilangan ini, kita bisa tambahkan lebih banyak film lagi, termasuk ”Valkyrie”.

Plot maju
Secara umum, film-film perang yang bernuansa semi-dokumenter cenderung beralur maju. Kronologi merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebab tujuan utamanya bukanlah membuat penikmat berpikir dalam-dalam, seperti banyak kita temukan dalam film thriller atau sejumlah film aksi dan film horor. Tujuan utamanya, saya kira, menunjukkan fakta. Kecuali memang menampilkan fakta bukanlah tujuan utama film tersebut.

Pusat film ”Valkyrie” ada pada sekelompok petinggi militer dan politik yang berniat membunuh Hitler dan mengakhiri perang. Mereka menyadari pemerintahan Hitler telah menimbulkan kesengsaraan bagi banyak orang, terutama kaum Yahudi. Dan mereka ingin memulihkan citra Jerman di mata dunia.

Ujung tombak gerakan ini ada pada tokoh bernama Claus von Stauffenberg, yang semula ditempatkan di divisi panser 10 di Afrika. Ia memandang Hitler tidak hanya telah menjadi musuh dunia, tetapi juga musuh Jerman. Ia merasa terpanggil untuk tidak lagi menyelamatkan negaranya, tetapi menyelamatkan umat manusia. Nasib naas menimpanya di Afrika. Sebuah serangan udara membuatnya kehilangan pergelangan tangan kanan, dua jari tangan kiri, dan mata kirinya.

Segera sesudah Stauffenberg kembali dari Afrika, gerakan bawah tanah ini mendekatinya dan mengajaknya untuk bergabung. Hal ini dilakukan setelah upaya pembunuhan Hitler yang pertama (dalam film ini) gagal. Karena ia ingin mengubah Jerman, Stauffenberg segera menerima tawaran tersebut.

Operasi Valkyrie
Operasi Valkyrie merupakan rancangan Hitler. Tujuannya semata-mata untuk melindungi pemerintahan seandainya berada dalam keadaan terancam. Sejumlah besar tentara cadangan dipersiapkan di seluruh Berlin untuk operasi ini. Operasi ini dirancang untuk mengamankan rakyat sipil atau menahan. Stauffenberg berniat memanfaatkan operasi ini untuk menghancurkan rezim Nazi. Namun, operasi ini baru benar-benar berhasil jika Hitler berhasil dibunuh.

Bagaimanapun juga, upaya membunuh Hitler bukanlah urusan gampang. Tidak hanya karena menjangkau Hitler itu sulit, tetapi kegagalan juga akan berakibat fatal dan akan membongkar rencana mengkudeta Hitler. Dan ketika hal itu terjadi, tidak hanya nyawa mereka yang terancam, tetapi juga seluruh keluarga mereka. Dengan kata lain, risiko kegagalannya ialah kematian.

Keberanian mengambil risiko
Harus saya akui, sejak awal film ini berhasil menciptakan ketegangan. Setelah seting beralih ke Jerman, kita diajak untuk melihat upaya pembunuhan Hitler yang pertama dalam film ini. Sebuah peledak disembunyikan dalam sebuah botol minuman. Namun, upaya yang dilakukan oleh Jenderal Treskov ini gagal, peledak tersebut tidak tersulut. Maka muncul kekhawatiran munculnya kecurigaan pada Treskov.

Setelah Stauffenberg direkrut dalam gerakan ini, dilakukan dua upaya pembunuhan Hitler. Upaya pertama yang langsung dilakukan oleh Stauffenberg itu mengalami kegagalan. Ia gagal menyulut peledak karena tertunda ketika meminta persetujuan atasannya untuk melakukan rencana pembunuhan tersebut.

Ketegangan berikutnya semakin terasa ketika upaya pembunuhan ketiga dalam film ini dilakukan. Termasuk ketika Stauffenberg dan stafnya berusaha merakit bom tepat di dekat lokasi rapat petinggi Nazi. Sempat merasa dicurigai, kali ini bom berhasil meledak. Meski demikian, kita masih terus merasakan ketegangan tersebut. Benarkah Hitler terbunuh oleh ledakan tersebut?

Setelah sempat terhambat, Stauffenberg berhasil meyakinkan sejumlah pihak dan Operasi Valkyrie pun mulai berlangsung. Sejumlah pejabat Nazi ditangkap dengan tuduhan berkhianat terhadap negara. Ia sendiri memimpin komando yang berpusat di kantor Jenderal Olbricht di Berlin.

Bagi yang mengetahui sejarah secara jelas, tentu akan tahu bahwa Hitler mati dengan jalan bunuh diri ketika Berlin dikepung oleh Sekutu. Ia bunuh diri pada bulan April 1945. Meskipun mengetahui fakta sejarah ini, toh film ”Valkyrie” ini masih terus menebar ketegangan. Terlebih ketika perintah penangkapan Stauffenberg diedarkan dari pihak Hitler, sementara Stauffenberg memerintahkan penangkapan semua yang berada di ”sarang serigala”.

Semua upaya tersebut benar-benar berisiko tinggi. Namun, kelompok pemberontak Hitler ini terus melangkah. Sampai mereka menyadari bahwa mereka gagal, mereka masih tetap menjunjung tinggi impian mengembalikan kemurnian Jerman sebagai negara. Kegagalan pemberontakan pada 20 Juli 1944 ini menandai berakhirnya serangkaian percobaan untuk membunuh Hitler yang semuanya mencapai lima belas kali.

”Valkyrie”, ”Hitler: The Rise of Evil”, dan ”Downfall”
Sebagai salah satu film yang berangkat dari sisi Jerman, menarik juga kalau kita melihat perbandingan ”Valkyrie” dengan ”Hitler: The Rise of Evil” dan ”Downfall”. Memang perbandingan itu pada satu sisi terkesan kurang seimbang. Namun, saya mesti jujur, justru ketiga film itulah yang notabene berusaha berangkat dari konteks Jerman yang sempat saya tonton.

Baik ”Hitler: The Rise of Evil”, maupun ”Downfall” merupakan film yang berkisah tentang Adolf Hitler. Dalam ”Hitler: The Rise of Evil”, kita diajak untuk melihat kehidupan Adolf Hitler sejak kecil hingga ia menjadi berhasil pemimpin. Sementara itu, ”Downfall” mengisahkan saat-saat terakhir sebelum Nazi dikalahkan. Jadi, bisa saja kita menyebut ”Hitler: The Rise of Evil” merupakan prolog bagi ”Downfall”.

Ketiga film tersebut jelas memiliki tujuannya masing-masing. Jika ”Valkyrie” justru mengisahkan sekelompok orang yang hendak mengembalikan kedaulatan Jerman dengan berupaya mengkudeta Hitler, ”Hitler: The Rise of Evil” mengisahkan kehidupan awal Hitler, dan ”Downfall” menggambarkan kejatuhan Hitler. Namun, saya kira di satu sisi ”Downfall” memiliki satu keunggulan yang tidak bisa ditandingi oleh film lainnya. Sebab film tersebut digarap oleh orang-orang Jerman sendiri. Dengan demikian, bahasa pengantarnya pun bahasa Jerman. Berbeda dengan dua film lain yang menggunakan bahasa Inggris. 

Rangkaian sejarah dalam film
Bagaimanapun juga, sejumlah film seputar Nazi dan Perang Dunia II ini, selain menunjukkan keragaman sudut pandang, turut merangkai sejarah juga. Sebagai contoh, tiga film yang saya singgung di atas, bisa kita urutkan secara kronologis: ”Hitler: The Rise of Evil”, ”Valkyrie”, dan ”Downfall”.

Adapun salah satu film Perang Dunia II yang cukup berhasil menyajikan dua sudut pandang ialah film ”The Flag of our Father” dengan ”Letters from Iwo Jima”. Yang pertama menggunakan sudut pandang tentara Sekutu, sedangkan yang kedua dari pihak tentara Jepang. Yang serupa dengan itu ialah ”Tora Tora Tora” dan ”Pearl Harbour”.

Khusus untuk ranah Eropa, jika hendak menyaksikan perang di Eropa dalam kerangka yang lebih luas, Anda direkomendasikan menyaksikan ”Band of Brothers”, meskipun serial tersebut berangkat dari sudut pandang tentara Sekutu yang asal Amerika Serikat. (Maka patut kita nantikan adakah versi dari Rusia atau Uni Sovyet?)

Bagaimana dengan perang yang juga terjadi di Asia Tenggara dan melibatkan Indonesia? Sejauh ini, film-film yang kita sebut sebagai film perjuangan itu digarap oleh sineas lokal. Belum ada sineas Barat yang menggarap dan menghasilkannya secara gemilang. Dalam era terdahulu, kita tentu masih mengingat film Naga Bonar, yang dilengkapi dengan sejumlah banyolan yang khas itu. Adapun yang terkini tentu saja ”Merah Putih”, yang mungkin menjadi film pertama yang digarap dengan menyertakan sejumlah kru asing.

German Resistance Memorial
Kutipan The German Resistance Memorial di atas memang saya ambil dari film ini. Tidaklah sulit untuk memahami kalimat tersebut. Nilai-nilai yang diperjuangkan sudah jelas: kebebasan (freedom), keadilan (justice), dan kehormatan (honor). Ketika seseorang berjuang untuk tiga hal ini, tidak menjadi masalah apakah perjuangannya pada akhirnya berhasil atau gagal. Itulah yang ditunjukkan oleh Stauffenberg dan rekan-rekannya. 

Keadaan yang terbalik justru tengah terjadi di negeri ini. Mereka yang memiliki otoritas tinggi, tidak lagi bersedia memperjuangkan kebebasan, keadilan, bahkan untuk kehormatan pun tidak lagi. Seolah-olah tiga nilai tersebut sudah tidak lagi berharga, sudah tidak perlu diperjuangkan lagi. Yang paling mengkhawatirkan, sudah tentu, ketika sikap otoritas tersebut menular kepada masyarakat bawah. Jika sampai terjadi, sudah tentu semua itu hanya menjadi kata-kata biasa yang tidak lagi memicu semangat. 

Saya kini berandai-andai: andaikan para pendahulu negeri ini mengetahui apa yang terjadi dengan bangsa ini pada masa sekarang, mungkinkah mereka menyesali perjuangan yang mereka lakukan? Saya kira tidak akan. Mereka akan tetap berbangga diri karena mati demi menjadi pilar kemerdekaan bangsa. Urusan yang terjadi sekarang sudah tentu tanggung jawab dan dosa para penjahat yang mempermainkan nilai-nilai kebenaran.

Advertisements
4 Comments leave one →
  1. pakdokter permalink
    December 8, 2009 4:21 pm

    Wadoouh,

    koq jadi pindah jadul? Padahal colak-colek bahasa kayaknya bagus kerna kagak ada blog yg gw tahu membahas mengenai bahasa diluar pendidikan bahasa Indo. Tapi engga kenapa tambah kerjaan, nyang perlu diperhatiin harus di-maintain, sayang kan udah di karbit eh terlantar…:) Nyang ini juga bagus, waduh ampe lupa apa nama blog-nya, kerna jarang ada blog Indo ttg filem Asia Timur. Gw usul, engga perlu malu kalo ngeliat referensi blog filem yg laen sebagai pembanding dan penambah wawasan. Well, selamat Raka buat blog barunya. Maju teyus, nge-blog bok!

    • December 10, 2009 11:42 am

      Ha, ha. Blog ini memang dibuat sebagai semacam pelarian dari Corat-Coret Bahasa. Sudah tentu Corat-Coret Bahasa akan saya perhatikan. Yang jelas, sebelum tahun ini berakhir, saya akan menulis untuk blog tersebut.

      Terima kasih untuk dukungan dan semangatnya, Pak.

  2. December 10, 2009 2:27 am

    Film Indonesia berlatar belakang perang dunia kedua, yang paling terkenal adalah ”Serangan Fajar” dengan maskotnya adalah Temon 😛

    • December 10, 2009 11:43 am

      Sepertinya saya pernah dengar judul itu. Dulu sekali mungkin pernah nonton juga. Apa film itu yang berkenaan dengan Serangan Umum 1 Maret itu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: