<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>영화 애인</title>
	<atom:link href="http://yeonghwaaein.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com</link>
	<description>Some words about movie</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Dec 2009 18:19:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yeonghwaaein.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>영화 애인</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yeonghwaaein.wordpress.com/osd.xml" title="영화 애인" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yeonghwaaein.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Serpih Perang Dunia II dalam Valkyrie</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/12/07/serpih-perang-dunia-ii-dalam-valkyrie/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/12/07/serpih-perang-dunia-ii-dalam-valkyrie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 17:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Adolf Hitler]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Nighy]]></category>
		<category><![CDATA[Bryan Singer]]></category>
		<category><![CDATA[Christian Berkel]]></category>
		<category><![CDATA[Film perang]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Kenneth Branagh]]></category>
		<category><![CDATA[Metro-Goldwyn-Mayer]]></category>
		<category><![CDATA[NAZI]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia II]]></category>
		<category><![CDATA[SS]]></category>
		<category><![CDATA[Terence Stamp]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Kretschamnn]]></category>
		<category><![CDATA[Tom Cruise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[You did not bear the shame you restricted sacrificing your life for freedom, justice, and honor.  From the German Resistance Memorial, Berlin Dari sekian banyak jenis film, saya kira film perang merupakan salah satu film yang bisa dikategorikan sebagai film semi-dokumenter. Memang ada persyaratan lain untuk kategori tersebut. Selain mengedepankan aspek peristiwa sejarahnya, film perang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=89&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Valkyrie" src="http://www.cinemablend.com/images/reviews/2417/_12223868517814.jpg" alt="" width="308" height="431" /></p>
<p style="text-align:center;"><em>You did not bear the shame you restricted sacrificing your life for freedom, justice, and honor. <br />
<span style="font-style:normal;">From the German Resistance Memorial, Berlin</span></em></p>
<p>Dari sekian banyak jenis film, saya kira film perang merupakan salah satu film yang bisa dikategorikan sebagai film semi-dokumenter. Memang ada persyaratan lain untuk kategori tersebut. Selain mengedepankan aspek peristiwa sejarahnya, film perang itu juga harus minim dramatisasi.</p>
<p>Salah satu film perang yang paling banyak dibuat mungkin adalah film mengenai Perang Dunia. Meskipun hampir tidak pernah menyaksikan film berlatar Perang Dunia I (kalaupun ada, saya sudah lupa judulnya), ternyata banyak sekali film berlatar demikian (silakan kunjungi Wikipedia untuk melihat daftarnya). Sementara itu, ada banyak pula yang mengangkat Perang Dunia II. Sebut saja ”The Flag of Our Country”, ”Letters from Iwo Jima”, ”Tora, Tora, Tora”, ”Pearl Harbour”, atau serial ”The Band of Brothers”. Dan kedalam bilangan ini, kita bisa tambahkan lebih banyak film lagi, termasuk ”Valkyrie”.</p>
<p><strong><span id="more-89"></span>Plot maju<br />
<span style="font-weight:normal;">Secara umum, film-film perang yang bernuansa semi-dokumenter cenderung beralur maju. Kronologi merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebab tujuan utamanya bukanlah membuat penikmat berpikir dalam-dalam, seperti banyak kita temukan dalam film <em>thriller</em> atau sejumlah film aksi dan film horor. Tujuan utamanya, saya kira, menunjukkan fakta. Kecuali memang menampilkan fakta bukanlah tujuan utama film tersebut.</span></strong></p>
<p>Pusat film ”Valkyrie” ada pada sekelompok petinggi militer dan politik yang berniat membunuh Hitler dan mengakhiri perang. Mereka menyadari pemerintahan Hitler telah menimbulkan kesengsaraan bagi banyak orang, terutama kaum Yahudi. Dan mereka ingin memulihkan citra Jerman di mata dunia.</p>
<p>Ujung tombak gerakan ini ada pada tokoh bernama Claus von Stauffenberg, yang semula ditempatkan di divisi panser 10 di Afrika. Ia memandang Hitler tidak hanya telah menjadi musuh dunia, tetapi juga musuh Jerman. Ia merasa terpanggil untuk tidak lagi menyelamatkan negaranya, tetapi menyelamatkan umat manusia. Nasib naas menimpanya di Afrika. Sebuah serangan udara membuatnya kehilangan pergelangan tangan kanan, dua jari tangan kiri, dan mata kirinya.</p>
<p>Segera sesudah Stauffenberg kembali dari Afrika, gerakan bawah tanah ini mendekatinya dan mengajaknya untuk bergabung. Hal ini dilakukan setelah upaya pembunuhan Hitler yang pertama (dalam film ini) gagal. Karena ia ingin mengubah Jerman, Stauffenberg segera menerima tawaran tersebut.</p>
<p><strong>Operasi Valkyrie<br />
<span style="font-weight:normal;">Operasi Valkyrie merupakan rancangan Hitler. Tujuannya semata-mata untuk melindungi pemerintahan seandainya berada dalam keadaan terancam. Sejumlah besar tentara cadangan dipersiapkan di seluruh Berlin untuk operasi ini. Operasi ini dirancang untuk mengamankan rakyat sipil atau menahan. Stauffenberg berniat memanfaatkan operasi ini untuk menghancurkan rezim Nazi. Namun, operasi ini baru benar-benar berhasil jika Hitler berhasil dibunuh.</span></strong></p>
<p><strong></strong> Bagaimanapun juga, upaya membunuh Hitler bukanlah urusan gampang. Tidak hanya karena menjangkau Hitler itu sulit, tetapi kegagalan juga akan berakibat fatal dan akan membongkar rencana mengkudeta Hitler. Dan ketika hal itu terjadi, tidak hanya nyawa mereka yang terancam, tetapi juga seluruh keluarga mereka. Dengan kata lain, risiko kegagalannya ialah kematian.</p>
<p><strong>Keberanian mengambil risiko<br />
<span style="font-weight:normal;">Harus saya akui, sejak awal film ini berhasil menciptakan ketegangan. Setelah seting beralih ke Jerman, kita diajak untuk melihat upaya pembunuhan Hitler yang pertama dalam film ini. Sebuah peledak disembunyikan dalam sebuah botol minuman. Namun, upaya yang dilakukan oleh Jenderal Treskov ini gagal, peledak tersebut tidak tersulut. Maka muncul kekhawatiran munculnya kecurigaan pada Treskov.</span></strong></p>
<p>Setelah Stauffenberg direkrut dalam gerakan ini, dilakukan dua upaya pembunuhan Hitler. Upaya pertama yang langsung dilakukan oleh Stauffenberg itu mengalami kegagalan. Ia gagal menyulut peledak karena tertunda ketika meminta persetujuan atasannya untuk melakukan rencana pembunuhan tersebut.</p>
<p>Ketegangan berikutnya semakin terasa ketika upaya pembunuhan ketiga dalam film ini dilakukan. Termasuk ketika Stauffenberg dan stafnya berusaha merakit bom tepat di dekat lokasi rapat petinggi Nazi. Sempat merasa dicurigai, kali ini bom berhasil meledak. Meski demikian, kita masih terus merasakan ketegangan tersebut. Benarkah Hitler terbunuh oleh ledakan tersebut?</p>
<p>Setelah sempat terhambat, Stauffenberg berhasil meyakinkan sejumlah pihak dan Operasi Valkyrie pun mulai berlangsung. Sejumlah pejabat Nazi ditangkap dengan tuduhan berkhianat terhadap negara. Ia sendiri memimpin komando yang berpusat di kantor Jenderal Olbricht di Berlin.</p>
<p>Bagi yang mengetahui sejarah secara jelas, tentu akan tahu bahwa Hitler mati dengan jalan bunuh diri ketika Berlin dikepung oleh Sekutu. Ia bunuh diri pada bulan April 1945. Meskipun mengetahui fakta sejarah ini, toh film ”Valkyrie” ini masih terus menebar ketegangan. Terlebih ketika perintah penangkapan Stauffenberg diedarkan dari pihak Hitler, sementara Stauffenberg memerintahkan penangkapan semua yang berada di ”sarang serigala”.</p>
<p>Semua upaya tersebut benar-benar berisiko tinggi. Namun, kelompok pemberontak Hitler ini terus melangkah. Sampai mereka menyadari bahwa mereka gagal, mereka masih tetap menjunjung tinggi impian mengembalikan kemurnian Jerman sebagai negara. Kegagalan pemberontakan pada 20 Juli 1944 ini menandai berakhirnya serangkaian percobaan untuk membunuh Hitler yang semuanya mencapai lima belas kali.</p>
<p><strong>”Valkyrie”, ”Hitler: The Rise of Evil”, dan ”Downfall”<br />
<span style="font-weight:normal;">Sebagai salah satu film yang berangkat dari sisi Jerman, menarik juga kalau kita melihat perbandingan ”Valkyrie” dengan ”Hitler: The Rise of Evil” dan ”Downfall”. Memang perbandingan itu pada satu sisi terkesan kurang seimbang. Namun, saya mesti jujur, justru ketiga film itulah yang notabene berusaha berangkat dari konteks Jerman yang sempat saya tonton.</span></strong></p>
<p>Baik ”Hitler: The Rise of Evil”, maupun ”Downfall” merupakan film yang berkisah tentang Adolf Hitler. Dalam ”Hitler: The Rise of Evil”, kita diajak untuk melihat kehidupan Adolf Hitler sejak kecil hingga ia menjadi berhasil pemimpin. Sementara itu, ”Downfall” mengisahkan saat-saat terakhir sebelum Nazi dikalahkan. Jadi, bisa saja kita menyebut ”Hitler: The Rise of Evil” merupakan prolog bagi ”Downfall”.</p>
<p>Ketiga film tersebut jelas memiliki tujuannya masing-masing. Jika ”Valkyrie” justru mengisahkan sekelompok orang yang hendak mengembalikan kedaulatan Jerman dengan berupaya mengkudeta Hitler, ”Hitler: The Rise of Evil” mengisahkan kehidupan awal Hitler, dan ”Downfall” menggambarkan kejatuhan Hitler. Namun, saya kira di satu sisi ”Downfall” memiliki satu keunggulan yang tidak bisa ditandingi oleh film lainnya. Sebab film tersebut digarap oleh orang-orang Jerman sendiri. Dengan demikian, bahasa pengantarnya pun bahasa Jerman. Berbeda dengan dua film lain yang menggunakan bahasa Inggris. </p>
<p><strong>Rangkaian sejarah dalam film<br />
<span style="font-weight:normal;">Bagaimanapun juga, sejumlah film seputar Nazi dan Perang Dunia II ini, selain menunjukkan keragaman sudut pandang, turut merangkai sejarah juga. Sebagai contoh, tiga film yang saya singgung di atas, bisa kita urutkan secara kronologis: ”Hitler: The Rise of Evil”, ”Valkyrie”, dan ”Downfall”.</span></strong></p>
<p>Adapun salah satu film Perang Dunia II yang cukup berhasil menyajikan dua sudut pandang ialah film ”The Flag of our Father” dengan ”Letters from Iwo Jima”. Yang pertama menggunakan sudut pandang tentara Sekutu, sedangkan yang kedua dari pihak tentara Jepang. Yang serupa dengan itu ialah ”Tora Tora Tora” dan ”Pearl Harbour”.</p>
<p>Khusus untuk ranah Eropa, jika hendak menyaksikan perang di Eropa dalam kerangka yang lebih luas, Anda direkomendasikan menyaksikan ”Band of Brothers”, meskipun serial tersebut berangkat dari sudut pandang tentara Sekutu yang asal Amerika Serikat. (Maka patut kita nantikan adakah versi dari Rusia atau Uni Sovyet?)</p>
<p>Bagaimana dengan perang yang juga terjadi di Asia Tenggara dan melibatkan Indonesia? Sejauh ini, film-film yang kita sebut sebagai film perjuangan itu digarap oleh sineas lokal. Belum ada sineas Barat yang menggarap dan menghasilkannya secara gemilang. Dalam era terdahulu, kita tentu masih mengingat film Naga Bonar, yang dilengkapi dengan sejumlah banyolan yang khas itu. Adapun yang terkini tentu saja ”Merah Putih”, yang mungkin menjadi film pertama yang digarap dengan menyertakan sejumlah kru asing.</p>
<p><strong>German Resistance Memorial<br />
</strong>Kutipan The German Resistance Memorial di atas memang saya ambil dari film ini. Tidaklah sulit untuk memahami kalimat tersebut. Nilai-nilai yang diperjuangkan sudah jelas: kebebasan (<em>freedom</em>), keadilan (<em>justice</em>), dan kehormatan (<em>honor</em>). Ketika seseorang berjuang untuk tiga hal ini, tidak menjadi masalah apakah perjuangannya pada akhirnya berhasil atau gagal. Itulah yang ditunjukkan oleh Stauffenberg dan rekan-rekannya. </p>
<p>Keadaan yang terbalik justru tengah terjadi di negeri ini. Mereka yang memiliki otoritas tinggi, tidak lagi bersedia memperjuangkan kebebasan, keadilan, bahkan untuk kehormatan pun tidak lagi. Seolah-olah tiga nilai tersebut sudah tidak lagi berharga, sudah tidak perlu diperjuangkan lagi. Yang paling mengkhawatirkan, sudah tentu, ketika sikap otoritas tersebut menular kepada masyarakat bawah. Jika sampai terjadi, sudah tentu semua itu hanya menjadi kata-kata biasa yang tidak lagi memicu semangat. </p>
<p>Saya kini berandai-andai: andaikan para pendahulu negeri ini mengetahui apa yang terjadi dengan bangsa ini pada masa sekarang, mungkinkah mereka menyesali perjuangan yang mereka lakukan? Saya kira tidak akan. Mereka akan tetap berbangga diri karena mati demi menjadi pilar kemerdekaan bangsa. Urusan yang terjadi sekarang sudah tentu tanggung jawab dan dosa para penjahat yang mempermainkan nilai-nilai kebenaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=89&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/12/07/serpih-perang-dunia-ii-dalam-valkyrie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.cinemablend.com/images/reviews/2417/_12223868517814.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Valkyrie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjuangan Kaum Imigran dalam &#8220;Shinjuku Incident&#8221;</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/25/perjuangan-kaum-imigran-dalam-shinjuku-incident/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/25/perjuangan-kaum-imigran-dalam-shinjuku-incident/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 17:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Mandarin]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Wu]]></category>
		<category><![CDATA[Derek Yee]]></category>
		<category><![CDATA[Fan Bingbing]]></category>
		<category><![CDATA[imigran]]></category>
		<category><![CDATA[Jackie Chan]]></category>
		<category><![CDATA[JCE Movies Limited]]></category>
		<category><![CDATA[Masaya Kato]]></category>
		<category><![CDATA[Naoto Takenaka]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>
		<category><![CDATA[Xu Jinglei]]></category>
		<category><![CDATA[Yakuza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang menjadi negeri tujuan bagi banyak warga negara dunia. Negara-negara Asia Tenggara, Cina, Korea, bahkan negara seperti Amerika Serikat turut mengagumi negeri ini. Khusus Cina dan Korea, agak unik memang karena pada satu sisi mereka sangat membenci Jepang karena melakukan invasi dalam Perang Dunia II. Namun, mereka malah menyukai Jepang karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=57&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Shinjuku Incident" src="http://www.jc-russia.ru/filmography/img/ShinjukuIncidentPoster.jpg" alt="" width="308" height="431" />Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang menjadi negeri tujuan bagi banyak warga negara dunia. Negara-negara Asia Tenggara, Cina, Korea, bahkan negara seperti Amerika Serikat turut mengagumi negeri ini. Khusus Cina dan Korea, agak unik memang karena pada satu sisi mereka sangat membenci Jepang karena melakukan invasi dalam Perang Dunia II. Namun, mereka malah menyukai Jepang karena budaya populer yang berkembang.</p>
<p>Daya tariknya tentu tidak sebatas budaya populer. Banyak orang yang berniat ke Jepang untuk mendapatkan kesuksesan hidup: berusaha mendapat pekerjaan dan penghasilan yang baik. Sebagian melalui jalur resmi, sementara banyak pula yang masuk lewat jalur ilegal. Data dari pihak imigrasi menyebutkan, lebih dari 4.000 orang Cina masuk ke Jepang secara ilegal dalam lima tahun dan satu setengah tahun terakhir (<em>Migration News</em>, 1994). Kebanyakan mereka diselundupkan.</p>
<p><span id="more-57"></span>Tingkat kedatangan imigran gelap ini juga bertambah. <em>Migration News</em> (1994), misalnya, menyebut pada tahun 1990, 18 orang Cina datang dalam dua kelompok; pada 1992, sebanyak 396 tiba di Jepang dalam 14 kelompok; tahun 1993, 335 orang tiba dalam 7 kelompok. Lalu antara Januari dan Mei 1994, 250 imigran gelap Cina tiba di Jepang. Pada tahun 2006, diperkirakan ada lebih dari 200.000 imigran gelap di Jepang, dan kebanyakan dari Cina, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Amerika Latin (Yale Center for the Study of Globalization, 2006).</p>
<p>Namun, daripada mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik, justru sebaliknyalah yang terjadi. Kebanyakan mereka tidak dapat bekerja secara legal karena status mereka yang ilegal. Mereka terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak akan dilakukan oleh kebanyakan orang. Jenis pekerjaannya disebut 3-D: pekerjaan yang <em>dirty</em>, <em>dangerous</em>, dan <em>difficult</em>.</p>
<p><strong>”Shinjuku Incident”</strong><br />
Film ”Shinjuku Incident” merupakan cermin kehidupan para imigran gelap, khususnya yang berasal dari Cina daratan, di Jepang. Meskipun tampaknya tidak dibuka dengan urusan imigrasi ini, toh keseluruhan film ini mungkin bisa disebut representasi kehidupan perantauan Cina daratan di Jepang. Mereka yang datang lewat jalur ilegal itu digambarkan menghadapi kerasnya kehidupan: melakukan pekerjaan kasar dengan pendapatan yang tidak seberapa.</p>
<p>Dikisahkan Kepala Besi (ya, entah kenapa nama yang dipilih justru Kepala Besi; tampaknya ini terjemahan harfiah dari nama dalam bahasa Putonghoa), berangkat ke Jepang sebagai seorang imigran gelap. Tujuannya cuma satu: menemukan kekasihnya.</p>
<p>Sebagai imigran gelap, ia tentu kesulitan menghadapi kehidupan yang berat di Tokyo. Namun, komunitas perantauan ternyata menampung dan menolongnya mendapatkan pekerjaan. Tentu saja dalam status mereka sebagai imigran gelap, tidak ada pekerjaan legal yang bisa mereka peroleh. Namun, nasib yang sama ini mempersatukan mereka. Terbukti dalam beberapa peristiwa, mereka saling membantu.</p>
<p>Tujuan Kepala Besi untuk menemukan kekasihnya pada akhirnya memang tercapai. Sayangnya, sang kekasih kini telah menjadi istri seorang Jepang yang juga seorang mafia dari organisasi besar Sanwa Kai. Ini menjadi titik balik dari hidupnya.</p>
<p>Kepala Besi pada dasarnya adalah orang yang baik. Terbukti ia merasa tidak nyaman melakukan perbuatan yang tidak benar. Terdorong kerinduan untuk menolong sesama orang Cina, ia banting setir dan berubah menjadi penjahat kecil bersama teman-temannya. Hal inilah yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupnya dan membuatnya harus berhadapan dengan para mafia, baik mafia Taiwan maupun Yakuza.</p>
<p><strong>Kompleksitas Masalah</strong><br />
Film ini menggambarkan keruwetan kehidupan para imigran ilegal. Pada satu sisi, mereka berusaha menggapai kehidupan yang lebih baik. Pada sisi lain, mereka selalu dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak dapat memiliki pekerjaan yang layak. Mereka harus rela memilah-milah sampah, tertimbun sampah, bekerja di gorong-gorong yang bau, dan masih harus kucing-kucingan dengan aparat.</p>
<p>Fakta yang sesungguhnya, para pendatang memang sering dianggap sebagai warga kelas dua. Bahkan yang datang secara legal pun belum tentu mendapat kesempatan bekerja. Setidaknya, hal itu pernah dialami seorang kenalan saya, yang belakangan terpaksa kembali ke Indonesia karena tak kunjung mendapat pekerjaan.</p>
<p>Dalam film ini, Kepala Besi memang berhasil mendapatkan pengaruh. Setelah menolong Eguchi, dan memenuhi permintaannya, Kepala Besi berhasil mendapatkan posisi dalam dunia gelap itu. Namun sebagai pendatang, ia masih harus berhadapan dengan pandangan sinis anggota mafia Jepang lain. Nakajima, bawahan Eguchi terang-terangan menyatakan kebenciannya pada Kepala Besi dan teman-temannya.</p>
<p>Keberhasilan itu ternyata menjadi berkat sekaligus mendatangkan masalah. Untuk sementara, Kepala Besi berhasil menjaga stabilitas di daerah yang didominasi oleh para pendatang dari Cina. Ia menganggap semua pengusaha di wilayahnya sebagai saudara.</p>
<p>Sayangnya, sikap Kepala Besi ini tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain. Setelah sekian lama, kekayaan yang didapat secara tidak halal itu mendatangkan bencana. Godaan untuk mendapatkan lebih banyak lagi mendorong teman-teman Kepala Besi untuk menjalankan bisnis ilegal daripada menjalankan hal yang legal sebagaimana diharapkan Kepala Besi. Dan hal ini ternyata menjadi salah satu strategi Eguchi untuk melemahkan posisi kelompok Kepala Besi.</p>
<p><strong>Trik dan intrik mafia</strong><br />
Meskipun terbilang banyak aksi penuh kekerasan, toh kita bisa menikmati sisi sentimentil Jackie Chan. Saat saudaranya, A Jie menderita karena tangannya dipotong oleh bos geng Taiwan, ia menangis. Dan adegan ini bukan karena akting, melainkan karena ia benar-benar merasakan kepedihan yang sesungguhnya sehingga air mata yang ia teteskan benar-benar air mata sungguhan.</p>
<p>Namun, bagian itu hanya menjadi segelintir adegan menyentuh dalam film ini. Sebab kita malah lebih banyak menemukan berbagai trik-intrik dunia mafia di Jepang. Perebutan daerah kekuasaan, intimidasi dengan kekerasan, perebutan posisi dan pengaruh, semua itu digambarkan di sini. Saling memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan menjadi hal lumrah, dan itu digambarkan di sini. Eguchi memanfaatkan Kepala Besi untuk mengamankan posisinya, sementara Kepala Besi memenuhi permintaan Eguchi untuk mendapatkan status legal dan mendapatkan wilayah demi membantu sesama orang Cina. Penasihat Sanwa Kai memanfaatkan kebencian Nakajima terhadap kelompok Kepala Besi untuk menyingkirkan atasannya sendiri, Eguchi.</p>
<p><strong>Penampilan baru</strong><br />
Jackie Chan hadir dalam nuansa yang sangat baru di sini. Untuk pertama kalinya kita mendapati dirinya sebagai seorang penjahat. Untuk pertama kalinya kita melihatnya membunuh. Untuk pertama kalinya juga kita melihatnya tidak sebagai seorang jago bela diri yang berdiri tegak sampai pada akhir cerita.</p>
<p>Yang terakhir ini terlihat jelas dalam berbagai adegan. Kita tidak akan melihat aksi berkelitnya yang khas. Atau kebiasaannya untuk memanfaatkan gerakan-gerakan musuh dan benda-benda di sekitarnya untuk membela diri.</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti adegan-adegan yang harus dilakoni Jackie tidak menyita stamina. Ia harus berlari, harus berusaha berkelit dari sabetan berbagai senjata. Meskipun memang porsinya sepertinya sudah berkurang jauh ketimbang berbagai filmnya terdahulu. Maklum, usia juga turut menggerogoti dirinya. Hal ini tergambar jelas pada wajahnya. Sehingga agak aneh bagi saya melihat ia bersanding dengan aktris yang masih muda; perbedaan usia itu tampak jelas.</p>
<p><strong>Nilai-nilai</strong><br />
Nilai persahabatan sangat kental dalam film ini. Perasaan senasib memang membuat orang lebih mudah untuk bersatu dan saling bantu. Kehidupan yang sama-sama susah, membuat para imigran gelap itu tidak segan menolong yang lain. A Jie yang cenderung penakut, sama sekali tidak bisa mengikuti teman-temannya yang melakukan tindak kriminal kecil-kecilan. Namun, teman-temannya rela menyisihkan uang dan membelikan gerobak untuk usaha yang ia idam-idamkan.</p>
<p>Salah satu ucapan bijak kita peroleh dari Xiang Xiang yang kini telah menjadi Eguchi Yuko. ”Manusia harus belajar untuk merasa cukup.” Bukankah manusia sering merasa tidak pernah cukup? Setelah mencapai sesuatu, manusia selalu menginginkan hal yang lain. Dan secara sederhana film ini mengajarkan kita juga untuk merasa cukup guna mencegah kita melakukan hal-hal yang buruk.</p>
<p>Kita juga melihat itikad baik Kepala Besi untuk menolong sesama imigran. Sayangnya, jalan yang ia tempuh justru merupakan jalan yang ilegal. Setelah keadaan membaik, teman-temannya malah terjerumus dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Sampai akhirnya, ia harus berhadapan dengan teman-temannya sendiri. Seruannya kepada teman-temannya untuk berbalik dari praktik penjualan obat bius tidak dipedulikan.</p>
<p>Pada satu sisi, tindakan Kepala Besi itu memang tampak baik. Semula ia diajak untuk meninggalkan dunia gelap itu dan memulai hidup baru di Amerika Latin bersama kekasihnya. Namun, ia lebih memilih memperhatikan teman-temannya. Ini dapat kita anggap sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sayangnya, niatnya ini tidak disambut baik. Malah, pada akhirnya ia harus kehilangan nyawanya sendiri.</p>
<p>Secara keseluruhan, film ini tidak terlalu istimewa. Tidak ada hal yang baru dari segi plot yang digunakan. Kita memang melihat peran baru Jackie Chan. Namun, dari segi jalan cerita, tidak terlalu istimewa, terutama bila dibandingkan dengan film-film bertema mafia lainnya. Nilai-nilai yang ditawarkan memang cukup bagus, tapi kita tetap mesti bijaksana dalam memilahnya.</p>
<p>Satu hal yang rasanya akan sulit ditangkap penonton ialah adegan duel terakhir. Ketika itu kelompok Nakajima berniat menyerbu geng yang dipimpin Kepala Besi, sekaligus membunuh Eguchi. Pertarungan pada bagian ini terkesan gelap. Mungkin pengambilan gambar sengaja dilakukan demikian, mengingat gedung tempat peristiwa berlangsung memang remang-remang. Namun, rasanya jelas tidak nyaman. Namun, sejumlah adegan laga lainnya akan sangat menghibur para penggemar film laga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=57&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/25/perjuangan-kaum-imigran-dalam-shinjuku-incident/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.jc-russia.ru/filmography/img/ShinjukuIncidentPoster.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Shinjuku Incident</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Fantasi Inkheart</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/14/dunia-fantasi-inkheart-2/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/14/dunia-fantasi-inkheart-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 08:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Andy Serkis]]></category>
		<category><![CDATA[Brendan Fraser]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[C.S. Lewis]]></category>
		<category><![CDATA[Cornelia Funke]]></category>
		<category><![CDATA[Eliza Bennett]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Helen Mirren]]></category>
		<category><![CDATA[Iain Softley]]></category>
		<category><![CDATA[J.R.R. Tolkien]]></category>
		<category><![CDATA[Jim Broadbent]]></category>
		<category><![CDATA[Lewis Carroll]]></category>
		<category><![CDATA[New Line Cinema]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Bettany]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[The written words. It’s a powerful thing.You have to be careful with it. Mungkin banyak orang yang akan mengingat kisah Alice’s Adventure in Wonderland begitu mendengar frasa ”dunia fantasi”. Cerita klasik yang berlanjut dengan Through the Looking-Glass itu ditulis oleh Charles Lutwidge Dodgson (1832-1898) yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll. Karya Carroll tersebut mengisahkan petualangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=67&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Inkheart" src="http://www.cinemablend.com/images/reviews/2773/_12217840937255.jpg" alt="" width="308" height="431" /></p>
<p align="center"><em>The written words. It’s a powerful thing.You have to be careful with it.</em></p>
<p>Mungkin banyak orang yang akan mengingat kisah <em>Alice’s Adventure in Wonderland</em> begitu mendengar frasa ”dunia fantasi”. Cerita klasik yang berlanjut dengan <em>Through the Looking-Glass</em> itu ditulis oleh Charles Lutwidge Dodgson (1832-1898) yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll. Karya Carroll tersebut mengisahkan petualangan Alice di negeri ajaib yang diawali dengan upayanya mengejar seekor kelinci putih. Dan kisah Alice hanya salah satu dari sekian banyak cerita fantasi yang pernah ada.</p>
<p>Kepopuleran dongeng-dongeng dan cerita-cerita fantasi lain mendorong industri perfilman mengangkatnya ke layar lebar, entah dalam bentuk animasi, pun dalam bentuk <em>live action</em>. Selain <em>Alice’s Adventure in Wonderland </em>karya Lewiss Carroll, karya-karya H.C. Andersen pun turut difilmkan. Belum lagi <em>The Chronicle of Narnia </em>karya C.S. Lewis.</p>
<p><span id="more-67"></span>Pada bulan Januari 2009 lalu, perbendaharaan film yang diangkat dari buku semakin bertambah dengan hadirnya ”Inkheart”. Film yang juga dibintangi oleh Brendan Fraser itu diangkat dari novel fantasi terlaris berjudul sama karya penulis asal Jerman, Cornelia Funke. Dan sebagai sebuah film fantasi, ”Inkheart” terbilang cukup menarik.</p>
<p>Sebagai buku, <em>Inkheart</em> merupakan buku pertama dari trilogi yang ditulis Funke. Sekuel-sekuelnya ialah <em>Inkspell</em> dan <em>Inkdeath</em> sudah diterbitkan empat dan dua tahun yang lalu. <em>Inkspell</em> diterbitkan pada 1 Oktober 2005, sedangkan <em>Inkdeath</em> sudah terbit pada 28 September 2007 di Jerman. <em>Inkheart</em> sendiri mendapat respons yang positif. Selain dari Kirkus Reviews, sebuah jurnal ulasan buku di AS, The New York Times Books juga memuji buku tersebut dengan menyebutnya sebagai buku yang ”penuh dengan percikan <em>fairy dust</em> ajaib”.</p>
<p>Dengan pujian sedemikian, bagaimana dengan filmnya?</p>
<p><strong><em>Silvertongue</em></strong><br />
Versi film ini diawali dengan Mortimer Folchart yang membacakan sebuah dongeng, <em>The Red Riding Hood</em>. Ia tidak mengetahui kemampuannya yang membawa keluar hal-hal tertentu yang ia sebutkan dalam buku tersebut. Sambil terus membacakannya kepada Meggie, putrinya dan Resa, ia tidak menyadari telah mengeluarkan kerudung merah dari buku yang ia bacakan. Itulah kemampuan yang dimiliki orang-orang yang disebut <em>Silvertongue</em>.</p>
<p>Sebagian orang mungkin mengira bahwa film ini mirip dengan ”Bed Time Stories”. Meski sampai saat menulis ulasan ini saya belum pernah menyaksikan film tersebut, saya menjamin ”Inkheart” adalah film yang jelas berbeda.</p>
<p>Kemampuannya ini ternyata mengundang masalah. Setelah mengeluarkan Dustfinger, salah satu tokoh dari <em>Inkheart</em>, ia justru mengeluarkan Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari novel yang sama. Pada saat itulah ia mendapat luka di lengan dari Basta, sekaligus menghadapi fakta yang lebih menyakitkan: istrinya masuk ke Inkworld! Sejak itulah ia tidak pernah lagi membacakan cerita kepada Meggie.</p>
<p>Didorong kerinduan untuk mengeluarkan istrinya dari Inkworld, Mortimer Folchart memburu <em>Inkheart</em> ke seluruh penjuru Eropa. Tidak jelas apa yang terjadi dengan <em>Inkheart</em> yang ia miliki sebelumnya. Berbagai toko buku tua ia masuki beserta Meggie, putrinya. Namun, buku tersebut tak kunjung ia temukan. Sampai akhirnya ia tiba di toko buku tua lainnya.</p>
<p>Namun, di situlah Mortimer kembali bertemu Dustfinger. Permintaannya cuma satu, yaitu agar Mo mengembalikannya ke Inkworld agar ia bisa bertemu dengan anak dan istrinya lagi. Namun, Mo malah menghindar darinya karena kekhawatirannya tidak mampu mengendalikan kemampuannya.</p>
<p>Dustfinger yang kecewa, terpaksa bekerja sama dengan Capricorn, meskipun tahu bahwa Capricorn bukan orang baik-baik. Melalui orang-orang suruhannya, termasuk Basta, Capricorn akhirnya berhasil menangkap Mo dan Meggie yang kini berada di Italia, di rumah Elinor Loredan, yang juga dibawa ke istana persembunyian Capricorn.</p>
<p>Capricorn yang ternyata tidak berniat kembali ke Inkworld, membutuhkan Mo untuk mengeluarkan berbagai hal dari dunia fantasi. Alasannya sederhana. Meskipun memiliki seorang yang bernama Darius dan memiliki kemampuan sama, orang ini ternyata gagap. Akibatnya, wajah tokoh-tokoh yang keluar memiliki tulisan. Dengan kata lain, apa yang keluar dari buku yang ia baca menjadi tidak sempurna.</p>
<p>Dustfinger yang menuntut Capricorn untuk memenuhi janjinya harus gigit jari. Ia ditipu Capricorn. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Capricorn pun membakar buku yang berhasil ditemukan Mo. Pupuslah harapan Mo untuk mengeluakan Resa, istrinya, dari Inkworld. Pupus pula harapan Dustfinger untuk kembali ke Inkworld.</p>
<p>Sudah habiskah harapan? Tidak! Mereka berniat mencari Fenoglio, sambil berharap sang penulis <em>Inkheart</em> itu masih memiliki salinan buku langka tersebut. Dibantu oleh Dustfinger yang menyesal akan keputusannya, ia membantu Mo, Meggie, Elinor, dan Farid, tokoh yang keluar saat Mo membacakan <em>Seribu Satu Malam</em>, mereka melarikan diri dari kastil.<em> </em>Namun, tentu saja kita tahu bahwa cerita ini tidak akan berakhir sedemikian mudah.</p>
<p><strong>Sedikit rumit</strong><br />
Meskipun filmnya relatif sederhana untuk diikuti, harus saya akui, cerita yang disajikan lumayan rumit. Cerita Inkheart ini lumayan kompleks kalau kita pikirkan lebih lanjut, sampai kita mungkin akan merasa perlu ada semacam penjelasan tertentu. Pertama, kemampuan Mo mengeluarkan tokoh-tokoh yang ia bacakan dan kompensasinya yang mengakibatkan tokoh dari dunia nyata yang masuk ke Inkworld. Dalam film ini, tampaknya siapa yang masuk Inkworld sama sekali tidak ia ketahui, bahkan ia tidak bisa mengaturnya. Mungkin itulah yang membuatnya takut mengulangi kejadian tiga tahun sebelumnya ketika ia mengeluarkan Dustfinger, Capricorn, dan Basta, namun memasukkan Resa ke Inkworld.</p>
<p>Dari situ, muncul masalah berikutnya. Bagaimana membawa tokoh-tokoh yang keluar kembali ke Inkworld? Meski dalam film itu diceritakan caranya cukup dengan membacanya kembali, bagian mana yang mesti dibaca sehingga tokoh itu benar-benar bisa kembali? Bagaimana pula dengan orang dari dunia nyata yang malah masuk ke Inkworld? Secara khusus, bagaimana cara Darius mengeluarkan Resa dari Inkworld? Dan bila demikian, adakah tokoh dari dunia nyata yang masuk ke Inkworld, atau justru tokoh dari Inkworld malah bisa kembali ke dunianya karena Resa sudah dibacakan keluar?</p>
<p>Apakah hal-hal tersebut muncul sebagai konsekuensi adaptasi ke layar lebar? Rasanya mungkin saja. Sebagaimana adaptasi ke layar lebar tentu akan memengaruhi alur cerita yang digunakan, beberapa kekurangan bisa saja muncul dan mengakibatkan pertanyaan yang sepertinya tidak terjawab itu. Oleh karena itu, kita sepertinya perlu melihat versi novel untuk memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan di atas memang dijawab di novel atau tidak, sekaligus melihat sejauh mana perbedaan versi layar lebar dengan versi novel.</p>
<p>Hal-hal di atas ini tampaknya menjadi salah satu titik yang diserang kritikus. Kirk Honeycutt dari <em>The Hollywood Reporter</em> menilai film ini tidak menunjukkan kualitas sebagaimana dimiliki novelnya yang telah diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa. Nilai kurang pun bertambah mengingat film ini digarap oleh Iain Softley dengan skenario yang ditulis oleh pemenang Pulitzer Prize untuk kategori drama, David Lindsay-Abaire.</p>
<p>Kita juga akan mendapati bahwa kemampuan Mo ternyata diwarisi oleh Meggie. Tanda-tanda ini kita lihat ketika Meggie berada sendirian di perpustakaan Elinor. Ia mendengarkan bisikan-bisikan yang kita yakini berasal dari buku-buku yang ada di perpustakaan itu. Ini persis seperti ketika Mo menemukan <em>Inkheart</em> di toko buku tua. Belakangan kita melihat kemampuan Meggie justru lebih berkembang karena kegemarannya menulis cerita. Hal ini pula yang kelak menyelamatkan dunia dari ancaman The Shadow.</p>
<p><strong>Menanamkan kecintaan pada buku</strong><br />
Meskipun (mungkin) ditemukan banyak perbedaan antara film dan novel Funke ini dan mendapat kritik keras tadi, toh seperti dikatakan oleh Billy Goodykoontz dari <em>The Arizona Republic</em>, film ini cukup menghibur. Jalan cerita yang disajikan relatif mudah dipahami. Selain itu, film ini juga mengajarkan sejumlah nilai berharga bagi kita.</p>
<p>Hal pertama tentu berkenaan dengan buku. Mortimer dan Teresa sudah menanamkan hal ini kepada Meggie dengan membacakan buku sejak putri mereka itu masih bayi. Tindakan ini tidak sekadar upaya untuk menanamkan kecintaan pada buku. Para ahli berpendapat bahwa membacakan buku kepada bayi sangat bermanfaat. Selain mengajarkan komunikasi padanya, membaca dengan suara nyaring juga memperkenalkan konsep-konsep, seperti bilangan, huruf, warna, dan bentuk. Kemampuan mendengar, mengingat, dan kosa kata juga akan bertambah, sekaligus memberinya pengetahuan tentang dunia di sekitar dirinya.</p>
<p>Lalu kita juga diingatkan akan kekuatan buku. Dalam salah satu dialognya, Mo berkata kepada Meggie, ”<em>The written words. It’s a powerful thing. You have to be careful with it</em>.” Kalau dikaitkan dengan kisah ini, perkataan itu sepertinya hendak mengingatkan Meggie agar tidak mengikuti kesalahan Mo yang justru menimbulkan masalah: mengeluarkan tokoh-tokoh dalam <em>Inkheart</em>, namun malah menjerumuskan istrinya ke dalam Inkworld.</p>
<p>Sudah umum diketahui bahwa buku membuka pintu ke dunia penuh imajinasi. Dengan buku, seseorang bisa berkelana ke seluruh penjuru dunia hanya dari satu ruangan. Perhatikanlah apa yang dikatakan Elinor kepada Meggie: ”St. Petersburg, Paris, Middle Earth, <em>distant planets</em>, <em>and</em> Shangri-la. <em>And never have to leave this room.</em>” Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa membaca buku sama dengan bertualang, plus berbagai hal yang ditawarkan kepada pembacanya.</p>
<p>Namun, dari dialog tersebut secara tidak langsung penonton yang peka akan langsung mengenal novel-novel yang berhubungan dengan lokasi yang disebutkan Elinor. St. Petersburg, misalnya, bisa saja berhubungan dengan novel terkenal berjudul <em>Petersburg </em>(1913), karya Andrei Bely (nama aslinya ialah Boris Nikolaevich Bugaev) asal Rusia. Novel ini disebut-sebut sebagai karya simbolis yang menghadirkan ambisi seorang modernis bernama James Joyce. Adapun untuk Kota Paris sendiri, ada banyak kemungkinan. Bisa saja salah satu novel yang dimaksud ialah <em>Le Ventre de Paris</em> (1873) karya Émile Zola. Dalam novel ini, Zola mengisahkan pelarian seorang tokoh politik bernama Florent, Lisa Quenu dan keluarganya, yang menyembunyikannya. Kalau Middle Earth, rasanya semua kita tahu novel apa yang dirujuk: trilogi <em>The Lord of the Rings</em> karya J.R.R. Tolkien. Bagaimana dengan <em>distant planets</em>? Agak sulit bagi saya untuk menyebut contoh novel yang berhubungan dengan hal ini. Salah satu yang saya temukan ialah <em>Dune </em>(1965) karya Frank Herbert yang mengisahkan kehidupan manusia pada masa 20.000 tahun mendatang. Saat itu manusia berhasil hidup di sejumlah planet, seperti III Delta Kaising, Arrakis, Hagal, Junction, Lampadas, dan lain-lain. Terakhir, Shangri-la yang tampaknya merujuk pada novel karya penulis Inggris, James Hilton, <em>Lost Horizon </em>(1933)</p>
<p>Semua contoh itu tampaknya hendak menjadi semacam penekanan akan nilai lebih dari buku. Membaca buku akan mempertajam daya imajinasi kita. Lewat deskripsi yang baik, setiap pembaca diajak untuk seolah-olah berada di tempat-tempat tertentu. Aspek imajinasi seperti ini saya kira tidak akan bisa kita temukan dengan menonton televisi atau film. Maka tidak heran kalau sangat disarankan agar kita membaca bukunya terlebih dahulu sebelum menyaksikan filmnya. (Sayangnya, saya sendiri belum membaca <em>Inkheart</em>.)</p>
<p>Tidak hanya soal mencintai literatur saja yang bisa kita pelajari dari film ini. Kita melihat sikap egois seseorang dapat mengakibatkan masalah baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Mo dan Dustfinger yang semula saling memperebutkan <em>Inkheart</em> hanya untuk kepentingannya sendiri harus gigit jari karena Capricorn membakar buku yang ditemukan dengan susah payah itu. Nilai-nilai kesetiaan juga diuji, yaitu ketika Dustfinger diperhadapkan pada pilihan menolong Resa atau melarikan diri bersama Mo dan yang lainnya lewat tornado yang muncul dari <em>The Wizard of Oz</em>.</p>
<p><strong>Simpulan</strong><br />
Meskipun memiliki sejumlah kekurangan, toh film ini tetap layak menjadi pilihan. Seluruh anggota keluarga pasti akan terhibur. Hanya saja para orang tua perlu memberi penjelasan pada banyak bagian dari film ini kepada anak-anak mereka yang masih relatif kecil. Namun, jangan lupa juga bahwa film tidak pernah bisa benar-benar menaklukkan kekuatan buku.</p>
<h1 style="text-align:left;"><strong><br />
</strong></h1>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=67&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/14/dunia-fantasi-inkheart-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.cinemablend.com/images/reviews/2773/_12217840937255.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Inkheart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Departures: The Gift of the Last Memories</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/10/departures-the-gift-of-the-last-memories/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/10/departures-the-gift-of-the-last-memories/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 04:04:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kimiko Yo]]></category>
		<category><![CDATA[kremasi]]></category>
		<category><![CDATA[Masahiro Motoki]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[Regent]]></category>
		<category><![CDATA[Ryoko Hirosue]]></category>
		<category><![CDATA[Shochiku]]></category>
		<category><![CDATA[Tsutomu Yamazaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Mencintai pekerjaan adalah hal yang sangat penting. Jika tidak mencintainya, sebagus apa pun gaji yang ditawarkan, tentu tidak akan membuat kita bahagia. Namun, apa jadinya kalau kita malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat kita cintai? Mungkin begitu kira-kira perasaan Kobayashi Daigo ketika orkestra tempatnya bergabung terpaksa dibubarkan. Sebagai pemain cello, ia sangat senang berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=26&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-25" style="border:10px solid white;" title="Departures" src="http://www.cinemablend.com/images/reviews/3844/_12404518231680.jpg" alt="Departures" width="308" height="431" /></p>
<p>Mencintai pekerjaan adalah hal yang sangat penting. Jika tidak mencintainya, sebagus apa pun gaji yang ditawarkan, tentu tidak akan membuat kita bahagia. Namun, apa jadinya kalau kita malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat kita cintai?</p>
<p>Mungkin begitu kira-kira perasaan Kobayashi Daigo ketika orkestra tempatnya bergabung terpaksa dibubarkan. Sebagai pemain cello, ia sangat senang berada bersama orkestra tersebut. Ia sendiri baru saja membeli sebuah cello seharga 18 juta yen. Sayangnya, dari sekian pertunjukan yang mereka bawakan, tidak banyak yang mau menyaksikan pertunjukan mereka. Pemilik orkestra pun terpaksa membubarkan kelompok orkestranya. Dan bagi Daigo, hal ini berarti bencana.</p>
<p>Tidak seperti dugaan saya sebelumnya, film ini sama sekali tidak berhubungan dengan dunia orkestra. Sebaliknya, dunia musik itu hanya sebagai pelengkap dari film ini. Musik menjadi bagian dari masa lalu dan masa kini Kobayashi Daigo, sesuatu yang bergeser dari profesi ke hobi.</p>
<p><strong><span id="more-26"></span>Berbeda daripada film biasa</strong><br />
Film ini merupakan film drama yang unik, yang mengangkat tema yang berbeda daripada film biasanya. Dikemas dengan sejumlah pemandangan alam di Yamagata yang sangat indah, plus sisipan musik-musik yang sangat indah. Bagi saya, tidak ada film seperti ini sebelumnya. Tidak mengherankan kalau film ini kemudian mendapat penghargaan juga untuk kategori <em>Best Screenplay</em> dan Yojiro Takita pun diganjar <em>Best Director</em> lewat arahannya yang amat baik.</p>
<p>Bagian pertama dari film ini menunjukkan sebuah langkah berani: membuang masa lalu dan memulai awal yang baru. Setelah memutuskan berhenti menjadi pemain cello dan kembali ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya, Daigo harus mulai mencari pekerjaan. Terdorong oleh sebuah iklan di surat kabar lokal, ia melamar ke perusahaan, NK Agent, dan langsung diterima pada hari ketika ia melamar. Tidak hanya itu, ia langsung mendapat gaji di muka.</p>
<p>Namun, ia tidak benar-benar paham apa yang dikerjakan perusahaan yang hanya digarap oleh tiga orang termasuk dirinya. Sampai suatu ketika ia memahami bahwa perusahaannya melayani persiapan pemberangkatan jenazah. Dan ketika untuk pertama kali berurusan dengan jenazah yang sudah beberapa hari meninggal, ia benar-benar tidak tahan menghadapinya.</p>
<p>Seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa, semakin ditekuni, semakin Daigo bisa mengikuti pekerjaan barunya. Tidak hanya itu, ia malah mengagumi cara Sasaki, bosnya, menangani jenazah, mengubah jasad yang pucat menjadi tampak segar kembali. Ditambah lagi dengan jam kerja yang relatif santai, membuat ia menjadi sangat menyukai pekerjaannya itu. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa banyak orang yang memandang negatif pada profesi yang ia kerjakan. Terlebih ketika akhirnya sang istri mengetahui pekerjaannya.</p>
<p><strong>”The gift of last memories”</strong><br />
Film ini menghadirkan serangkaian peristiwa yang menyentuh. Ketika Daigo dan atasannya, Sasaki, mempersiapkan jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti, kita akan diajak melihat berbagai sikap ditunjukkan oleh mereka yang akan memberangkatkan jenazah itu. Dari situ kita juga diajak untuk merasakan kepedihan keluarga yang menyaksikan persiapan tersebut.</p>
<p>Persiapan jenazah yang dilakukan meliputi melepaskan pakaian yang digunakan oleh jenazah saat meninggal, lalu membasuh tubuh jenazah, mengenakan pakaian bersih, sebelum akhirnya merias wajah jenazah.</p>
<p>Tindakan pembasuhan tubuh jenazah ini ternyata mengandung nilai filosofis tersendiri. Tindakan ini dianggap penting meskipun merupakan langkah kedua dari persiapan jenazah. Pembasuhan ini secara simbolis berarti membasuh tubuh dari seluruh keletihan, kepedihan, dan beban dunia yang ditanggung oleh seorang yang sudah meninggal. Pembasuhan ini sekaligus sebagai pemandian pertama bagi jiwa yang memasuki kehidupan baru.</p>
<p>Pandangan ini dilanjutkan dengan pandangan mengenai kematian. Kematian dianggap bukan sebagai akhir dari segalanya. Kematian merupakan semacam pintu gerbang. Seorang yang meninggal, akan melalui pintu gerbang tersebut melangkah menuju kehidupan selanjutnya. Untuk mengantarkan jenazah itulah dua pekerjaan dilakukan. Pekerjaan pertama ialah pekerjaan yang dilakukan oleh Daigo dan Sasaki. Sementara pekerjaan selanjutnya dilakukan oleh petugas kremasi atau pemakaman.</p>
<p>Karena merupakan suatu pekerjaan yang mengantarkan jenazah, mereka yang ditinggalkan berusaha untuk memberikan kenangan terakhir. Melalui pengurus pemakaman, jenazah pun dipersiapkan dan didandani sedemikian rupa. Jenazah yang semula sudah dingin, kembali dibuat segar untuk selamanya. Dan pekerjaan ini harus dilakukan dengan ketenangan, ketelitan, dan yang lebih penting dengan penuh perasaan. Sampai pada akhirnya jenazah tersebut diberangkatkan. Semua ini dilakukan dengan tenang dan penuh keanggunan.</p>
<p><strong>Risiko pekerjaan</strong><br />
Setiap pekerjaan selalu menghadirkan risiko, apa pun pekerjaan itu dan di mana pun pekerjaan itu dilaksanakan. Demikian juga dengan menjadi profesional yang mempersiapkan jenazah sebelum dimakamkan atau dikremasi. Ketika pertama kali melamar, Daigo langsung diterima tanpa harus melewati serangkaian tes. Namun, profesi yang ia kerjakan itu justru merupakan profesi yang tak dipilih oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Bagi sebagian besar orang, menyentuh mayat adalah sesuatu yang kotor. Pandangan ini tampaknya dianut juga di Jepang. Tidak heran ketika sang istri mengetahui pekerjaan Daigo, ada penolakan keras dalam dirinya. Dan ini jelas membuat Daigo bimbang: mengikuti kemauan istrinya, ia akan kehilangan pekerjaan sekaligus kehilangan atasan yang baik.</p>
<p>Bagaimanapun juga, nilai sebuah pekerjaan tidak bisa dilihat hanya sebatas itu. Ketika kita bisa menjalankan pekerjaan kita dengan penuh dedikasi apalagi loyalitas tinggi, pekerjaan itu jelas akan memberi nilai yang lebih. Bukan tidak mungkin orang lain akan sangat bersyukur karena apa yang telah kita kerjakan. Tentu saja selama pekerjaan itu tidak merugikan orang lain. Rasanya inilah salah satu nilai yang bisa diambil dari film ini.</p>
<p>Dedikasi dan loyalitas memang dua hal yang sangat mahal dan mungkin jarang ditemukan pada masa kini, terutama loyalitas. Namun, hal ini menjadi penting ketika hendak meyakinkan orang akan pekerjaan yang kita lakukan. Karena dua hal inilah Mika, sang istri, bisa memahami bahwa pekerjaan Daigo adalah pekerjaan yang berharga, apa pun pandangan orang lain.</p>
<p><strong>Daigo dan konflik batin</strong><br />
Konflik batin pertama dialami Daigo ketika memutuskan berhenti menjadi pemain cello profesional. Fakta ini jelas sangat memukulnya. Karena dalam film ini, kita juga melihat bagaimana ia sudah belajar musik sejak masih anak-anak. Namun, kelompok orkestra mereka ternyata tidak digemari orang. Kondisi ini semakin berat lagi karena ia baru membeli cello seharga 18 juta yen, tanpa sepengetahuan istrinya. Karena tidak mungkin membayar sisanya, ia memutuskan berhenti menjadi pemain cello. Kita bisa melihat masalah ini diselesaikan Daigo dengan mengambil langkah berani: berhenti sebagai pemain cello profesional.</p>
<p>Konflik selanjutnya melibatkan Mika. Semenjak bekerja sebagai profesional yang mempersiapkan jenazah, Daigo tidak pernah memberi tahu seperti apa pekerjaannya itu kepada istrinya. Ada beberapa hal yang mungkin membuatnya tidak menceritakan profesinya itu pada sang istri. Pertama, ia belum benar-benar memahami seperti apa pekerjaan yang akan ia lakukan, meskipun sejak pertama ia sudah mendapat penjelasan dari atasannya. Ia masih tetap bingung apalagi ketika disuruh menjadi model untuk video tata cara mempersiapkan jenazah. Hal kedua, ketika sudah menikmati pekerjaannya, ia jadi benar-benar lupa untuk bercerita lebih jauh soal pekerjaannya itu pada sang istri. Mungkin juga karena Mika tidak pernah lagi mempertanyakan profesinya, kecuali saat pertama kali Daigo diterima bekerja. Maka ketika Mika mengetahui profesi Daigo, ia merasa kecewa karena tidak mendapat penjelasan dan seketika meminta Daigo untuk berhenti. Ini jelas memberi beban bagi Daigo, yang berujung pada keputusan Mika untuk pulang ke rumah orang tuanya, sampai Daigo benar-benar berhenti.</p>
<p>Konflik ketiga terkait dengan relasi Daigo dengan ayahnya. Selama ini ia memandang ayahnya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Ayahnya meninggalkan ia dan ibunya saat ia masih kecil, sampai-sampai ia tidak lagi mengingat bagaimana wajah ayahnya. Sang ayah disebut-sebut meninggalkan mereka dan hidup dengan wanita lain. Keputusan sang ayah itu membuat Daigo tidak bisa menerimanya sebagai seorang ayah.</p>
<p>Kemudian pada bagian akhir film ini, ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal. Semula ia berkeras tidak ingin melihat sang ayah, sampai bujukan rekan kerja dan Mika mendorongnya untuk melihat sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itulah ia baru menyadari bahwa ayahnya menjalani hidup yang menyendiri sejak meninggalkan Daigo dan ibunya. Saat itu pulalah ia menyadari bahwa meski meninggalkan keluarganya, sang ayah masih tetap menyayangi Daigo.</p>
<p><strong>Percikan pluralitas</strong><br />
Seperti yang kita ketahui, Jepang merupakan negara dengan penganut Budha aliran Shinto yang terbesar. Persentase agama lain sangatlah kecil. Meskipun demikian, film ini menghadirkan sepercik nilai pluralitas. Ketika Daigo diminta untuk memainkan cellonya oleh atasan dan rekannya pada malam Natal, Sasaki menegaskan bagi mereka tidak masalah hendak memainkan lagu yang berhubungan dengan agama apa pun. Perusahaan mereka tidak mempersoalkan masalah agama, mereka akan melayani semua permintaan.</p>
<p>Pada satu sisi, mungkin itulah sisi bisnis. Tidak memikirkan masalah agama dan keyakinan. Selama memberikan keuntungan, tidak masalah siapa yang menjadi pelanggan. Meskipun demikian, tidak salah juga menganggap bahwa keputusan demikian akan berdampak pada sikap pluralitas, tidak berat sebelah pada penganut kepercayaan apa pun, yang penting memberi pelayanan terbaik.</p>
<p><strong>Para tokoh</strong><br />
Kobayashi Daigo, diperankan oleh Masahiro Motoki. Dalam film ini, ia menunjukkan kemampuan beraktingnya dengan luar biasa. Mulai dari memainkan cello, sampai bagaimana ia menjalankan tugasnya mempersiapkan jenazah. Air muka, pembawaan, dan sikap yang ia tunjukkan dalam memperlakukan jenazah menunjukkan keseriusannya. Mungkin hal-hal inilah yang membuat ia meraih penghargaan sebagai aktor terbaik pada beberapa festival film.</p>
<p>Sementara itu, karakter pendukung lainnya juga hadir dalam posisi yang baik guna mendukung cerita film ini. Misalnya, Ryoko Hirosue, yang memerankan Mika. Ia tampil sebagai seorang istri yang pada awal cerita mendukung suaminya, namun kemudian berbalik menentang profesi sang suami karena menganggap profesi itu tidak normal. Meski demikian, ia menunjukkan cintanya kepada sang suami dan kembali kepada Daigo. (Walaupun kita bisa menganggap keputusannya untuk kembali ini karena ia telah mengandung seorang bayi.)</p>
<p>Adapun Sasaki, mungkin menjadi seorang atasan yang ideal. Ia tidak bersikap sebagai seorang atasan yang otoriter. Sebaliknya, ia menjadi seorang pembimbing yang baik bagi Daigo sampai Daigo mampu menjalankan prosesinya. Kebaikan hati Sasakilah yang mungkin membuat Daigo membatalkan niatnya untuk berhenti.</p>
<p>Salah satu karakter penting lain ialah sang kakek yang dijumpai Daigo di pemandian umum masa kecilnya. Kakek yang ternyata bekerja sebagai petugas di rumah kremasi itu menjadi pelengkap dari rangkaian pelepasan jenazah.</p>
<p><strong>Plot</strong><br />
Film ini tidak menggunakan plot yang membingungkan. Jalan ceritanya juga sangat mudah dipahami. Secara umum, hanya ada sekali kita diajak untuk melihat masa lalu Daigo dalam durasi yang lebih panjang, yaitu ketika orkestra dibubarkan sampai ia mendapat pekerjaan baru sebagai profesional pengurus persiapan pemberangkatan jenazah.</p>
<p>Meski dari sisi jenis plot terbilang sederhana, toh nilai-nilai yang dihadirkan memang membuat film ini layak ditonton. Simbol-simbol, nilai-nilai filosofis, etos kerja, dan nilai moral lain merupakan hal berharga yang bisa ditarik dari film ini. Kita juga sekaligus diajak untuk melihat bahwa ada alasan mengapa kita perlu memperlakukan</p>
<p>Pada bagian akhir cerita kita melihat bagaimana simbolisasi perasaan sayang sang ayah pada anak. Perasaan ini disimbolkan dengan batu yang telah menjadi begitu halus, batu yang digenggam erat sang ayah dalam meninggalnya. Secara simbolis juga kita melihat bagaimana Mika berharap perasaan sang ayah itu bisa diteruskan kepada anak mereka.</p>
<p><strong>Penghargaan</strong><br />
Film ini secara resmi dirilis di Jepang pada bulan September 2008. Tidak tanggung-tanggung, dalam ajang Japanese Academy Awards ke-32, film ini menyabet sepuluh penghargaan, meliputi <em>Best Film</em>, <em>Best Director</em> (Yojiro Takita), <em>Best Actor</em> (Masahiro Motoki), <em>Best Supporting Actress</em> (Kimiko Yo), <em>Best Supporting Actor</em> (Tsutomu Yamazaki), <em>Best Screenplay</em> (Kundo Koyama), <em>Best Cinematography</em>, <em>Best Lighting</em>, <em>Best Sound</em>, dan <em>Best Editing</em>.</p>
<p>Tidak hanya penghargaan lokal, penghargaan internasional pun diraih. Oscar untuk Best Foreign Language Film pun diraih. Selain itu, film ini juga memenangkan Grand Prix des Ameriques pada 32<sup>nd</sup> Montreal World Film Festival, Mercedes Benz Audience Awards untuk<em> Best Feature</em> pada Palm Springs International Film Festival, Kinema Junpo Awards untuk <em>Best Film</em>, <em>Best Director</em>, <em>Best Screenplay</em>, dan <em>Best Actor</em>, serta Audience Award pada 28<sup>th</sup> Hawaii International Film Festival.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=26&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/09/10/departures-the-gift-of-the-last-memories/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.cinemablend.com/images/reviews/3844/_12404518231680.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Departures</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Blood: Jeon Ji-hyeon in Action Mode</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/08/25/blood-jeon-ji-hyeon-in-action-mode/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/08/25/blood-jeon-ji-hyeon-in-action-mode/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 06:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Korea]]></category>
		<category><![CDATA[Allison Miller]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Nahon]]></category>
		<category><![CDATA[Jeon Ji-hyeon]]></category>
		<category><![CDATA[JJ Feild]]></category>
		<category><![CDATA[Koyuki]]></category>
		<category><![CDATA[Mashiela Lusha]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Onin]]></category>
		<category><![CDATA[vampir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari abad ke-16, Perang Onin yang membawa perang di seluruh Jepang memorak-porandakan Negeri Sakura itu. Lalu para iblis, mengambil rupa seperti manusia, hidup di tengah-tengah manusia hanya dengan tujuan memangsa mereka. Seorang samurai pemberani bernama Kiyomasa bangkit dan menjadi pemburu iblis. Sampai iblis tertua dan terkeji, Onigen, membantainya dengan brutal. Beradab-abad berlalu sejak masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=20&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Blood: The Last Vampire" src="http://www.shockya.com/news/wp-content/uploads/blood_the_last_vampire_movie_poster3.jpg" alt="" width="308" height="431" /></p>
<p>Berawal dari abad ke-16, Perang Onin yang membawa perang di seluruh Jepang memorak-porandakan Negeri Sakura itu. Lalu para iblis, mengambil rupa seperti manusia, hidup di tengah-tengah manusia hanya dengan tujuan memangsa mereka. Seorang samurai pemberani bernama Kiyomasa bangkit dan menjadi pemburu iblis. Sampai iblis tertua dan terkeji, Onigen, membantainya dengan brutal.</p>
<p>Beradab-abad berlalu sejak masa itu. Kegelapan pun kembali menguasai Jepang. Dan seperti pada masa lampau, muncul samurai misterius yang juga memburu para iblis itu. Ia bekerja sama dengan kelompok rahasia yang disebut The Council. Tujuannya hanya satu, memburu Onigen.</p>
<p><strong>Jalan cerita</strong><br />
Begitulah kira-kira pengantar pada bagian pembuka film ini. Film yang mengisahkan tentang para vampir ini berseting di sebuah pangkalan militer AS di Jepang, pada tahun 1970. Ternyata tanpa diketahui orang banyak, Jepang telah diinvasi oleh para vampir. Adalah Saya, gadis setengah manusia, setengah vampir yang berperan sebagai pembasmi vampir. Dengan samurainya, ia bekerja sama dengan kelompok rahasia, The Council untuk mencapai tujuannya, mengalahkan Onigen yang telah membunuh ayahnya.</p>
<p><span id="more-20"></span>Untuk mencapai tujuan tersebut, Saya disamarkan sebagai seorang siswi di sekolah khusus bagi orang AS yang berada di Jepang. Dengan seragam kelasi yang khas, tentu saja ia menjadi bahan pembicaraan. Di sanalah ia mengenal Alice, putri jenderal di pangkalan militer AS, yang kemudian ia selamatkan, dan kemudian juga balik menolongnya.</p>
<p>Perburuan Saya terus berlanjut. Setelah konflik dengan the Council, ia memutuskan untuk pergi mencari Onigen, ditemani Alice yang kemudian kehilangan ayahnya. Dan ketika akhirnya bertemu dengan Onigen, sebuah fakta lain terkuak bagi kita.</p>
<p><strong>Membandingkan Ji-hyeon</strong><br />
Untuk pertama kalinya, Jeon Ji-hyeon bermain dalam film berbahasa Inggris. Di sini pula untuk pertama kalinya ia menggunakan nama Gianna Jun. Konon, ia butuh waktu selama dua tahun untuk memfasihkan bahasa Inggrisnya. Selain itu, oleh karena film ini memiliki banyak adegan laga, sudah tentu butuh persiapan fisik yang prima pula. Film ini sekaligus menjadi film laganya yang pertama.</p>
<p>Kalau Anda pernah menyaksikan sejumlah film yang dibintangi Jeon Ji-hyeon sebelumnya, ”My Sassy Girl”, ”Windstruck”, atau malah film-film terdahulu semisal ”White Valentine” atau ”Il Mare”, Anda mungkin akan kecewa dengan penampilannya di sini. Dialog yang ia bawakan terkadang terkesan datar. Entah karena memang diarahkan demikian untuk menunjukkan karakter tokoh, atau memang karena ini merupakan film berbahasa Inggrisnya yang pertama. Selain itu karakternya tampak kurang kuat ketimbang dalam film ”A Man Once a Superman”, misalnya.</p>
<p><strong>Cukup mengecewakan</strong><br />
Dari segi plot, tidak ada yang istimewa dari plot film ini. Relatif sederhana dan umum, merupakan perpaduan antara plot maju dan kilas balik. Demikian juga dengan setingnya. Diawali dengan peristiwa pada masa kini, plot terus bergerak maju, sedikit demi sedikit identitas Saya tersingkap. Lalu penonton diajak untuk kembali ke masa lalu, untuk melihat masa lalu Saya saat diasuh oleh Kato. Setelah kembali ke masa kini, Pertama, cerita yang diangkat tidak terlalu menarik. Cerita tentang pemburu vampir sudah terlalu banyak diangkat. Kita tentu ingat film ”Van Helsing” tahun 2004 lalu, yang secara umum jalan ceritanya lebih menarik. Yang menarik, versi animasi ”Blood: The Last Vampire” yang dirilis tahun 2000 justru menyabet sejumlah penghargaan  (pada tahun 2000 Pemenang Utama untuk kategori animasi pada Japanese Agency for Cultural Affair’s Media Arts Festival, Public’s Prize Best Asia Feature Film pada Montreal Fantasia Film Festival, Ofuji Award pada Mainichi Film Competition).</p>
<p>Kedua, teknik pengambilan gambar pada setiap adegan laga cenderung memusingkan. Sebagai film yang mengedepankan samurai sebagai senjata utama, adegan-adegan laganya relatif tidak jelas. Alih-alih menunjukkan kecepatan sabetan pedangnya, penonton malah dibuat pusing dengan adegan yang kadang cepat, kadang lambat. Berbeda dengan film samurai sungguhan, misalnya ”Seven Samurai”, di mana setiap duel secara konsisten dilakukan dengan cepat, menggambarkan kecepatan sabetan pedang.</p>
<p>Akhirnya, efek visual yang digunakan juga tidak halus. Gerakan-gerakan tangan yang terpotong, darah yang tercecer, tampak tidak menyatu. Atau ketika Saya mengejar vampir yang membawa lari Alice. (Vampir itu sendiri akhirnya tidak jelas juntrungannya karena kemudian melarikan diri dari Saya.) Benar-benar mengecewakan mengingat teknologi animasi belakangan ini sebenarnya sangat memungkinkan untuk menciptakan gambar yang jauh lebih halus.</p>
<p>Selain itu, ada satu hal yang patut dipertanyakan. Dengan cara seperti apa Onigen ”memproduksi” para vampir lainnya? Salah satu adegan menunjukkan bagaimana Alice harus melarikan diri dari sebuah bar yang ternyata diisi oleh para vampir, sampai Saya datang menyelamatkannya. Dari mana semua vampir itu? Apakah caranya sama seperti para vampir di daratan Eropa: menghisap darah korban yang kemudian menjadikannya vampir juga? Kalau ya, agak aneh rasanya karena petugas pembersih sekolah justru digambarkan dibunuh, bukan sekadar dihisap darahnya dan diubah menjadi vampir.</p>
<p>Bagi saya sendiri, satu hal yang membuat saya akhirnya menonton film ini hanya faktor Jeon Ji-hyeon saja. Rasa penasaran karena sepertinya persiapan film ini cukup panjang. Selain itu rasa penasaran juga muncul karena ini merupakan film laga pertama yang ia bintangi.</p>
<p><strong>Perang Onin</strong><br />
Ada satu hal yang cukup mengusik saya berkenaan dengan Perang Onin yang disebut pada bagian awal film. Ada kesan bahwa Peran Onin berlangsung – setidaknya berakhir – pada abad ke-16. Padahal setelah menyelidiki dari sejumlah sumber, Perang Onin sebenarnya terjadi pada abad ke-15, diperkirakan pada bulan Juli 1467.</p>
<p>Perang Onin merupakan perang sipil yang berlangsung lama, dari 1467 sampai 1477. Perang ini dipicu oleh perselisihan antara Hosokawa Katsumoto dan Yamana Sozen. Perselisihan di antara mereka kemudian malah melibatkan keluarga Shogun Ashikaga dan sejumlah daimyo di berbagai wilayah di Jepang. Dan perang masih terus berlangsung meskipun keduanya meninggal pada 1473.</p>
<p>Perang Onin ini kemudian memunculkan tiga sosok yang dikenal sebagai para daimyo besar periode Sengoku, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya inilah yang kemudian berperan mempersatukan Jepang di bawah satu kepemimpinan.</p>
<p><strong>Nilai-nilai moral di balik sebuah kekecewaan</strong><br />
Film ini memang mengecewakan saya. Meskipun begitu, adakah nilai yang bisa kita ambil dari film ini? Ada saja! Pertama, saat Saya pertama kali diperkenalkan, seragam kelasinya (seragam sekolah di Jepang pada umumnya) menimbulkan celotehan yang menyindir. Sudah jelas, sikap yang seperti ini tidak baik karena cenderung membuat tidak nyaman, terutama bagi siswa-siswi baru. Sebaiknyalah siswa-siswi baru disambut dengan ramah, agar membuat ”penghuni” kelas yang baru merasa nyaman.</p>
<p>Nilai berikutnya bisa kita ambil ketika Alice memutuskan menolong Saya. Ketika Saya dalam keadaan kritis, Alice memberikan darahnya kepada Saya. Tindakan ini mungkin bisa dianggap satu-satunya jalan agar bisa selamat dari para vampir, mengingat hanya Saya yang mampu melawan para vampir itu. Namun, ini juga perlu dilihat sebagai tindakan sosial yang bebas diskriminasi – ingat Saya bukan manusia biasa, melainkan manusia-vampir berusia 400 tahun!</p>
<p>Pada akhirnya, meski film ini mengecewakan, toh sebagai hiburan bisa terbilang lumayan. Khususnya ketika Anda merasa jenuh dengan film-film yang lebih mengajak berpikir.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=20&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/08/25/blood-jeon-ji-hyeon-in-action-mode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.shockya.com/news/wp-content/uploads/blood_the_last_vampire_movie_poster3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Blood: The Last Vampire</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beautiful Sunday: Sebuah Pergulatan Psikologis</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/07/21/beautiful-sunday-sebuah-pergulatan-psikologis/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/07/21/beautiful-sunday-sebuah-pergulatan-psikologis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 10:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Korea]]></category>
		<category><![CDATA[fatalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jin Kwang-gyo]]></category>
		<category><![CDATA[Min Ji-hye]]></category>
		<category><![CDATA[Namgung Min]]></category>
		<category><![CDATA[Park Min-woo]]></category>
		<category><![CDATA[psikologis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya ada banyak film yang berkisah tentang polisi korup. Sebut saja misalnya, ”Public Enemy”. Dalam film tersebut dikisahkan Detektif Kang Chul-joong (Seol Kyung-gu) sebagai tokoh yang antihero, mencuri obat bius dari para pengedar, menyuap sana-sini, bahkan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ayah. Film ini pun salah satu yang bisa kita kategorikan ke dalamnya. Lalu apa istimewanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=14&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Beautiful Sunday" src="http://i185.photobucket.com/albums/x38/truonghuyhoang/Movie/Poster/beautiful.sunday7.jpg" alt="" width="308" height="431" />Rasanya ada banyak film yang berkisah tentang polisi korup. Sebut saja misalnya, ”Public Enemy”. Dalam film tersebut dikisahkan Detektif Kang Chul-joong (Seol Kyung-gu) sebagai tokoh yang antihero, mencuri obat bius dari para pengedar, menyuap sana-sini, bahkan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ayah. Film ini pun salah satu yang bisa kita kategorikan ke dalamnya. Lalu apa istimewanya film ini?</p>
<p>Bagi penggemar film laga, saya kira film ini cukup memuaskan mereka. Berbagai adegan laga sangat menghias film ini, sebagaimana umumnya film-film yang bertema mafia, dan film-film laga lain. Otomatis sumpah serapah menjadi satu paket dengannya. Dengan demikian, film ini jelas tidak cocok ditonton oleh mereka yang belum dewasa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jalan cerita</strong><br />
Bagian awal film ini mungkin terkesan terlalu mendadak ditampilkan di awal. Meskipun demikian, justru adegan tersebut menjadi pembuka yang tepat untuk jalan cerita yang hendak dipilih oleh sang sutradara.</p>
<p>Sepertinya, sang sutradara ingin berkata, ”Nah, begini ini klimaksnya. Mau tahu bagaimana ceritanya sampai hal ini terjadi? Ikuti ceritanya.”<span id="more-14"></span>Film ini diawali dengan sebuah adegan di mana dua orang pria saling berhadapan. Salah satunya menodongkan pistol pada seorang yang usianya tampak jauh lebih muda. Dengan dialog, ”Dalam satu jam, Anda akan membunuhku.” Praktis kita akan bertanya-tanya, siapa pria yang menodongkan pistol, dan siapa pula pria yang berusia lebih muda itu. Namun, dalam waktu yang singkat, kita akan segera menarik kesimpulan bahwa pria yang menodongkan pistol itu adalah tokoh utama film ini.</p>
<p>Film ini mengisahkan kehidupan Detektif Kang. Bekerja sebagai detektif di bagian kriminal, ia bekerja sama dengan pengedar obat bius. Aksinya yang terkesan brutal pada awal cerita ini. Mungkin kita akan menganggap wajar. Namun, itu memberi kesan bahwa meskipun ia pemeran utama, rasanya sulit untuk menganggapnya sebagai ”orang baik” dalam film ini.</p>
<p>Kemudian kita akan mengetahui bahwa dirinya pun berada dalam sebuah dilema. Gajinya sebagai detektif di kepolisian tidaklah besar. Padahal saat itu istrinya sedang mengalami koma dan butuh biaya perawatan yang besar. Fakta ini membuatnya berada dalam dilema yang luar biasa. Maka satu cara yang paling cepat untuk mendapatkan uang banyak adalah dengan membantu pengedar obat bius. Penggerebekan terhadap kelompok yang dipimpin Sang-tae pada awal cerita pun ternyata menjadi bagian dari skenarionya dengan pengedar obat bius yang ia bantu.</p>
<p>Lalu muncul tokoh lain, Min-woo. Pemuda yang satu ini jatuh cinta pada seorang gadis yang senantiasa melintasi tempat kosnya. Hari demi hari berlalu, cintanya semakin besar. Sampai ia mendapati bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih. Dan pada suatu malam, terdorong oleh sikap histeris sang gadis ketika ia sapa, ia malah membawa gadis tersebut ke hutan dan memperkosanya.</p>
<p>Min-woo dan Detektif Kang merupakan dua sosok yang silih berganti dikisahkan. Setelah diselingi oleh aksi balas dendam kelompok Sang-tae, kelompok yang digerebek Detektif Kang pada awal cerita, kita akan segera mendapati pertalian Detektif Kang dengan Min-woo. Dan di sinilah hal paling menarik dari film ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Plot yang non-linear</strong><br />
Menyaksikan film dengan plot yang linear memang menyenangkan. Kita tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Sebaliknya dengan film berplot non-linear. Butuh perhatian ekstra untuk memahami jalan ceritanya. Bahkan tak jarang kita harus menyasikannya berkali-kali.</p>
<p>”Beautiful Sunday” tergolong film yang tidak menggunakan plot linear. Alurnya bukan alur maju, melainkan maju-mundur. Bagi kebanyakan orang, alur yang begini memang akan sulit diikuti. Sementara bagi sebagian orang, plot seperti ini justru sangat menantang. Karena penonton akan ditantang untuk merajut setiap fakta yang ada untuk kemudian menyimpulkan jalan cerita yang sebenarnya.</p>
<p>Sampai akhir cerita, kebanyakan orang tentu akhirnya akan mempertanyakan apa hubungan Detektif Kang dengan Min-woo. Termasuk mempertanyakan siapa yang melakukan pembunuhan terhadap kelompok Sang-tae. Apalagi kehadiran Min-woo justru memberi kesan bahwa film ini mengisahkan dua tokoh yang berbeda. Sehingga bagi sebagian orang mungkin akan menantikan saat-saat ketika Detektif Kang bertemu dengan Min-woo. (Dan hal ini justru baru terwujud pada bagian akhir film ini.)</p>
<p>Ketika Detektif Kang dan timnya diperhadapkan pada kasus perkosaan, saya sendiri langsung mengaitkan kasus itu dengan Min-woo. Alasannya, Min-woo telah melakukan perkosaan. Adegan kejar-kejaran dengan tersangka, menimbulkan kesan bahwa dugaan tersebut benar. Apalagi ketika mereka gagal menangkap tersangka, fokus diarahkan kembali pada Min-woo.</p>
<p>Plot yang berulang-ulang ini akan terus kita temukan sampai akhir cerita.</p>
<p><strong>Pertarungan kepribadian</strong><br />
Film ini memang tidak sekadar mengisahkan tentang polisi memilih menjadi korup karena keadaan. Film ini juga mengangkat masalah psikologi. Saat selesai menyaksikan film ini kita akan menyadari bahwa Min-woo merupakan sosok masa lalu Detektif Kang. Sehingga muncullah konflik batin dalam pribadi yang telah berlumuran dosa ini.</p>
<p>Secara psikologis, pribadi Min-woo memang menarik. Semula, ia sangat mencintai Su-yeon. Namun, ia malah memerkosa Su-yeon. Dan yang menarik, tatkala kembali bertemu, cintanya tidak pudar. Ia seakan hendak menebus dosa-dosanya dan mulai mendekati Su-yeon dengan cara yang lebih halus. Di sini untuk sejenak, kita akan dihadapkan pada adegan-adegan romantis yang mungkin akan membuat kita lupa sejenak bahwa kisah romantis itu bukan kisah utama dalam film ini. Dan meskipun diingatkan kembali akan dosanya melalui buku yang ia rusak, Min-woo ternyata bergeming untuk mencintai Su-yeon, bahkan menikahinya.</p>
<p>Meskipun demikian, dosanya tidak bisa ditutup-tutupi. Sampai ia berhubungan intim dengan Su-yeon yang sebenarnya saat itu tengah mengandung anak mereka. Tindakan yang didorong hawa nafsu ini memberi dampak ganda. Tidak hanya mengingatkan Su-yeon akan pemerkosanya pada masa lalu, tetapi juga mengakibatkan janin yang di kandungannya tidak bisa berkembang lagi.</p>
<p>Mengenai hal ini, saya menyatakan pandangan yang berbeda dengan sebuah blog lain. Di sana disebutkan bahwa Su-yeon mengaborsi bayinya. Namun setelah saya cermati, yang sebenarnya terjadi adalah ia semula hendak mengaborsi, namun membatalkannya. Kemudian ia mendapatkan informasi bahwa masa pergerakan bayinya sudah berakhir. Dan ini berarti ia mengalami keguguran. Buktinya, ia sangat terkejut ketika mendapatkan informasi tersebut. Ia menangisi keadaannya sambil berusaha menghibur diri dengan minuman. Sampai kemudian ia mengalami histeris karena melihat suaminya sendiri.</p>
<p>Bagi Su-yeon sendiri, fakta bahwa suaminya merupakan pemerkosanya menimbulkan guncangan yang besar. Reaksi semula berupa penolakan. Dalam sebuah adegan setelah mereka berhubungan intim, ia menunjukkan raut wajah yang tidak percaya. Namun, saat mengetahui bahwa janinnya tidak mungkin hidup, ia mulai histeris. Apalagi ketika menemukan kalung yang ia pakai ketika Min-woo memerkosanya. Pada satu sisi, rasanya memang wajar jika akhirnya Su-yeon membenci Min-woo yang ternyata menghancurkan impiannya menikah dengan pria yang semula ia cintai.</p>
<p>Dosa yang satu melahirkan dosa yang lain. Setelah sebelumnya melakukan perkosaan terhadap Su-yeon, Min-woo justru mencelakakan Su-yeon, yang mengakibatkan sang istri mengalami koma yang sangat panjang. Keadaan ini pula yang kemudian mendorong Min-woo (Detektif Kang) untuk melakukan kongkalikong dengan bos obat bius. Namun, tidak hanya Su-yeon, saudara Su-yeon juga celaka karena memergoki Min-woo. Maka, secara kronologis, lengkaplah dosa Min-woo pada bagian awal ini.</p>
<p>Tampaknya Kang Min-woo baru menjadi detektif setelah tanpa sengaja menusuk Su-yeon itu. Terdorong oleh rasa cinta bercampur rasa bersalah, ia berusaha menyelamatkan nyawa Su-yeon yang terus terbaring di rumah sakit. Itulah sebabnya, ia nekad bekerja sama dengan kelompok pengedar obat bius tertentu, menggulingkan kelompok Sang-tae.</p>
<p>Dengan demikian, kita bisa mendaftarkan dosa-dosa Kang Min-woo. Pertama, ia memerkosa Su-yeon. Lalu ia berperan menggugurkan anaknya sendiri hanya karena terdorong oleh hawa nafsu. Yang ketiga, tindakannya (yang menurut saya) gegabah, akhirnya mencelakakan Su-yeon dan saudaranya. Min-woo juga terlibat dengan kelompok pengedar obat bius dan dengan demikian melakukan tindakan yang berlawanan dengan profesinya sebagai penegak hukum. Kelima, ia membunuh Sang-tae, menyusul dengan kaki tangannya, bahkan seorang lain yang menyaksikan perbuatannya.</p>
<p><strong>Nurani<br />
</strong>Apakah ada peran nurani pada tokoh Kang Min-woo? Sangat mungkin. Saya kira, bila nuraninya tidak tergerak, ia tidak akan mencari Su-yeon. Sayangnya, ia mengira dengan menikahi Su-yeon, dosanya bisa ditebus. Padahal, ia hanya mengubur perbuatannya pada masa lalu.</p>
<p>Sosok Min-woo yang kemudian, Detektif Kang, mungkin juga tergerak oleh nuraninya. Ia menyadari bahwa dirinya terbeban dosa sedemikian berat. Istrinya tidak kunjung pulih dari kondisi koma. Sementara kelompok Sang-tae mulai mengetahui latar belakangnya. Saya kira, salah satu dorongan ia menghabisi kelompok Sang-tae ialah keinginan untuk melindungi istrinya. Selain itu, dengan menyingkirkan Sang-tae, setidaknya ia akan terlepas dari rong-rongan Sang-tae. Mungkin juga ia berharap kematian Sang-tae dan tangan kanannya itu akan meringankan beban kepolisian.</p>
<p>Pada bagian akhir, Kang Min-woo tampak menemui istrinya. Menyatakan penyesalannya yang mendalam. Itulah hari Minggu, hari di mana pergulatan psikologinya memuncak. Sampai akhirnya, ia berhadapan dengan masa lalunya di kantor kepolisian. Dan akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya.</p>
<p><strong>Fatalisme</strong><br />
(Seperti saya katakan sebelumnya) film ini menggambarkan sisi psikologi manusia dengan sangat menarik. Manusia dalam keberdosaannya akan berhadapan dengan rasa bersalah yang begitu dalam. Ia ingin menebus dosa-dosanya. Bahkan akan berusaha melakukan apa saja demi menghapus noda masa lalunya. Namun, sering kali upaya untuk menebus dosa itu malah mendorong perbuatan dosa yang lain. Kejahatan yang satu akan diikuti oleh kejahatan yang lain. Dan ketika semua itu mencapai puncaknya, manusia menganggap dapat menebus dosanya dengan kematiannya.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah hal tersebut yang ada dalam benak setiap orang yang bunuh diri. Akan tetapi, anggapan yang paling umum memang, kematian bisa melepaskan kita dari problem dunia. Dan di sinilah saya kira perangkap kegelapan itu ditaruh. Karena hal itu menandakan ketiadaan pengharapan.<strong> </strong></p>
<p><strong>Sutradara dan para pemeran</strong><br />
Cukup mengejutkan, film ini ternyata merupakan garapan pertama sutradara Jin Kwang-gyo. Kejeliannya membangun jalan cerita membuat penonton bertanya-tanya. Keputusannya menghadirkan karakter Detektif Kang dan Min-woo yang tampak begitu berbeda juga saya anggap keberhasilannya membingungkan penonton, setidaknya saya. Apalagi ia menggunakan dua pemeran yang berbeda, Park Yong-woo dan Namgung Min.</p>
<p>Salah satu keberhasilan sang sutradara ialah menjebak kita sampai mengira Detektif Kang dan Min-woo adalah dua sosok berbeda, bahkan sampai bagian akhir cerita. Setelah tanpa sengaja mencelakakan Su-yeon dan menusuk saudara perempuannya yang memergoki Min-woo, kita diarahkan pada pembunuhan Sang-tae. Dan ketika pada akhirnya Detektif Kang dan Min-woo berhadapan, kita diarahkan untuk menduga bahwa Min-woolah pembunuh Sang-tae, dan kita menganggapnya demikian karena pakaian yang ia kenakan. Kita sama sekali tidak mengira bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan dalam batin Detektif Kang. Dosa-dosanya selama ini sudah terakumulasi sedemikian rupa. Dan pada hari Minggu itu, ketika hanya ada dirinya sendiri di ruang kerja kepolisian, dosa-dosanya itu bangkit melawan dirinya.</p>
<p>Adapun akting Park Yong-woo dan Namgung Min menurut saya juga memesona. (Tentu tanpa merendahkan akting para pemeran lainnya, semisal Min Ji-hye, Kim Eung-soo, dan yang lainnya.) Park Yong-woo berhasil memerankan sosok detektif yang kehilangan jiwanya, tampak tidak memiliki semangat lagi. Menurut saya, ia sukses menggambarkan pribadi yang tengah mengalami pergulatan yang teramat sangat. Sementara Namgung Min berhasil mewujudkan ekspresi yang terkesan sebagai pria baik-baik, yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ekspresinya saat kembali bertemu Su-yeon yang menghindar darinya juga saya kira sangat baik. Tatapan matanya yang sedemikian di satu sisi punya banyak makna, seolah tatapan itu siap melakukan apa pun untuk mendapatkan cinta Su-yeon lagi.</p>
<p>Sebagai awal, karya Jin Kwang-gyo ini menurut saya amat berhasil. Sangat memikat. Maka patut disaksikan apakah garapannya yang kedua, ketiga, dan selanjutnya akan bisa menghadirkan nuansa yang bisa menyaingi film ini atau melebihinya. Atau jangan-jangan akan mengecewakan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=14&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/07/21/beautiful-sunday-sebuah-pergulatan-psikologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i185.photobucket.com/albums/x38/truonghuyhoang/Movie/Poster/beautiful.sunday7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Beautiful Sunday</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Miryang: Ketika Iman Bertemu Realita</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/miryang-ketika-iman-bertemu-realita/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/miryang-ketika-iman-bertemu-realita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 05:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Korea]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jeon Do-yeon]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Chang-dong]]></category>
		<category><![CDATA[Song Kang-ho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda penggemar film Korea, sesekali Anda mungkin akan menemukan penggunaan simbol-simbol maupun dialog-dialog Kristen pada sejumlah film. Dalam ”Beautiful Sunday”, misalnya, Detektif Kang digambarkan berdoa sambil mabuk di tengah hujan di hadapan figur Bunda Maria. Dalam film ”Jail Breakers”, karakter yang diperankan oleh Cha Seung-won menuturkan bagaimana ia menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=5&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Miryang" src="http://i97.photobucket.com/albums/l224/stephsioco/K-Movies/SecretSunshine.jpg" alt="" width="308" height="431" />Kalau Anda penggemar film Korea, sesekali Anda mungkin akan menemukan penggunaan simbol-simbol maupun dialog-dialog Kristen pada sejumlah film. Dalam ”Beautiful Sunday”, misalnya, Detektif Kang digambarkan berdoa sambil mabuk di tengah hujan di hadapan figur Bunda Maria. Dalam film ”Jail Breakers”, karakter yang diperankan oleh Cha Seung-won menuturkan bagaimana ia menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya.</p>
<p>Namun, kita agak sulit menyebutkan film-film itu sebagai film yang bertema religius Kristen. Sebab daripada mengisahkan perihal kekristenan, film-film tersebut lebih banyak berbicara soal kondisi psikologis (”Beautiful Sunday”) dan upaya mendapatkan kebebasan (”Jail Breakers”). Tentu terlepas dari simbol-simbol yang digunakan dalam film-film tersebut.</p>
<p><span id="more-5"></span>Maka muncul pertanyaan, adakah film Korea yang menggambarkan pergumulan iman Kristen masyarakatnya? Pertanyaan ini rasanya sah-sah saja muncul. Pertama, sebagai salah satu negara dengan jumlah orang Kristen terbesar di Asia (bahkan dunia; konon di Seoul saja ada sekitar 7.000 gereja!), wajar kalau kita berharap menyaksikan film Kristen yang digarap oleh sineas Korea. Kedua, menurut saya, film yang mengisahkan kekristenan Korea, tidak hanya akan membantu kita memahami bagaimana keadaan kekristenan di Korea, tetapi juga memperkaya khazanah-film bertema religius lain, misalnya ”Spring, Summer, Fall, Winter, &#8230; and Spring” garapan Kim Ki-duk.</p>
<p>”Miryang” mungkin menjadi salah satu film yang mengangkat tema kekristenan secara eksplisit. Film ini menggambarkan bagaimana seseorang yang bertobat, terlibat dalam pelayanan, kemudian berbalik menyangkali pertobatannya karena tragedi hidup yang ia hadapi. Pola seperti ini rasanya tidak terlalu asing bagi kita. Terutama ketika kekristenan dianggap sekadar pemenuhan kebutuhan dengan Tuhan sekadar penyedia keinginan manusia inginkan.</p>
<p>Dikisahkan seorang wanita, Lee Shin-ae bersama putranya, pindah ke kota kecil bernama Miryang, sebuah kota kecil di di wilayah Gyeongsangbuk-do, sebelah barat daya kota Busan. Kota ini merupakan kota kelahiran suaminya. Di sini pula ia berkenalan dengan Kim Jong-chan, seorang ”bujang lapuk” yang membuka usaha bengkel mobil. Belakangan, Jong-chan menyukai Shin-ae dan melakukan banyak hal untuk membantu Shin-ae, meskipun keberadaannya sering kali dianggap mengganggu oleh Shin-ae.</p>
<p>Kepindahan Shin-ae dan putra semata wayangnya ini tampaknya merupakan semacam pelarian. Dalam percakapan malam hari dengan adiknya yang datang dari Seoul, perihal pelarian diri ini tampak dengan jelas ketika ia mengatakan betapa ia membenci Seoul dan lebih senang dengan kota kecil yang menjadi tempat tinggalnya saat ini karena dengan demikian, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Di sini tidak disebutkan secara jelas apa yang menyebabkan pelariannya kecuali kemungkinan perselingkuhan sang suami yang menyebabkan banyak orang menggunjingkannya sampai membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Namun, ia berkeras pada sang adik bahwa dirinya sama sekali tidak percaya gosip itu. Jika menerima anggapan Shin-ae terhadap suaminya, tampaknya sang suami memang meninggal daripada pergi meninggalkan Lee dan anaknya dengan wanita lain. Kemungkinan lain, sebelum meninggal, suaminya digosipkan selingkuh dengan wanita lain.</p>
<p>Ada beberapa hal yang menarik dari film ini. Pertama, pertobatan Shin-ae muncul tidak lama setelah anaknya dibunuh oleh supir yang sehari-harinya menjemput dan mengantar putra Shin-ae ke sekolah. Semula modus kejahatan berupa penculikan dengan penebusan sejumlah uang. Namun, malah berbuntut pada pembunuhan. Kemungkinan karena jumlah yang diminta (kita tidak pernah tahu berapa jumlah yang diminta, namun dari salah satu adegan kita melihat Shin-ae mengurangi jumlah uang tebusannya). Terguncang dengan kematian putra satu-satunya, kakinya membawa Shin-ae ke sebuah kebaktian. Shin-ae pun mendapat penghiburan dari pasangan penginjil yang sebelumnya memberikan Alkitab pada awal kepindahan Shin-ae ke Miryang. Ia mengalami pertobatan lalu mulai mengikuti berbagai persekutuan doa, rajin ikut kebaktian.</p>
<p>Kedua, pertobatan bisa berubah menjadi pengkhianatan. Di sini, kita diperhadapkan pada realita pengampunan. Shin-ae mengalami sulitnya mengampuni pembunuh putranya itu. Lalu ketika ia merasa sudah mengampuni, ia ingin menyatakan pengampunannya ini pada pembunuh putranya. Tidak disangka, pelayanan di penjara sudah mempertobatkan si pembunuh itu juga. Karena merasa Tuhan sudah mengambil alih hal yang harusnya ia kerjakan, Shin-ae berbalik dari iman Kristennya. Ia bahkan memusuhi Tuhan, melakukan sabotase pada acara KKR, bahkan menantang Tuhan dengan upaya membunuh dirinya sendiri. Ia juga berusaha menggoda suami dari tetangga yang sebelumnya memberikan Alkitab padanya.</p>
<p>Hal ketiga, keberadaan orang lain di sekitar kita sering dipakai Tuhan untuk menopang kita dalam keadaan terburuk sekalipun. Peran ini menurut saya dilakukan oleh Jong-chan. Meski dianggap menyebalkan karena terkesan selalu ikut campur, Jong-chan hampir selalu ada di samping Shin-ae. Karena menyukai Shin-ae, ia juga mulai ke gereja, tidak merokok, bahkan mengikuti kegiatan gereja. Namun, ia jugalah yang tetap mendampingi Shin-ae sampai akhir cerita.</p>
<p>Hal keempat, motivasi pertobatan yang tidak baik, takkan menyembunyikan sikap dasar seseorang. Sekali lagi, figur Jong-chan di sini mencerminkan hal tersebut. Ia menjadi seorang Kristen hanya di depan Shin-ae. Di belakang, ia sering mengumpat, juga diam-diam merokok. Dengan kata lain, untuk memenangkan hati Shin-ae ia pun ikut ke gereja.</p>
<p>”Miryang” digarap oleh salah seorang sutradara kenamaan Korea, Lee Chang-dong. Film ini merupakan film keempatnya. Tiga filmnya yang lain ialah”Green Fish” (1997), ”Peppermint Candy” (1999), dan ”Oasis” (2002). ”Miryang” juga menjadi film pertamanya setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Kebudayaan. Bagi Lee Chang-dong, menggambarkan sesuatu yang tidak mudah dilihat merupakan salah satu hal penting yang ingin ia kerjakan, dan iman merupakan salah satunya. Tidak heran, untuk tujuan penting ini, bintang film kenamaan pun turut dipanggil. Yang memerankan janda Shin-ae ialah Jeon Do-yeon, terkenal melalui film ”Happy End” (1999) dan ”You Are My Sunshine” (2005). Sementara sosok Kim Jong-chan diperankan oleh Song Kang-ho, yang juga bermain dalam  ”The Host” (2006) dan ”The Show Must Go On” (2007).</p>
<p>Kalau kita cermati, film ini sendiri memang menyimpan makna yang dalam. Bisa saja kita mempertanyakan, pertobatan macam apa yang dialami Shin-ae? Atau, pembinaan macam apa yang diberikan gereja kepada Shin-ae sampai ia akhirnya membenci Tuhan? Lee Chang-dong sendiri mengakui bahwa ia menggambarkan kehidupan Kristen apa adanya sehingga pada beberapa bagian, film ini menggunakan pendekatan dokumenter.</p>
<p>Bagi Lee Chang-dong sendiri, film ini menekankan bahwa makna kehidupan itu tidak jauh dari tempat di mana kita berada, bukan di atas, melainkan di dalam kehidupan nyata kita. Hal ini digambarkan begitu kontras dalam film ini pada awal dan akhir cerita. Perhatikan bagian awal yang menyoroti langit yang luas, dengan bagian akhir yang menyorot ke tanah.</p>
<p>Film ini meraih sejumlah penghargaan. Dalam tahun 2007 saja, film ini meraih penghargaan Best Picture dan Best Director pada Korean Film Awards, dan Special Award pada Grand Bell Awards. Lalu pada tahun 2008, film ini meraih penghargaan Best Film dan Best Director pada Asian Film Awards. Penghargaan ini mungkin bisa menjadi pertanda bahwa film yang bertema kekristenan pun pantas mendapat penghargaan.<br />
Satu hal yang mungkin patut disayangkan, film ini belum dihadirkan secara resmi di Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=5&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/miryang-ketika-iman-bertemu-realita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i97.photobucket.com/albums/l224/stephsioco/K-Movies/SecretSunshine.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Miryang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hero: Sebuah Paradoks?</title>
		<link>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/hero-sebuah-paradoks/</link>
		<comments>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/hero-sebuah-paradoks/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 05:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Mandarin]]></category>
		<category><![CDATA[Donnie Yen]]></category>
		<category><![CDATA[hero]]></category>
		<category><![CDATA[Jet Li]]></category>
		<category><![CDATA[Maggie Cheung]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[paradoks]]></category>
		<category><![CDATA[Tony Leung]]></category>
		<category><![CDATA[Zhang Yimou]]></category>
		<category><![CDATA[Zhang Zhi Yi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yeonghwaaein.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pada mulanya, saya kurang suka film Mandarin. Saya lebih suka menyaksikan film Jepang atau film Korea. Alasannya memang terlalu dangkal. Pada film Jepang maupun Korea, saya cenderung lebih bisa mengikuti pelafalannya. Berbeda dengan film-film Mandarin, meski saya tergolong penggemar Jackie Chan. Tidak heran kalau akhirnya saya terbilang jarang menyaksikan film Mandarin. Namun, oleh dorongan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=3&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" title="Hero" src="http://img.photobucket.com/albums/v239/keeneko/455px-Hero_poster.jpg" alt="" width="308" height="431" />Pada mulanya, saya kurang suka film Mandarin. Saya lebih suka menyaksikan film Jepang atau film Korea. Alasannya memang terlalu dangkal. Pada film Jepang maupun Korea, saya cenderung lebih bisa mengikuti pelafalannya. Berbeda dengan film-film Mandarin, meski saya tergolong penggemar Jackie Chan. Tidak heran kalau akhirnya saya terbilang jarang menyaksikan film Mandarin. Namun, oleh dorongan beberapa teman, baik langsung maupun tidak langsung, saya mulai melirik film Mandarin sebagai salah satu tontonan sekaligus bahan pelajaran.</p>
<p>Salah satu film yang direkomendasikan kepada saya adalah film &#8220;Hero”. Film yang dibintangi sejumlah bintang kenamaan ini terbilang film saga yang ternyata sangat menarik untuk dibahas. Tidak saja dari segi penuturannya (plot), tapi juga dari aksi laga, karakter, maupun filosofinya.</p>
<p><span id="more-3"></span> Sebagai film yang berlatar belakang sejarah Negeri Cina, film ini tentu sangat erat dengan nilai-nilai budaya Cina, khususnya pada zaman pradinasti di Cina. Hal itu sedikit banyak tentu tergambar dari kostum-kostum yang digunakan, atau senjata, atau kesenian yang diangkat dalam film ini (musik, kaligrafi). Namun, bukan kapasitas saya untuk membahas hal-hal tersebut secara mendalam. Cukuplah di sini disebutkan bahwa desain kostum, senjata, maupun kesenian lain yang muncul tentu dihadirkan dengan mengupayakan kedekatan dengan apa yang lazim pada zaman itu.</p>
<p><strong>Jalan Cerita</strong></p>
<p>Secara sederhana, film ini merupakan salah satu film yang bermotif balas dendam. Meski demikian, tidak seperti film-film laga bermotif serupa, &#8220;Hero” menghadirkan lebih daripada sekadar upaya memenuhi tujuan utama dari tokoh protagonis. Dan di sinilah salah satu keunggulan film ini.</p>
<p>Alkisah, dua ribu tahun lampau, Cina terbagi menjadi tujuh kerajaan. Pada masa itu, masing-masing kerajaan saling berperang. Bertahun-tahun lamanya ketujuh kerajaan itu berperang untuk menunjukkan kedigdayaan masing-masing. Dan seperti kebanyakan perang, rakyatlah yang paling menderita. Lalu muncullah Kaisar Qin, raja yang paling gigih berjuang untuk menaklukkan seluruh Cina di bawah kekuasaannya. Dan ia dianggap sebagai musuh bersama oleh enam kerajaan lain. Dikisahkan, sejumlah pembunuh dikirim untuk membunuh Kaisar Qin.</p>
<p>Tersebutlah tiga pendekar kungfu yang paling ditakuti oleh Kaisar Qin. Flying Snow (diperankan oleh Maggie Cheung), Broken Sword (Tony Leung), dan Sky (Donnie Yen). Dan seorang prajurit biasa, Nameless (Jet Li) berhasil menaklukkan mereka bertiga.</p>
<p><strong>Cerita di Dalam Cerita</strong></p>
<p>Film Hero ini bisa kita anggap sebagai salah satu film yang menyusupkan sejumlah cerita di dalam cerita. Hal ini pertama-tama ditunjukkan oleh Nameless yang menceritakan kisah bohong bagaimana ia bertarung dan mengalahkan tiga pendekar kungfu yang ditakuti oleh Sang Kaisar. Menariknya, dari adegan-adegan yang ditampilkan, penonton diajak untuk meyakini kisah yang dituturkan oleh Nameless. Mulai dari bagaimana ia mengalahkan Sky, mengadu domba Flying Snow dan Broken Sword, lalu menaklukkan Flying Snow dalam duel.</p>
<p>Namun, Sang Kaisar ternyata bukan orang yang bisa ditipu begitu saja. Di sini ia menunjukkan kecerdasannya dan dalam waktu yang terbilang singkat, ia bisa menganalisa cerita karangan Nameless. Maka di sini penonton diajak untuk mendengarkan Sang Kaisar yang menuturkan versi cerita yang mendekati kejadian sebenarnya.</p>
<p>Memang bagi saya cukup mencurigakan juga kalau tokoh-tokoh yang diperankan oleh Maggie Cheung dan Tony Leung, apalagi Donnie Yen, harus kalah begitu saja. Seakan-akan nama mereka kalah tenar ketimbang Jet Li. Dan memang kemudian, Flying Snow dan Broken Sword memainkan peranan yang sangat penting dalam film ini. Bahkan kemudian, penonton akan mendapati bahwa bersama Nameless, keduanya merupakan tokoh protagonis. Sejak Nameless mengungkapkan cerita versinya sampai akhir cerita, ketiga tokoh ini menunjukkan peran yang dominan.</p>
<p>Pada sisi yang lain, saya kira penceritaan seperti itu mengalihkan penonton dari sudut pandang orang ketiga, ke sudut pandang Nameless, lalu beralih lagi ke sudut pandang Sang Kaisar, dan akhirnya kembali ke sudut pandang orang ketiga. Dengan demikian, kita mendapatkan keunikan berikut dari film ini.</p>
<p><strong>Nilai Filosofis</strong></p>
<p>Seperti dikemukakan seorang teman, film ini kaya akan muatan filosofis. Dengan kacamata awam saya, saya sepakat dengan pendapat teman saya ini. Salah satunya kita bisa lihat dalam tuturan strategi Nameless mengalahkan Broken Sword dan Flying Snow. Untuk misinya ini, ia menyamar sebagai seorang murid kaligrafi. Disebutkan bahwa ilmu pedang dan ilmu kaligrafi memiliki nilai intrinsik yang sama, memiliki prinsip yang sama. Dan esensi dari kaligrafi bersumber dari jiwa, sebagaimana halnya ilmu pedang, keduanya memiliki hasrat akan kebenaran dan kesederhanaan. Tidak heran kalau Nameless mengaku berusaha menemukan kelemahan Broken Sword dengan mempelajari ilmu kaligrafi jago pedang tersebut.</p>
<p>Hal ini sepertinya sekaligus menggambarkan bahwa dalam ilmu bela diri, bukan hanya masalah fisik yang perlu ditempa. Masalah mental menjadi hal yang vital, yang perlu ditempa. Maka ketika dalam berbagai cerita silat lain, seorang jago kungfu semakin tinggi ilmunya setelah bertapa, hal ini tampaknya bukan sekadar bumbu cerita, melainkan semacam fakta. Dengan menempa mental, ilmu akan bertambah pula. Dalam konteks film ini, dengan meningkatkan kemampuan kaligrafi, ilmu pedang bisa semakin disempurnakan dan semakin tajam.</p>
<p>Hal berikutnya, berkenaan dengan karakter &#8220;pedang” yang dilukiskan oleh Broken Sword. Karakter tersebut bukan sekadar teknik pedang, melainkan nilai ideal seni pedang. Pertama-tama, yang harus dicapai ialah kesatuan manusia dengan pedang. Kalau ini terwujud, bahkan rumput pun bisa menjadi senjata. Pencapaian kedua, ketika pedang hadir di dalam hati manusia. Bila terwujud, musuh sejauh seratus langkah pun bisa dijatuhkan. Namun, pencapaian yang paling utama dari seni pedang ialah ketiadaan pedang itu sendiri, baik di tangan, maupun di dalam hati. Dan ini berarti kedamaian di bumi. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk membawa damai di bumi.</p>
<p>Dalam adegan-adegan yang menyusul, kita bisa melihat sisi kebudayaan yang ditampilkan film ini, kaligrafi Cina. Saya kira, sebagai seni, kaligrafi merupakan salah satu seni yang sangat tinggi nilainya. Setahu saya, ada urut-urutan dalam menggoreskan setiap karakter. Bahkan konon tingkat ketebalan goresan memberikan makna yang berbeda. Dan film ini cukup menggambarkan hal tersebut lewat sejumlah adegan. Salah satunya, ketika Broken Sword menggambarkan karakter pedang dengan kuas dan cat merah, selagi Nameless dan Flying Snow menghalau ribuan anak panah yang mengarah ke sekolah kaligrafi. Adegan lain yang saya kira berusaha menggambarkan hal ini ialah ketika Broken Sword menuliskan kata yang berarti &#8220;di bawah surga”. Sayangnya, tidak digambarkan seperti apa karakter tersebut.</p>
<p><strong>Mendefinisikan &#8220;Hero”</strong></p>
<p>Melalui film ini, penonton dihadapkan pada pemahaman bahwa seorang yang disebut pahlawan merupakan seorang yang berani berkorban demi suatu nilai. Pertama, Broken Sword memberikan nyawanya ke tangan kekasihnya sendiri, hanya agar kekasihnya memahami makna pengorbanan yang ia lakukan. Menyadari kekeliruannya selama ini, Flying Snow menyusul kematian Broken Sword. Terakhir, Nameless sendiri, meski berkesempatan untuk membunuh Sang Kaisar, memilih tidak membunuh Sang Kaisar, setelah menyadari visi yang dimiliki Sang Kaisar, berkenaan dengan pemahaman karakter “pedang” dalam aksara Cina.</p>
<p>Broken Sword ternyata memahami bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar membunuh Sang Kaisar. Membunuh Kaisar Qin, tidak akan menyelesaikan masalah. Peperangan akan terus berlanjut. Artinya, orang banyak akan mengalami penderitaan lebih lama lagi. Demi mencapai nilai inilah, ia rela mengorbankan nyawanya. Demikian pula dengan Nameless yang menyadari hal ini kemudian.</p>
<p>Pada sisi yang lain, film ini menggambarkan nilai kepahlawanan secara berbeda. Sekilas film ini terkesan membela tirani yang diperankan oleh Kaisar Qin. Namun, yang dibela oleh Broken Sword dan Nameless sesungguhnya rakyat dari ketujuh kerajaan tersebut. Ada keyakinan bahwa dengan kekuatannya, Kaisar Qin mampu menyatukan Cina, sesuatu yang kemudian ia wujudkan pada tahun 221 SM dan memulai era dinasti kerajaan di Cina.</p>
<p>Pertanyaannya mungkin, mengapa Nameless akhirnya tetap dieksekusi, namun diberi pemakaman layaknya pahlawan? Tampaknya, eksekusi terpaksa dilakukan karena ia memiliki niat membunuh Sang Kaisar. Bila kaisar membebaskan Nameless begitu saja, Sang Kaisar akan dianggap sebagai raja yang tidak adil. Namun karena telah menyadarkan Sang Kaisar akan nilai mulia yang pantas diperjuangkan, Nameless dianggap layak diberi penghormatan.</p>
<p>Meskipun demikian, sebagaimana disampaikan seorang teman, memang patut juga dipertanyakan ialah &#8220;untuk siapakah dia mati”. Apakah seorang hero boleh mati atas nilai-nilai yang keliru? Apakah hero harus selalu mati untuk kebenaran? Apakah Nameless mati demi kebenaran?</p>
<p>Rasanya tidak juga. Sampai saat terakhir, dia sepertinya masih menyimpan keinginan untuk membunuh Kaisar. Kalau boleh dibilang, ia benar-benar tak jadi membunuh Kaisar hanya karena Kaisar mengungkap nilai ideal karakter &#8220;pedang”. Kita sulit mengetahui hal ini. Bukankah bisa saja Kaisar itu sekadar mengungkapkan nilai ideal yang terkandung dalam karakter “pedang” itu tanpa maksud mewujudkannya? Tapi kalau sudah sampai di sini, kita mesti melihat sejarah juga. Apakah sebagai Kaisar pertama Cina, ia memerintah dengan adil dan bijaksana atau dengan tangan besi? Oleh karena itu, berkaitan dengan definisi Hero, rasanya menarik juga melihat komentar sutradara dan beberapa pemeran soal hero atau pahlawan itu.</p>
<ul>
<li> Hero is someone who behaves in an extraordinary way in unusual circumstances. (Zhang Yimou)</li>
<li>Hero is a noun. How one define a hero will change over the course of growing up. (Jet Li)</li>
<li> Since I was young, my ideal of a hero has been someone like Superman or Spiderman, because they are willing to sacrifice their lives for others. (Tony Leung)</li>
<li>A hero is an ordinary person performing an extraordinary task. (Zhang Zi Yi)</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yeonghwaaein.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yeonghwaaein.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yeonghwaaein.wordpress.com&amp;blog=8332213&amp;post=3&amp;subd=yeonghwaaein&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yeonghwaaein.wordpress.com/2009/06/26/hero-sebuah-paradoks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b43a08ab647b9564d58084dece06e9f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesiasaram</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.photobucket.com/albums/v239/keeneko/455px-Hero_poster.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hero</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
