Perjuangan Kaum Imigran dalam “Shinjuku Incident”
Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang menjadi negeri tujuan bagi banyak warga negara dunia. Negara-negara Asia Tenggara, Cina, Korea, bahkan negara seperti Amerika Serikat turut mengagumi negeri ini. Khusus Cina dan Korea, agak unik memang karena pada satu sisi mereka sangat membenci Jepang karena melakukan invasi dalam Perang Dunia II. Namun, mereka malah menyukai Jepang karena budaya populer yang berkembang.
Daya tariknya tentu tidak sebatas budaya populer. Banyak orang yang berniat ke Jepang untuk mendapatkan kesuksesan hidup: berusaha mendapat pekerjaan dan penghasilan yang baik. Sebagian melalui jalur resmi, sementara banyak pula yang masuk lewat jalur ilegal. Data dari pihak imigrasi menyebutkan, lebih dari 4.000 orang Cina masuk ke Jepang secara ilegal dalam lima tahun dan satu setengah tahun terakhir (Migration News, 1994). Kebanyakan mereka diselundupkan.
Departures: The Gift of the Last Memories

Mencintai pekerjaan adalah hal yang sangat penting. Jika tidak mencintainya, sebagus apa pun gaji yang ditawarkan, tentu tidak akan membuat kita bahagia. Namun, apa jadinya kalau kita malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat kita cintai?
Mungkin begitu kira-kira perasaan Kobayashi Daigo ketika orkestra tempatnya bergabung terpaksa dibubarkan. Sebagai pemain cello, ia sangat senang berada bersama orkestra tersebut. Ia sendiri baru saja membeli sebuah cello seharga 18 juta yen. Sayangnya, dari sekian pertunjukan yang mereka bawakan, tidak banyak yang mau menyaksikan pertunjukan mereka. Pemilik orkestra pun terpaksa membubarkan kelompok orkestranya. Dan bagi Daigo, hal ini berarti bencana.
Tidak seperti dugaan saya sebelumnya, film ini sama sekali tidak berhubungan dengan dunia orkestra. Sebaliknya, dunia musik itu hanya sebagai pelengkap dari film ini. Musik menjadi bagian dari masa lalu dan masa kini Kobayashi Daigo, sesuatu yang bergeser dari profesi ke hobi.
Blood: Jeon Ji-hyeon in Action Mode

Berawal dari abad ke-16, Perang Onin yang membawa perang di seluruh Jepang memorak-porandakan Negeri Sakura itu. Lalu para iblis, mengambil rupa seperti manusia, hidup di tengah-tengah manusia hanya dengan tujuan memangsa mereka. Seorang samurai pemberani bernama Kiyomasa bangkit dan menjadi pemburu iblis. Sampai iblis tertua dan terkeji, Onigen, membantainya dengan brutal.
Beradab-abad berlalu sejak masa itu. Kegelapan pun kembali menguasai Jepang. Dan seperti pada masa lampau, muncul samurai misterius yang juga memburu para iblis itu. Ia bekerja sama dengan kelompok rahasia yang disebut The Council. Tujuannya hanya satu, memburu Onigen.
Jalan cerita
Begitulah kira-kira pengantar pada bagian pembuka film ini. Film yang mengisahkan tentang para vampir ini berseting di sebuah pangkalan militer AS di Jepang, pada tahun 1970. Ternyata tanpa diketahui orang banyak, Jepang telah diinvasi oleh para vampir. Adalah Saya, gadis setengah manusia, setengah vampir yang berperan sebagai pembasmi vampir. Dengan samurainya, ia bekerja sama dengan kelompok rahasia, The Council untuk mencapai tujuannya, mengalahkan Onigen yang telah membunuh ayahnya.
Beautiful Sunday: Sebuah Pergulatan Psikologis
Rasanya ada banyak film yang berkisah tentang polisi korup. Sebut saja misalnya, ”Public Enemy”. Dalam film tersebut dikisahkan Detektif Kang Chul-joong (Seol Kyung-gu) sebagai tokoh yang antihero, mencuri obat bius dari para pengedar, menyuap sana-sini, bahkan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ayah. Film ini pun salah satu yang bisa kita kategorikan ke dalamnya. Lalu apa istimewanya film ini?
Bagi penggemar film laga, saya kira film ini cukup memuaskan mereka. Berbagai adegan laga sangat menghias film ini, sebagaimana umumnya film-film yang bertema mafia, dan film-film laga lain. Otomatis sumpah serapah menjadi satu paket dengannya. Dengan demikian, film ini jelas tidak cocok ditonton oleh mereka yang belum dewasa.
Jalan cerita
Bagian awal film ini mungkin terkesan terlalu mendadak ditampilkan di awal. Meskipun demikian, justru adegan tersebut menjadi pembuka yang tepat untuk jalan cerita yang hendak dipilih oleh sang sutradara.
Sepertinya, sang sutradara ingin berkata, ”Nah, begini ini klimaksnya. Mau tahu bagaimana ceritanya sampai hal ini terjadi? Ikuti ceritanya.” Read more…
Miryang: Ketika Iman Bertemu Realita
Kalau Anda penggemar film Korea, sesekali Anda mungkin akan menemukan penggunaan simbol-simbol maupun dialog-dialog Kristen pada sejumlah film. Dalam ”Beautiful Sunday”, misalnya, Detektif Kang digambarkan berdoa sambil mabuk di tengah hujan di hadapan figur Bunda Maria. Dalam film ”Jail Breakers”, karakter yang diperankan oleh Cha Seung-won menuturkan bagaimana ia menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya.
Namun, kita agak sulit menyebutkan film-film itu sebagai film yang bertema religius Kristen. Sebab daripada mengisahkan perihal kekristenan, film-film tersebut lebih banyak berbicara soal kondisi psikologis (”Beautiful Sunday”) dan upaya mendapatkan kebebasan (”Jail Breakers”). Tentu terlepas dari simbol-simbol yang digunakan dalam film-film tersebut.
Hero: Sebuah Paradoks?
Pada mulanya, saya kurang suka film Mandarin. Saya lebih suka menyaksikan film Jepang atau film Korea. Alasannya memang terlalu dangkal. Pada film Jepang maupun Korea, saya cenderung lebih bisa mengikuti pelafalannya. Berbeda dengan film-film Mandarin, meski saya tergolong penggemar Jackie Chan. Tidak heran kalau akhirnya saya terbilang jarang menyaksikan film Mandarin. Namun, oleh dorongan beberapa teman, baik langsung maupun tidak langsung, saya mulai melirik film Mandarin sebagai salah satu tontonan sekaligus bahan pelajaran.
Salah satu film yang direkomendasikan kepada saya adalah film “Hero”. Film yang dibintangi sejumlah bintang kenamaan ini terbilang film saga yang ternyata sangat menarik untuk dibahas. Tidak saja dari segi penuturannya (plot), tapi juga dari aksi laga, karakter, maupun filosofinya.









