Skip to content

Dunia Fantasi Inkheart

September 14, 2009

The written words. It’s a powerful thing.You have to be careful with it.

Mungkin banyak orang yang akan mengingat kisah Alice’s Adventure in Wonderland begitu mendengar frasa ”dunia fantasi”. Cerita klasik yang berlanjut dengan Through the Looking-Glass itu ditulis oleh Charles Lutwidge Dodgson (1832-1898) yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll. Karya Carroll tersebut mengisahkan petualangan Alice di negeri ajaib yang diawali dengan upayanya mengejar seekor kelinci putih. Dan kisah Alice hanya salah satu dari sekian banyak cerita fantasi yang pernah ada.

Kepopuleran dongeng-dongeng dan cerita-cerita fantasi lain mendorong industri perfilman mengangkatnya ke layar lebar, entah dalam bentuk animasi, pun dalam bentuk live action. Selain Alice’s Adventure in Wonderland karya Lewiss Carroll, karya-karya H.C. Andersen pun turut difilmkan. Belum lagi The Chronicle of Narnia karya C.S. Lewis.

Pada bulan Januari 2009 lalu, perbendaharaan film yang diangkat dari buku semakin bertambah dengan hadirnya ”Inkheart”. Film yang juga dibintangi oleh Brendan Fraser itu diangkat dari novel fantasi terlaris berjudul sama karya penulis asal Jerman, Cornelia Funke. Dan sebagai sebuah film fantasi, ”Inkheart” terbilang cukup menarik.

Sebagai buku, Inkheart merupakan buku pertama dari trilogi yang ditulis Funke. Sekuel-sekuelnya ialah Inkspell dan Inkdeath sudah diterbitkan empat dan dua tahun yang lalu. Inkspell diterbitkan pada 1 Oktober 2005, sedangkan Inkdeath sudah terbit pada 28 September 2007 di Jerman. Inkheart sendiri mendapat respons yang positif. Selain dari Kirkus Reviews, sebuah jurnal ulasan buku di AS, The New York Times Books juga memuji buku tersebut dengan menyebutnya sebagai buku yang ”penuh dengan percikan fairy dust ajaib”.

Dengan pujian sedemikian, bagaimana dengan filmnya?

Silvertongue
Versi film ini diawali dengan Mortimer Folchart yang membacakan sebuah dongeng, The Red Riding Hood. Ia tidak mengetahui kemampuannya yang membawa keluar hal-hal tertentu yang ia sebutkan dalam buku tersebut. Sambil terus membacakannya kepada Meggie, putrinya dan Resa, ia tidak menyadari telah mengeluarkan kerudung merah dari buku yang ia bacakan. Itulah kemampuan yang dimiliki orang-orang yang disebut Silvertongue.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa film ini mirip dengan ”Bed Time Stories”. Meski sampai saat menulis ulasan ini saya belum pernah menyaksikan film tersebut, saya menjamin ”Inkheart” adalah film yang jelas berbeda.

Kemampuannya ini ternyata mengundang masalah. Setelah mengeluarkan Dustfinger, salah satu tokoh dari Inkheart, ia justru mengeluarkan Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari novel yang sama. Pada saat itulah ia mendapat luka di lengan dari Basta, sekaligus menghadapi fakta yang lebih menyakitkan: istrinya masuk ke Inkworld! Sejak itulah ia tidak pernah lagi membacakan cerita kepada Meggie.

Didorong kerinduan untuk mengeluarkan istrinya dari Inkworld, Mortimer Folchart memburu Inkheart ke seluruh penjuru Eropa. Tidak jelas apa yang terjadi dengan Inkheart yang ia miliki sebelumnya. Berbagai toko buku tua ia masuki beserta Meggie, putrinya. Namun, buku tersebut tak kunjung ia temukan. Sampai akhirnya ia tiba di toko buku tua lainnya.

Namun, di situlah Mortimer kembali bertemu Dustfinger. Permintaannya cuma satu, yaitu agar Mo mengembalikannya ke Inkworld agar ia bisa bertemu dengan anak dan istrinya lagi. Namun, Mo malah menghindar darinya karena kekhawatirannya tidak mampu mengendalikan kemampuannya.

Dustfinger yang kecewa, terpaksa bekerja sama dengan Capricorn, meskipun tahu bahwa Capricorn bukan orang baik-baik. Melalui orang-orang suruhannya, termasuk Basta, Capricorn akhirnya berhasil menangkap Mo dan Meggie yang kini berada di Italia, di rumah Elinor Loredan, yang juga dibawa ke istana persembunyian Capricorn.

Capricorn yang ternyata tidak berniat kembali ke Inkworld, membutuhkan Mo untuk mengeluarkan berbagai hal dari dunia fantasi. Alasannya sederhana. Meskipun memiliki seorang yang bernama Darius dan memiliki kemampuan sama, orang ini ternyata gagap. Akibatnya, wajah tokoh-tokoh yang keluar memiliki tulisan. Dengan kata lain, apa yang keluar dari buku yang ia baca menjadi tidak sempurna.

Dustfinger yang menuntut Capricorn untuk memenuhi janjinya harus gigit jari. Ia ditipu Capricorn. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Capricorn pun membakar buku yang berhasil ditemukan Mo. Pupuslah harapan Mo untuk mengeluakan Resa, istrinya, dari Inkworld. Pupus pula harapan Dustfinger untuk kembali ke Inkworld.

Sudah habiskah harapan? Tidak! Mereka berniat mencari Fenoglio, sambil berharap sang penulis Inkheart itu masih memiliki salinan buku langka tersebut. Dibantu oleh Dustfinger yang menyesal akan keputusannya, ia membantu Mo, Meggie, Elinor, dan Farid, tokoh yang keluar saat Mo membacakan Seribu Satu Malam, mereka melarikan diri dari kastil. Namun, tentu saja kita tahu bahwa cerita ini tidak akan berakhir sedemikian mudah.

Sedikit rumit
Meskipun filmnya relatif sederhana untuk diikuti, harus saya akui, cerita yang disajikan lumayan rumit. Cerita Inkheart ini lumayan kompleks kalau kita pikirkan lebih lanjut, sampai kita mungkin akan merasa perlu ada semacam penjelasan tertentu. Pertama, kemampuan Mo mengeluarkan tokoh-tokoh yang ia bacakan dan kompensasinya yang mengakibatkan tokoh dari dunia nyata yang masuk ke Inkworld. Dalam film ini, tampaknya siapa yang masuk Inkworld sama sekali tidak ia ketahui, bahkan ia tidak bisa mengaturnya. Mungkin itulah yang membuatnya takut mengulangi kejadian tiga tahun sebelumnya ketika ia mengeluarkan Dustfinger, Capricorn, dan Basta, namun memasukkan Resa ke Inkworld.

Dari situ, muncul masalah berikutnya. Bagaimana membawa tokoh-tokoh yang keluar kembali ke Inkworld? Meski dalam film itu diceritakan caranya cukup dengan membacanya kembali, bagian mana yang mesti dibaca sehingga tokoh itu benar-benar bisa kembali? Bagaimana pula dengan orang dari dunia nyata yang malah masuk ke Inkworld? Secara khusus, bagaimana cara Darius mengeluarkan Resa dari Inkworld? Dan bila demikian, adakah tokoh dari dunia nyata yang masuk ke Inkworld, atau justru tokoh dari Inkworld malah bisa kembali ke dunianya karena Resa sudah dibacakan keluar?

Apakah hal-hal tersebut muncul sebagai konsekuensi adaptasi ke layar lebar? Rasanya mungkin saja. Sebagaimana adaptasi ke layar lebar tentu akan memengaruhi alur cerita yang digunakan, beberapa kekurangan bisa saja muncul dan mengakibatkan pertanyaan yang sepertinya tidak terjawab itu. Oleh karena itu, kita sepertinya perlu melihat versi novel untuk memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan di atas memang dijawab di novel atau tidak, sekaligus melihat sejauh mana perbedaan versi layar lebar dengan versi novel.

Hal-hal di atas ini tampaknya menjadi salah satu titik yang diserang kritikus. Kirk Honeycutt dari The Hollywood Reporter menilai film ini tidak menunjukkan kualitas sebagaimana dimiliki novelnya yang telah diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa. Nilai kurang pun bertambah mengingat film ini digarap oleh Iain Softley dengan skenario yang ditulis oleh pemenang Pulitzer Prize untuk kategori drama, David Lindsay-Abaire.

Kita juga akan mendapati bahwa kemampuan Mo ternyata diwarisi oleh Meggie. Tanda-tanda ini kita lihat ketika Meggie berada sendirian di perpustakaan Elinor. Ia mendengarkan bisikan-bisikan yang kita yakini berasal dari buku-buku yang ada di perpustakaan itu. Ini persis seperti ketika Mo menemukan Inkheart di toko buku tua. Belakangan kita melihat kemampuan Meggie justru lebih berkembang karena kegemarannya menulis cerita. Hal ini pula yang kelak menyelamatkan dunia dari ancaman The Shadow.

Menanamkan kecintaan pada buku
Meskipun (mungkin) ditemukan banyak perbedaan antara film dan novel Funke ini dan mendapat kritik keras tadi, toh seperti dikatakan oleh Billy Goodykoontz dari The Arizona Republic, film ini cukup menghibur. Jalan cerita yang disajikan relatif mudah dipahami. Selain itu, film ini juga mengajarkan sejumlah nilai berharga bagi kita.

Hal pertama tentu berkenaan dengan buku. Mortimer dan Teresa sudah menanamkan hal ini kepada Meggie dengan membacakan buku sejak putri mereka itu masih bayi. Tindakan ini tidak sekadar upaya untuk menanamkan kecintaan pada buku. Para ahli berpendapat bahwa membacakan buku kepada bayi sangat bermanfaat. Selain mengajarkan komunikasi padanya, membaca dengan suara nyaring juga memperkenalkan konsep-konsep, seperti bilangan, huruf, warna, dan bentuk. Kemampuan mendengar, mengingat, dan kosa kata juga akan bertambah, sekaligus memberinya pengetahuan tentang dunia di sekitar dirinya.

Lalu kita juga diingatkan akan kekuatan buku. Dalam salah satu dialognya, Mo berkata kepada Meggie, ”The written words. It’s a powerful thing. You have to be careful with it.” Kalau dikaitkan dengan kisah ini, perkataan itu sepertinya hendak mengingatkan Meggie agar tidak mengikuti kesalahan Mo yang justru menimbulkan masalah: mengeluarkan tokoh-tokoh dalam Inkheart, namun malah menjerumuskan istrinya ke dalam Inkworld.

Sudah umum diketahui bahwa buku membuka pintu ke dunia penuh imajinasi. Dengan buku, seseorang bisa berkelana ke seluruh penjuru dunia hanya dari satu ruangan. Perhatikanlah apa yang dikatakan Elinor kepada Meggie: ”St. Petersburg, Paris, Middle Earth, distant planets, and Shangri-la. And never have to leave this room.” Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa membaca buku sama dengan bertualang, plus berbagai hal yang ditawarkan kepada pembacanya.

Namun, dari dialog tersebut secara tidak langsung penonton yang peka akan langsung mengenal novel-novel yang berhubungan dengan lokasi yang disebutkan Elinor. St. Petersburg, misalnya, bisa saja berhubungan dengan novel terkenal berjudul Petersburg (1913), karya Andrei Bely (nama aslinya ialah Boris Nikolaevich Bugaev) asal Rusia. Novel ini disebut-sebut sebagai karya simbolis yang menghadirkan ambisi seorang modernis bernama James Joyce. Adapun untuk Kota Paris sendiri, ada banyak kemungkinan. Bisa saja salah satu novel yang dimaksud ialah Le Ventre de Paris (1873) karya Émile Zola. Dalam novel ini, Zola mengisahkan pelarian seorang tokoh politik bernama Florent, Lisa Quenu dan keluarganya, yang menyembunyikannya. Kalau Middle Earth, rasanya semua kita tahu novel apa yang dirujuk: trilogi The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien. Bagaimana dengan distant planets? Agak sulit bagi saya untuk menyebut contoh novel yang berhubungan dengan hal ini. Salah satu yang saya temukan ialah Dune (1965) karya Frank Herbert yang mengisahkan kehidupan manusia pada masa 20.000 tahun mendatang. Saat itu manusia berhasil hidup di sejumlah planet, seperti III Delta Kaising, Arrakis, Hagal, Junction, Lampadas, dan lain-lain. Terakhir, Shangri-la yang tampaknya merujuk pada novel karya penulis Inggris, James Hilton, Lost Horizon (1933)

Semua contoh itu tampaknya hendak menjadi semacam penekanan akan nilai lebih dari buku. Membaca buku akan mempertajam daya imajinasi kita. Lewat deskripsi yang baik, setiap pembaca diajak untuk seolah-olah berada di tempat-tempat tertentu. Aspek imajinasi seperti ini saya kira tidak akan bisa kita temukan dengan menonton televisi atau film. Maka tidak heran kalau sangat disarankan agar kita membaca bukunya terlebih dahulu sebelum menyaksikan filmnya. (Sayangnya, saya sendiri belum membaca Inkheart.)

Tidak hanya soal mencintai literatur saja yang bisa kita pelajari dari film ini. Kita melihat sikap egois seseorang dapat mengakibatkan masalah baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Mo dan Dustfinger yang semula saling memperebutkan Inkheart hanya untuk kepentingannya sendiri harus gigit jari karena Capricorn membakar buku yang ditemukan dengan susah payah itu. Nilai-nilai kesetiaan juga diuji, yaitu ketika Dustfinger diperhadapkan pada pilihan menolong Resa atau melarikan diri bersama Mo dan yang lainnya lewat tornado yang muncul dari The Wizard of Oz.

Simpulan
Meskipun memiliki sejumlah kekurangan, toh film ini tetap layak menjadi pilihan. Seluruh anggota keluarga pasti akan terhibur. Hanya saja para orang tua perlu memberi penjelasan pada banyak bagian dari film ini kepada anak-anak mereka yang masih relatif kecil. Namun, jangan lupa juga bahwa film tidak pernah bisa benar-benar menaklukkan kekuatan buku.


Advertisements
6 Comments leave one →
  1. September 14, 2009 6:09 pm

    Fantasi island is my soul……..sampai aq buat novel yang berjalan di dunia itu,i like that…nice posting…..salam kenal

    • September 15, 2009 8:48 am

      Salam kenal juga. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Kalau bukunya sudah jadi, jangan lupa memberitahukan kepada saya ya.

  2. September 15, 2009 3:09 am

    Sori, gak bisa komen. Bukan hanya belum nonton, tapi saya memang agak “gimana gitu” sama Brendan Fraser. Dia memang agak lucu, jadi, yah gimana yah….? Lalu, kesamaan dengan “Bedtime Stories” juga agak kuat..walau dengan perspektif berbeda.

    Tapi, poin “menanamkan kecintaan pada buku” barangkali salah satu unsur positif dari film ini.

    • September 15, 2009 8:49 am

      Mungkin satu-satunya nilai yang penting dari versi film ini ialah dorongan untuk mencintai literatur, plus membiasakan untuk membacakan dongeng atau cerita kepada anak-anak sebagai pengantar tidur. Meski demikian, saya kurang setuju kalau ”Inkheart” dianggap mirip ”Bedtime Stories” karena saya kira yang sebaliknyalah yang terjadi, melihat bahwa Tintenherz (Inkheart) terbit beberapa tahun sebelum ”Bedtime Stories” muncul.

      Nah, kalau Anda ternyata tidak tertarik dengan Brendan Fraser, mungkin ada baiknya jika membaca novelnya daripada menyaksikan filmnya. Sekadar informasi, ternyata tokoh Mortimer Folchart itu justru diinspirasi oleh Brendan Fraser. Setidaknya begitulah pengakuan sang penulis trilogi Inkworld tersebut. Itu pulalah alasan mengapa Brendan Fraser ”dipaksa” menjadi Mortimer Folchart, meski semula yang bersangkutan keberatan.

      • September 16, 2009 1:38 am

        Kadang, kita menonton suatu film yang dapat kita apresiasi sekitar 20% saja. Namun, 20% itu jauh lebih menarik ketimbang yang 80% yang biasa saja (atau justru jelek). Saya merasa, 20% dari film ini yang bisa menutup yang 80% adalah “pengenalan para penonton pada literature dan buku pada umumnya”. Namun, karena saya belum menonton, saya percaya, film ini pun pasti bagus dalam hal teknik visual (sebagaimana biasa dalam film Hollywood) dan juga plot yang tentu sangat menyentuh bagi penonton pada umumnya. Jadi, 20% berubah menjadi 50-60%.

        Namun, Brendan Fraser memang salah satu unsur “kelemahan” film ini. Saya merasa, Adam Sandler justru lebih bagus aktingnya (ini cuma penilaian subjektif saja). Namun, saya percaya, film ini punya sarat pesan dan visualisasi yang menarik. Brendan Fraser sempat “diselamatkan” kariernya oleh trilogy “Mummy”. Wajahnya, terlalu konyol dan dia jarang dapat peran yang menarik. Adam Sandler, Ben Stiller, bahkan Jim Carrey jauh lebih variatif dalam permainan wajah/raut mukanya dalam film-film mereka. Praktis, Brendan Fraser tidak banyak mengolah raut muka yang variatif dalam film-filmnya. Intinya—ini menurut saya—dia seolah-olah tidak banyak “berbeda” di antara satu film dengan film lainnya.

      • September 16, 2009 1:45 am

        Well, saya memang tidak membahas para pemerannya karena bagi saya itu kurang menarik. Mungkin akan berbeda kalau misalnya pemeran dalam film tersebut meraih penghargaan tertentu sampai memang harus dicermati apa penghargaan itu memang pantas atau tidak. (Itu yang saya lakukan, sedikit, pada ”Departures”.) Hanya saja kalau diamati, komentar tentang Tuan Brendan itu memang ada benarnya juga. Tidak ada yang membekas dari perannya, baik dari seri mumi-mumian itu, sampai yang terakhir ini. Jim Carrey, nomor satu, terutama setelah saya menyaksikan ”The Number 23”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: